1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sepak BolaGlobal

Harga Tiket Piala Dunia 2026 Selangit, Bagaimana Peminatnya?

8 Mei 2026

Di tengah berbagai hal baru di Piala Dunia 2026, FIFA menerapkan 'dynamic pricing' dan pasar resale miliknya sendiri. Ada tiket yang dipasang lebih dari US$2 juta, tetapi banyak laga justru belum penuh terjual. Ada apa?

https://p.dw.com/p/5DSce
Donald Trump bersama Gianni Infantino memegang tiket FIFA 2026
Donald Trump sudah mendapatkan tiketnya. Namun, strategi penjualan FIFA justru dinilai menyulitkan banyak penggemar yang ingin datang langsung mendukung tim kesayangan mereka.Foto: CNP/ADM/Capital Pictures/picture alliance

Permintaan tiket Piala Dunia 2026, sempat digembar-gemborkan Presiden FIFA Gianni Infantino pada Januari lalu, akan setara dengan "1000 tahun Piala Dunia sekaligus.” Namun, sebulan menjelang laga pembuka, sebagian tiket pertandingan masih tersedia dan belum ada kepastian apakah ada laga yang benar-benar ludes terjual.

"Dari yang saya lihat, saya tidak akan terlalu khawatir dengan hype bahwa tiket Piala Dunia akan habis terjual,” kata Gilad Zilberman, CEO situs perbandingan pasar sekunder terkemuka, SeatPick, kepada DW.

"Saya rasa harga akan turun. Itu firasat saya. Saya rasa FIFA sedang kesulitan.”

FIFA tidak menjawab serangkaian pertanyaan DW terkait permintaan dan angka penjualan tiket, laporan terbaru dari American Hotel and Lodging Association (AHLA) mendukung analisis Zilberman. Laporan itu menyatakan hampir 80% pemesanan hotel di kota-kota tuan rumah berada di bawah perkiraan awal. Menurut AHLA, hal itu kemungkinan disebabkan minimnya wisatawan internasional.

Persoalan visa, mahalnya tiket pesawat, dan hambatan logistik lain, diperkirakan membuat turnamen lebih banyak dipadati penonton tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Berbeda dengan pelancong asing, penonton lokal dinilai lebih leluasa menunda pembelian sambil menunggu harga tiket turun, seperti diperkirakan Zilberman dan sejumlah pengamat lain.

Penetapan harga dinamis dan pasar sekunder jadi strategi utama FIFA

Untuk turnamen tahun ini, FIFA memperkenalkan sistem dynamic pricing atau penetapan harga dinamis. Organisasi sepak bola dunia itu mengatakan harga tiket ditetapkan langsung oleh FIFA, lalu disesuaikan berdasarkan permintaan, bukan menggunakan algoritma seperti praktik yang lebih umum digunakan. Hal ini memicu hampir setiap hari munculnya sorotan mengenai mahalnya harga tiket Piala Dunia.

Elemen baru lainnya dalam strategi penjualan tiket FIFA adalah peluncuran pasar sekunder resmi FIFA, di mana mereka yang memenangkan tiket melalui serangkaian undian dapat menjual kembali tiket mereka dengan harga berapa pun yang bisa mereka dapatkan, dengan FIFA mengambil potongan 15% dari pembeli dan penjual. Baru-baru ini, sebuah tiket terdaftar di sana seharga $2.299.998,85 (sekitar Rp39,8 miliar), yang berarti $690.000 (sekitar Rp11,9 miliar) untuk FIFA jika terjual.

Harga tiket termahal untuk final adalah $11.000, dan FIFA memperkirakan akan meraup $3 miliar (sekitar Rp51,9 triliun) dari penjualan tiket dan layanan hospitality saja. Infantino membela strategi penjualan tiket organisasinya pekan lalu.

"Kami berada di pasar hiburan paling berkembang di dunia. Jadi kami harus menerapkan harga pasar,” katanya. "Di AS, penjualan kembali tiket juga diperbolehkan. Jadi jika Anda menjual tiket terlalu murah, tiket itu akan dijual kembali dengan harga jauh lebih tinggi.”

"Dan faktanya, meskipun beberapa orang mengatakan bahwa harga tiket yang kami tetapkan tinggi, tiket-tiket tersebut tetap berakhir di pasar penjualan kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi, lebih dari dua kali lipat harga kami.”

Benarkah permintaannya setinggi itu?

Namun, Zilberman mengatakan bahwa data pasar membantah hal tersebut. SeatPick melacak data dari semua reseller besar di luar platform FIFA, seperti Viagogo dan Stubhub. Ia mengatakan kepada DW bahwa pada akhir April, 72% dari pertandingan di mana data dari FIFA dan pasar sekunder tersedia, harga di pasar sekunder ternyata lebih murah. DW telah menguji hal ini dan menemukan bahwa tiket dari penjual kembali umumnya lebih murah, meskipun tidak mudah untuk membandingkan jenis dan harga tiket secara langsung.

Zilberman mengatakan ia memahami bahwa FIFA akan "membiarkan uang terbuang percuma” dengan menerapkan strategi harga tetap seperti yang digunakan UEFA untuk Piala Eropa, namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk menerapkan strategi tiket tersebut.

"Dari sejarah sebelumnya dalam menangani turnamen besar semacam ini, situasi seperti sekarang sering terjadi. Mereka terjebak dengan banyak tiket. Penetapan harga dinamis bukanlah keahlian FIFA.”

Ia menambahkan bahwa mereka yang mencari tiket beralih ke pasar sekunder karena di sana lebih mencerminkan hukum penawaran dan permintaan. Harga tiket bisa turun untuk pertandingan yang minim peminat, berbeda dengan tiket FIFA yang belum mengalami penurunan nilai.

"FIFA pada dasarnya menerapkan penetapan harga dinamis sendiri. Mereka mencoba meniru harga di pasar sekunder dan berusaha bersaing untuk mengambil porsi keuntungan sebesar mungkin.”

Fans diminta menunggu, keraguan untuk 2030 mulai muncul

FIFA melepas dua gelombang tiket terpisah, yang diberi label sebagai "penjualan last minute”, dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu pada bulan April dan Mei, padahal sebelumnya mereka telah menyatakan bahwa itu adalah fase terakhir. Menurut Zilberman, hal itu menjadi bukti bahwa FIFA sengaja menahan stok tiket untuk memengaruhi pasar.

"Mungkin saja mereka tidak efisien secara teknologi, dan itu tidak akan mengejutkan saya, tapi saya rasa bukan itu masalahnya. Kemungkinan besar, penjualan bertahap memungkinkan mereka memanfaatkan lonjakan permintaan pada hari perilisan, melihat reaksi pasar, lalu menggunakan dynamic pricing. Jadi, ‘bagaimana cara meminimalkan dampak negatif terhadap citra di mata para penggemar, namun pada saat yang sama memaksimalkan keuntungan?'”

Tantangan terhadap strategi FIFA datang dari provinsi Ontario di Kanada, yang pada akhir April mengesahkan aturan yang melarang penjualan kembali tiket acara di atas harga asli. Meskipun ada beberapa pembatasan terhadap pasar sekunder di Meksiko, pembatasan serupa sangat sedikit di AS dan Kanada hingga langkah yang diambil Ontario ini, yang berdampak pada harga tiket di Toronto, di mana harga tiket yang dijual kembali tidak boleh melebihi nilai nominal. Football Supporters Europe dan kelompok lobi Euroconsumers juga mengajukan keluhan kepada Komisi Eropa pada akhir Maret terkait strategi penjualan tiket FIFA untuk turnamen ini.

FIFA belum mengumumkan apakah akan melanjutkan strategi ini untuk Piala Dunia berikutnya, yang akan diselenggarakan di Maroko, Portugal, dan Spanyol, tetapi Zilberman berpendapat bahwa hal itu tidak akan semudah penerapan pada kali ini.

"Saya pikir mereka akan mencoba, tapi situasinya berbeda,” katanya. "Platform AS dalam hal pasar sekunder sangat, sangat maju, dan konsumen sudah terbiasa dengan harga yang mencapai lima kali lipat dari harga pasar primer. Di Spanyol, Maroko, dan Portugal, situasinya tidak begitu.”

Tampaknya sangat tidak mungkin tiket akan dijual seharga di atas $2 juta pada 2030. Meski tiket yang dipasang belum tentu terjual, Infantino tetap menjanjikan satu 'bonus' bagi calon pembeli tiket piala dunia.

"Jika seseorang membeli tiket final seharga US$2 juta, saya pribadi akan membawakan hot dog dan Coca-Cola untuk memastikan dia mendapatkan pengalaman terbaik.”

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait