Trump Puji Hubungan Erat dengan Xi
15 Mei 2026
Menjelang pertemuan Jumat (15/5), Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghabiskan sekitar 10 menit berjalan-jalan di taman kompleks Zhongnanhai, bekas taman kekaisaran yang kini menjadi pusat kantor para pemimpin Cina.
“Inilah mawar paling indah yang pernah dilihat,” kata Trump sambil melintasi deretan pilar dan lengkungan berwarna hijau.
Trump mengatakan kedua pemimpin telah mencapai “kesepakatan dagang yang luar biasa”, meski tidak merinci isinya.
Pertemuan Jumat diperkirakan akan lebih banyak berfokus pada isu perdagangan.
Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer, yang turut menghadiri pertemuan tersebut, mengatakan kepada Bloomberg TV pada Jumat bahwa belum diputuskan apakah gencatan perang dagang AS-Cina akan diperpanjang setelah masa berlakunya berakhir akhir tahun ini.
Menjelang akhir 2025, Amerika Serikat menangguhkan kenaikan tarif tinggi terhadap barang-barang Cina, sementara Beijing melonggarkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang.
Jamieson menambahkan, kesepakatan terkait pembelian produk pertanian, daging sapi, dan pesawat Boeing oleh Cina juga telah difinalisasi, menurut kantor berita Reuters.
Ia juga mengatakan kedua pihak telah membuat kemajuan dalam membangun mekanisme untuk mengelola perdagangan di masa depan. Kedua negara diperkirakan akan mengidentifikasi barang nonsensitif senilai US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun.
Pertemuan Xi dan Trump pada Jumat didampingi delegasi yang lebih kecil.
Delegasi Cina terdiri dari Duta Besar Cina untuk Amerika Serikat Xie Feng; Cai Qi, direktur Komite Sentral Partai Komunis Cina; Menteri Luar Negeri Wang Yi; Wakil Menteri Luar Negeri Ma Zhaoxu; serta Wakil Perdana Menteri Dewan Negara He Lifeng.
Sementara selain Jamieson, delegasi Amerika Serikat yang mendampingi Trump adalah Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Duta Besar AS untuk Cina David Perdue.
Trump sebut Xi “serius dan fokus pada bisnis”
Dalam wawancara yang disiarkan di Amerika Serikat pada Kamis (14/5) malam, Donald Trump mengatakan dirinya memiliki hubungan yang “sangat baik” dengan Presiden Cina Xi Jinping.
“Kami punya hubungan yang sangat baik, bahkan bisa disebut persahabatan,” kata Trump dalam wawancara bersama pembawa acara Fox News Sean Hannity di Cina.
“Saya rasa dia sebenarnya pribadi yang hangat,” lanjut Trump tentang Xi. “Tapi dia sangat fokus pada urusan bisnis. Tidak ada basa-basi. Tidak ada obrolan soal cuaca."
Trump: Cina akan beli 200 pesawat Boeing
Cina telah menyetujui pembelian 200 pesawat “berukuran besar” buatan Boeing, kata Trump kepada Fox News setelah seharian menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Xi.
“Itu semacam pernyataan, tetapi saya rasa itu juga sebuah komitmen,” kata Trump, menggambarkan hasil pembicaraannya dengan Xi.
Menjelang pertemuan puncak tersebut, media-media Amerika Serikat telah lebih dulu melaporkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Boeing. Bloomberg dan sejumlah media lain menyebut Cina sedang mempertimbangkan pembelian sekitar 500 pesawat Boeing 737 MAX, ditambah pembicaraan mengenai sekitar 100 pesawat berbadan lebar, termasuk 787 Dreamliner dan 777X.
Namun, dari pernyataan Trump, belum jelas jenis pesawat apa saja yang akan masuk dalam kesepakatan tersebut. CEO Boeing, Kelly Ortberg, juga berada dalam rombongan pebisnis yang mendampingi Trump di Beijing.
Pesanan terakhir Cina kepada Boeing terjadi pada 2017, senilai US$37 miliar atau sekitar Rp650 triliun, untuk 300 pesawat lorong tunggal dan lorong ganda setelah pertemuan pertama Trump dan Xi di Beijing.
Reuters melaporkan bahwa Saham Boeing turun 4,1% dalam perdagangan pasar pada Kamis. Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar terkait reaksi Wall Street terhadap pengumuman tersebut. Laporan Reuters juga menyebut bahwa Cina tengah membahas kesepakatan serupa dengan produsen pesawat Eropa Airbus.
Dua produsen pesawat saingan itu bersaing ketat memperebutkan pasar Cina karena negara itu adalah pasar penerbangan terbesar kedua di dunia. Beijing harus membeli pesawat dari keduanya untuk mengimbangi lonjakan permintaan perjalanan udara. Menurut banyak analis, Cina saat ini membutuhkan hingga 1.000 pesawat baru.
Proyeksi pasar Boeing dan Airbus memperkirakan Cina akan membutuhkan sedikitnya 9.000 pesawat jet baru hingga 2045.
Trump banyak investasi di saham Apple dan Nvidia pada awal 2026
CEO raksasa teknologi Apple dan NVIDIA turut menjadi bagian dari delegasi bisnis yang mendampingi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.
Laporan transaksi keuangan terbaru menunjukkan Trump melakukan investasi besar di kedua perusahaan tersebut pada kuartal pertama 2026.
Berdasarkan data dari Kantor Etik Pemerintah Amerika Serikat yang dipublikasikan Kamis (14/5), Trump menginvestasikan hingga US$7,2 juta atau sekitar Rp126 triliun di Apple selama tiga bulan pertama 2026.
Namun jumlah pastinya tidak diketahui karena laporan wajib tersebut hanya menampilkan kisaran nilai investasi.
Pembelian saham Apple terbesar dilakukan pada awal Februari dengan nilai antara US$1 juta hingga US$5 juta.
Trump juga melakukan pembelian besar serupa di NVIDIA dengan nilai antara US$1 juta hingga US$5 juta.
Sebaliknya, penjualan dalam jumlah besar, masing-masing berkisar antara US$5 juta hingga US$25 juta, terjadi pada saham Microsoft, Amazon, dan Meta.
Transaksi tersebut juga mencakup saham Oracle, Bank of America, Broadcom, dan Goldman Sachs.
Secara keseluruhan, data menunjukkan terdapat 3.642 transaksi yang wajib dilaporkan dengan total nilai berkisar antara US$220 juta hingga sekitar US$750 juta.
Namun data tersebut tidak menjelaskan secara rinci jenis instrumen keuangan yang diperdagangkan. Apakah berbentuk saham atau obligasi korporasi.
Trump validasi anggapan Beijing yang menyebut AS “negara yang alami kemerosotan”
Setelah bertemu Presiden Cina Xi Jinping di Beijing, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela penilaian Xi yang sebelumnya menyebut AS sebagai “negara yang sedang merosot”. Trump mengatakan penilaian itu akurat untuk menggambarkan kondisi Amerika Serikat di bawah pendahulunya, Joe Biden.
“Dua tahun lalu, kita memang merupakan negara yang sedang mengalami kemunduran. Dalam hal itu, saya sepenuhnya setuju dengan Presiden Xi!” tulis Trump pada Kamis (14/5) melalui platform Truth Social miliknya.
Trump kemudian memaparkan berbagai hal yang ia anggap sebagai pencapaian selama hampir 1,5 tahun masa pemerintahannya. Ia juga mengatakan Xi memberi ucapan selamat atas kebijakan-kebijakan yang telah dijalankannya.
Xi menyambut Trump melalui upacara penyambutan hangat pada Kamis pagi sebelum keduanya menggelar pertemuan tertutup untuk membahas perang Iran serta ketegangan terkait Taiwan.
Trump juga menyatakan harapannya agar “hubungan Amerika Serikat dengan Cina akan menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya."
Peran Cina dalam meredakan konflik Iran masih belum jelas
Pada Kamis (14/5), Trump mengatakan Xi menyampaikan bahwa Cina ingin membantu menegosiasikan akhir perang sekaligus mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, tidak ada penjelasan apakah Cina akan tetap melanjutkan pembelian minyak Iran.
Menurut Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-Cina milik pemerintah Amerika Serikat, Cina membeli sekitar 90% ekspor minyak Iran, yang “memberikan pendapatan tahunan puluhan miliar dolar untuk mendukung anggaran pemerintah dan aktivitas militer Iran.”
Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (14/5) malam, Trump juga berbicara soal Iran dan menyiratkan bahwa upaya memburu uranium yang telah diperkaya milik Iran lebih banyak berkaitan dengan pencitraan politik.
“Secara pribadi saya memang akan merasa lebih baik jika mendapatkannya. Tapi saya rasa ini lebih untuk kepentingan hubungan masyarakat daripada hal lainnya,” kata Trump.
Ia juga memperingatkan bahwa dirinya tidak akan “terlalu lama lagi bersabar” terhadap Iran.
Reuters turut melaporkan bahwa Gedung Putih menyatakan Trump dan Xi dalam pembicaraan di Beijing sepakat mengenai pentingnya menjaga jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka. Iran secara efektif menutup jalur perairan tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, sehingga memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global.
Cina diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran dan merupakan pembeli utama minyak negara tersebut.
Dalam laporan Reuters ditulis bahwa Trump mengatakan Xi juga berjanji tidak akan mengirim peralatan militer ke Iran.
“Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer. Itu pernyataan besar,” kata Trump dalam acara Hannity.
Menurut pernyataan resmi Gedung Putih, Xi juga menyatakan minat membeli lebih banyak minyak Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan Cina terhadap Selat Hormuz di masa depan. Kedua pemimpin juga sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Kehadiran anak Donald Trump, Eric Trump, di Cina mengundang sorotan
Putra Donald Trump, Eric Trump, mendapat posisi yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan selama kunjungan presiden Amerika Serikat ke Cina.
Eric bersama istrinya, Lara, sempat berfoto dengan Presiden Cina Xi Jinping sebelum menghadiri jamuan kenegaraan pada Kamis (14/5) malam.
Eric juga terlihat berbincang dengan Xi saat kunjungan ke Temple of Heaven.
Eric bukan pejabat pemerintah. Ia juga tidak memimpin perusahaan besar Amerika Serikat seperti Apple, Boeing, atau NVIDIA yang para eksekutifnya ikut mendampingi kunjungan Trump.
Eric berperan dalam kapasitasnya sebagai Wakil Presiden Eksekutif The Trump Organization yang menjalankan bisnis keluarga bersama saudaranya, Donald Trump Jr.
Trump Organization menegaskan kepada sejumlah media Amerika Serikat, termasuk The New York Times, bahwa Eric berada di Cina “dalam kapasitas pribadi”.
Namun, seperti ditulis surat kabar tersebut, Trump Organization “selama bertahun-tahun terus membuka kemungkinan kerja sama bisnis di Cina”, sehingga memunculkan pertanyaan apakah kehadiran Eric dapat mengaburkan batas antara urusan pemerintahan dan kepentingan bisnis pribadi.
Situasi itu juga menarik perhatian karena Donald Trump sebelumnya pernah mengecam Joe Biden lantaran membawa putranya, Hunter Biden, dalam penerbangan resmi ke Cina pada 2013 ketika Biden masih menjabat wakil presiden.
Pada masa jabatan pertamanya, Trump bahkan pernah meminta pemerintah Cina menyelidiki keluarga Biden.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Joan Aurelia Rumengan
Editor: Muhammad Hanafi/Yuniman Farid