1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Gen Z Iran Hadapi Penindasan, Sanksi, dan Konflik

23 Oktober 2025

Anak-anak muda Iran yang diwawancara oleh DW menceritakan bagaimana mereka terjebak di antara ekonomi yang ambruk, kekerasan negara, dan ancaman perang. Banyak Gen Z yang meninggalkan negara mereka karena rasa frustasi.

https://p.dw.com/p/52Q9O
Perempuan muda Iran berjalan bersama di depan iklan raksasa yang digantung dari gedung pemerintah. Iklan itu menampilkan potret simbolis siswa sekolah, yang salah satunya terbang dengan rudal balistik buatan dalam negeri, selama peringatan ke-45 Perang Iran-Irak 1980-1988 di pusat Kota Teheran pada 24 September 2025
Iklan propaganda di Teheran menggambarkan kehidupan pemuda Iran seolah penuh kebahagiaan, tapi banyak yang mengatakan kenyataannya jauh berbedaFoto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/IMAGO

Kehidupan anak-anak muda Iran di tengah inflasi yang meroket, pengangguran yang meningkat, dan kesempatan yang semakin langka telah menjadi perjuangan panjang. Di berbagai kota dan desa, generasi muda Iran menghadapi problematika suara yang dibungkam, dan masa depan makin tidak pasti.

"Kotaku dulu indah, tapi sekarang terasa mati. Semua teman-temanku pergi," kata Elnaz, anak muda Generasi Z Iran, kepada DW. Nama dan identitasnya telah diubah demi keamanan.

Elnaz beberapa tahun terakhir ini berusaha mandiri secara finansial dengan menempuh pelatihan untuk dua pekerjaan berbeda. Namun, dia mengatakan ketersediaan pekerjaan mulai menipis dalam beberapa bulan terakhir, seiring terjadinya konflik singkat Iran dengan Israel dan kembalinya sanksi internasional terkait program nuklir Teheran. 

"Di antara orang seusiaku, mereka yang mendapat dukungan keluarga lebih beruntung. Namun, untuk orang sepertiku, harapan hampir tidak ada. Aku iri pada pemuda di negara lain, kekhawatiran mereka tidak sebanding dengan kami," tambahnya.

Pemuda Iran berjuang mencari pekerjaan

Meski pemerintah mengklaim angka pengangguran 7,6%, jika dilihat lebih dekat, kondisi pasar kerja Iran jauh lebih suram, terutama bagi anak-anak muda dan perempuan. Hampir satu dari lima pemuda Iran menganggur.

Bahkan bagi jutaan orang yang bekerja, mempunyai pekerjaan bukan berarti bebas dari kemiskinan. Beberapa analisa menunjukkan 80% rumah tangga Iran berpenghasilan di bawah garis kemiskinan global.

Bita, yang juga namanya kami samarkan demi alasan keamanan, menggambarkan kehidupan sehari-harinya dengan frustrasi.

"Harga-harga sangat tidak masuk akal dan berubah setiap hari. Meski rumah tangga kami punya dua penghasilan, kami nyaris tidak mampu membeli kebutuhan pokok," kata perempuan muda itu.

"Membeli barang-barang seperti pakaian, sepatu, atau kebutuhan tambahan hampir mustahil. Daging, ayam, ikan, bahkan beras tidak bisa dibeli semua di bulan yang sama. Kami harus menyebarkan ke beberapa bulan," tambahnya. 

Israel dan Iran Saling Lancarkan Serangan Lanjutan

Hidup di antara perang dan sanksi

Pada bulan Juni, ekonomi Iran yang sudah rapuh semakin terguncang akibat konflik selama 12 hari dengan Israel.

Bagi rakyat biasa, dampaknya langsung terasa. Harga semakin melonjak, dan ketakutan akan eskalasi yang lebih luas muncul.

Kembalinya sanksi PBB terkait program nuklir Iran menambah tekanan global terhadap Teheran, dan banyak warga Iran takut bahwa yang terburuk masih akan terjadi. 

Bita menggambarkan suasana pasca-konflik sebagai campuran antara kemarahan dan keputusasaan.

"Beberapa orang sangat optimistis dan penuh harapan. Lainnya benar-benar putus asa. Ada yang menunggu bantuan dari luar, sementara yang lain sangat menentang campur tangan asing. Perpecahan sangat dalam," jelasnya.

Amin, seorang pemuda lainnya yang namanya juga kami samarkan, mengatakan bahwa ada kemarahan publik diam-diam, tapi meluas di bawah permukaan.

"Apa yang paling terasa adalah keputusasaan, terutama di kalangan pemuda. Tidak adanya masa depan yang jelas atau peluang berkembang, menjadi tantangan paling berat, dan frustrasi orang-orang semakin terlihat. Aku sering dengar orang-orang sangat putus asa sampai melihat perang atau bahkan kematian sebagai jalan keluar," ujarnya.

Dia mengatakan penguasa Iran menolak kompromi dan terus memblokir kemungkinan dialog atau kerja sama dengan komunitas internasional. Jika terjadi konflik lagi, tidak hanya dukungan publik yang hilang, bahkan pendukung rezim mungkin mulai berpaling.

Anak-anak muda Iran ini mengatakan mereka khawatir rakyat biasa akan menanggung dampak utama konflik di masa depan. Jika perang pecah lagi, Iran bisa menjadi negara yang hancur dan bangkrut, tanpa reformasi, tanpa perubahan, dan tanpa yang tersisa untuk dibangun kembali.

Bertahun-tahun mengalami penindasan politik, kesulitan ekonomi, dan pembatasan sosial telah mendorong banyak anak muda Iran meninggalkan negara mereka.

Mereka yang sudah pergi belajar, bekerja, merasakan kebebasan pribadi, dan kemampuan berbicara bebas, telah merencanakan masa depan serta membangun kehidupan tanpa rasa takut.

Sejumlah remaja perempuan mengikuti ujian universitas di Teheran dan kota-kota lain di seluruh Iran pada 4 Juli 2003
Di Iran, keberhasilan dalam ujian sering kali dianggap sebagai penentu masa depan. Mereka yang gagal, bagi laki-laki, kemungkinan besar akan bergabung dengan barisan pengangguran, sementara bagi perempuan, dipaksa untuk menikahFoto: epa/picture-alliance/dpa

Namun, banyak juga yang mengatakan jika kondisi membaik, mereka akan kembali ke Iran untuk membantu membangun negara ini kembali.

"Harapan terbesarku adalah bisa memeluk orang-orang yang sangat aku sayangi, yang terpisah dariku karena semua ini, di negara kami sendiri," kata Elnaz, merujuk pada anggota keluarganya yang tinggal di luar negeri.

Bita juga punya harapan serupa. "Aku punya penyesalan mendalam di hatiku dan tidak pernah menyangka, nanti mendekati usia paruh baya, mungkin aku akan terbebani begitu banyak rasa stres dan kecemasan. Mimpi pribadiku sudah memudar. Sekarang, satu-satunya keinginanku adalah kebebasan, kemakmuran, dan kebangkitan ekonomi di tanah air ini."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Prita Kusumaputri

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait