Negara Mana Miliki Cadangan Minyak Darurat Terbesar?
19 Maret 2026
Ketika 32 negara mulai mengeluarkan cadangan minyak mereka untuk menstabilkan harga minyak yang kian mahal, Iran semakin mempertajam serangan di kawasan Selat Hormuz.
Anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang merupakan gabungan negara pengguna energi terbesar di dunia setuju Rabu pekan lalu untuk melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan strategis mereka.
Namun langkah itu tidak membuat harga minyak turun, melainkan sebaliknya. Akhir pekan lalu harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar 100 dolar per barel.
Sementara itu Iran meningkatkan serangan di dekat Selat Hormuz, juga terhadap sejumlah kapal angkutan komersial termasuk tanker minyak dan kapal kargo.
Pemerintah Iran telah memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Padahal lewat selat tersebut negara-negara Teluk mengekspor seperlima minyak mentah dan gas, terutama ke Asia. Akibatnya lalulintas kapal kargo dan tanker terhenti.
Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab juga mengurangi produksi karena penyimpanan domestik mereka sendiri sudah mendekati kapasitas penuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasar energi.
Apa itu cadangan minyak strategis?
Cadangan minyak strategis adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah dan digunakan jika pasokan tidak berjalan lancar atau untuk keadaan darurat pasar.
Penyimpanan modern pertama dibuat oleh AS tahun 1975, setelah embargo minyak Arab menunjukkan bagaimana rentannya suplai energi global. Keterkejutan itu melipatgandakan harga minyak dan menyulut kurangnya bahan bakar di negara-negara Barat dan menyingkap kerentanan stabilitas ekonomi jika suplai menurun.
Sekarang, puluhan negara, terutama anggota IEA, memiliki simpanan strategis sebagai bagian sistem terkoordinasi untuk menjadi keamanan energi.
Anggota IEA memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barel, ditambah dengan sekitar 600 juta barel yang dimiliki sektor industri.
Diperkirakan, Cina memiliki penyimpanan darurat terbesar, diikuti AS. Perusahaan analisa energi dan angkutan, Vortexa memperkirakan Cina memiliki simpanan 1,3 miliar barel.
Cadangan tersebut diduga mampu menopang perekonomian Cina sampai tiga atau empat bulan.
Simpanan AS yang berjumlah 415 juta barrel, ditambah 439 juta barel yang dimiliki swasta, setara dengan suplai darurat selama lebih dari 40 hari.
Seberapa banyak minyak akan dilepas anggota IEA?
IEA menyatakan, anggotanya akan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan mereka. Untuk perbandingan, setelah Rusia menyerang Ukraina tahun 2022, minyak yang dilepas 182 juta barrel.
IEA menyatakan, stok akan dilepas secara berkala, tergantung situasi di setiap negara. AS memimpin dengan melepas 172 juta barel mulai pekan depan, dan akan berlangsung selama sekitar 120 hari. Jepang mengatakan akan melepas 80 juta barel. Kontributor lainnya adalah Jerman, Australia, Prancis, Korea Selatan dan Inggris.
IEA diperkirakan akan menyimpan sekitar 90 hari cadangan darurat impor minyak bersih. Pengekspor seperti Kanada, Meksiko dan Norwegia tidak memiliki cadangan darurat, namun dapat membuka cadangan komersial selama krisis.
Cina, yang bukan anggota penuh IEA tidak memberikan pengumuman serupa, melainkan memprioritaskan keamanan suplai domestik dengan menghentikan ekspor bahan bakar olahan.
Rencana ekonomi lima tahun terakhir di Beijing bahkan menetapkan penambahan cadangan minyak strategis.
Apakah simpanan minyak membantu menurunkan harga?
Analis industri minyak mengatakan, suntikan dari persediaan strategis dapat meringankan tekanan pada pasar minyak, namun jarang dapat menurunkan harga secara dramatis atau untuk waktu lama.
Langkah ini terutama berfungsi sebagai tanda persatuan dan suplai tambahan, dan meyakinkan pedagang bahwa pemerintahnya bersedia turun tangan jika kekurangan di pasar semakin menajam.
IEA mengungkap, pelepasan simpanan hanya menutupi sekitar tiga atau empat pekan kurangnya pasokan minyak dari daerah Teluk.
Jadi walalupun harga turun, diperkirakan efeknya tidak terlalu nampak, karena volume minyak yang dilepas kecil dibanding dengan 100 juta barrel per hari di pasar minyak global.
Analis David Morrison dari perusaah pialang Inggris Trade Nation menilai, harga minyak akan terus meningkat jika Hormuz tetap diblokade untuk waktu lama.
Hamad Hussain, ahli ekonomi iklim dan komoditi mengemukakan, "Walaupun IEA memiliki stok untuk digunakan setelah pelepasan ini, konflik berkepanjangan dapat menyebabkan kerugian lebih besar daripada total cadangan yang dipegang langsung oleh anggota IEA."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Adaptasi dari naskah berbahasa Inggris oleh Marjory Linardy
Editor: Yuniman Farid