1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Eksekusi di Iran Tembus Level Tertinggi dalam 35 Tahun

15 Mei 2026

Saat perhatian soal perang Iran tertuju pada Selat Hormuz, pemerintah Iran disebut diam-diam meningkatkan tekanan terhadap tahanan politik. Aktivis HAM memperingatkan potensi eksekusi massal.

https://p.dw.com/p/5DgIY
Inggris London 2026 | Vigile komunitas diaspora Iran untuk korban rezim Iran
Jumlah tahanan politik yang dieksekusi di Iran pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam 35 tahun terakhir.Foto: Vuk Valcic/ZUMA/IMAGO

"Kami mengamati situasi hak asasi manusia di Iran dengan keprihatinan besar,” kata Mahmood Amiry-Moghaddam, seorang ilmuwan saraf Iran-Norwegia sekaligus pendiri organisasi HAM Iran Human Rights.

"Hampir setiap hari, terjadi eksekusi terhadap tahanan politik, demonstran, dan orang-orang yang dituduh melakukan spionase. Ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.

Menurut organisasi tersebut, sedikitnya 1.639 orang dieksekusi di Iran pada 2025. Adapun rata-rata empat hingga lima eksekusi per hari. Jumlah itu naik 68% dibanding tahun sebelumnya.

Sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada Februari lalu, Iran menjadi pusat perhatian politik global. Sorotan dunia tertuju pada isu geopolitik dan Selat Hormuz. Sebab sebelumnya, seperempat pengiriman minyak mentah dan produk minyak dunia lewat jalur tersebut. Namun, situasi di dalam negeri kerap luput dari perhatian.

"Komunitas internasional kurang memberi perhatian terhadap pelanggaran HAM di Iran. Keadaan ini dimanfaatkan oleh republik Islam itu untuk mengeksekusi tahanan, sembari menekan biaya politik,” ujar Amiry-Moghaddam.

Jumlah eksekusi pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam 35 tahun terakhir. Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari penindakan masif setelah demonstrasi "Woman, Life, Freedom” pada 2022. Kini, banyak warga menggambarkan situasi di Iran dipenuhi ketakutan.

Aktivis HAM khawatir hukuman mati dilaksanakan lebih cepat

Sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai, Kepala HAM PBB Volker Türk mengatakan lebih dari 4.000 orang telah ditangkap di Iran. Tuduhannya berkaitan dengan keamanan nasional. Sedikitnya 21 orang di antaranya telah dieksekusi.

"Saya tak bisa membayangkan bagaimana rentetan eksekusi beberapa hari terakhir berdampak pada suasana di blok tahanan politik,” tulis pengguna X Zia Nabavi.

Di tengah pembatasan ketat pemerintah, aktivis HAM itu menjadi salah satu dari sedikit tokoh yang sesekali aktif di media sosial.

Sejak akhir Februari, akses internet di Iran juga mengalami gangguan besar. Pemerintah memblokir akses VPN dan terminal satelit. Keputusan ini mempersulit komunikasi warga, baik di dalam negeri maupun dengan dunia luar.

"Menurut informasi rekan-rekan di Iran, proses pengadilan tahanan politik dipercepat dan semakin tidak transparan,” kata pengacara HAM Saeid Dehghan kepada DW.

"Ini berarti hukuman mati bisa dijatuhkan dan dilaksanakan lebih cepat.”

Dehghan yang kini tinggal di Kanada merupakan pendiri jaringan advokasi hukum 1Kalameh Legal Network. Bersama sejumlah pengacara HAM Iran lainnya, mereka mendokumentasikan berbagai pelanggaran HAM di Iran.

Iran Klaim AS-Israel Menargetkan Universitas

Menurutnya, sejumlah pengacara independen yang aktif menyuarakan isu politik telah ditangkap atau dipanggil aparat. Otoritas keamanan disebut mengintimidasi mereka. Adapun upaya membungkam kelompok oposisi dan demonstran.

"Tekanan terhadap tahanan politik yang sedang sakit juga meningkat,” katanya. "Salah satu contohnya adalah Narges Mohammadi. Baru-baru ini ia mengalami serangan jantung.”

Peraih Nobel Perdamaian itu dipindahkan ke klinik di Teheran setelah hukumannya ditangguhkan sementara. Sejumlah laporan menyebut kondisi kesehatannya kritis.

Dehghan menilai tahanan politik lain yang memiliki kondisi kesehatan buruk juga seharusnya mendapat izin perawatan medis atau pembebasan bersyarat. Ini perlu dilakukan atas alasan kemanusiaan.

Desakan agar HAM jadi syarat negosiasi

Dehghan dan aktivis HAM lain memperingatkan bahwa pemerintah Iran bisa mengulangi pola eksekusi massal. Sebelumnya, hal ini sempat terjadi setelah perang Iran-Iraq. Saat itu, ribuan tahanan politik dieksekusi.

Kini, ratusan demonstran yang ditangkap pada awal tahun berpotensi mendapat hukuman mati.

"Komunitas internasional perlu memberi perhatian lebih besar terhadap kondisi rakyat Iran. Mereka harus menjadikan ini sebagai topik dalam negosiasi dengan negara ini,” kata Amiry-Moghaddam.

Menurutnya, penghentian eksekusi dan pembebasan tahanan politik harus menjadi syarat utama dalam perundingan.

"Pada akhirnya, rakyat Iran sendiri yang akan membawa perubahan di negaranya,” tutupnya.

Artikel ini pertama ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Yuniman Farid