Indonesia Bawa Pelobi Bahan Bakar Fosil ke COP30?
19 November 2025
Climate Action Network (CAN) International memberikan penghargaan "Fossil of The Day" kepada Indonesia, akhir pekan lalu di tengah berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi perubahan iklim. Koalisi berisi lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil ini menuding Indonesia memasukkan pelobi bahan bakar fosil ke dalam delegasinya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim COP30 di Brasil.
CAN menilai Indonesia menjadi contoh buruk bagi negara berkembang karena dianggap mengikuti jejak negara maju melibatkan pelobi bahan bakar fosil dalam negosiasi iklim.
Apa pasalnya dan sejauh apa intervensi yang dituduhkan?
Koalisi lingkungan itu menyebutkan keberadaan pelobi energi fosil mengintervensi negosiasi pasar karbon Pasal 6.4. Selama bertahun-tahun, negara-negara maju telah membuka pintu bagi pelobi bahan bakar fosil, dengan menempatkan mereka di dalam delegasi dan memberi akses yang ikut menentukan hasil perundingan.
Direktur Regional dan Kordinator Climate Action Network Asia Tenggara Nithi Nesadurai memaparkan: "Upaya melemahkan aturan, perlakuan, dan perlindungan dalam pasar karbon secara langsung bertentangan dengan sains, serta merusak integritas lingkungan yang justru seharusnya dijaga oleh mekanisme 6.4. Pada praktiknya, usulan Indonesia akan melemahkan tata kelola pasar karbon dan membuka jalan bagi proyek perdagangan kredit karbon yang seharusnya tidak disetujui,” tandasnya.
CAN tidak dapat menerima jika ada intervensi yang didasarkan pada poin-poin bicara para pelobi industri Indonesia. "Dengan kepentingan material langsung maupun tidak langsung dalam pasar karbon, kelompok ini akan diuntungkan dari aturan yang dilonggarkan. Karena hal ini menunjukkan konflik kepentingan yang jelas, intervensi tersebut harus ditolak,” tegas Nithi.
Pesan bagi pemerintah Indonesia: Jangan menyuarakan pelobi fosil
"Proses COP bertujuan melindungi manusia dan planet dari dampak buruk perubahan iklim. Indonesia seharusnya bernegosiasi dengan itikad baik dan menghindari menyuarakan posisi kelompok pelobi yang berorientasi pada kepentingan diri dan keuntungan,” demikian Nithi mengingatkan.
CAN International mengatakan tudingan ini berasal dari laporan koalisi Kick Big Polluters Out (KBPO), di mana dalam laporan itu tertera: Sebanyak 1.600 pelobi bahan bakar fosil telah diberikan akses ke COP30, yang setara dengan satu dari setiap 25 orang di Belém, persentase tertinggi yang pernah tercatat.
Penghargaan Fossil of the Day (Fosil Hari Ini) pertama kali dimunculkan dalam pembicaraan iklim di Bonn, Jerman pada tahun 1999. Penghargaan ini diinisiasi oleh German NGO Forum. Selama negosiasi berlangsung di KTT Perubahan Iklim PBB, anggota CAN International memilih negara yang dinilai melakukan upaya terbaik untuk 'memblokir' kemajuan negosiasi dalam hari-hari terakhir perundingan.
DW telah menghubungi delegasi Indonesia di COP30 untuk meminta konfirmasi. Salah seorang anggota delegasi meminta agar namanya tidak disebutkan karena belum ada pernyataan resmi pemerimtah. Ia membantah keberadaan pelobi bahan bahar fosil di delegasi COP30. "Tidak ada itu. Itu fitnah yang keji. Jika paviliun kita disponspori Pertamina, Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu memang benar, tapi mereka tak mengintervensi dalam perundingan karbon," tangkisnya.
Editor: Rizki Nugraha