Kebijakan Reformasi Sarkozy Picu Pemogokan Massal
23 November 2007
Harian Italia Corriere della Sera yang terbit di Milan menulis:
"Pemahaman Sarkozy: Pembaruan bukanlah tanpa nyawa. Yang penting sekarang adalah usaha Sarkozy dalam memahami kekhawatiran di saat-saat yang tak menentu ini. Presiden Sarkozy tidak memperbesar ketakutan, melainkan berusaha untuk mengarahkannya. Dia menjajikan perubahan-perubahan yang mendasar serta berusaha mendampingi rakyat dalam pelaksanaannya. Di sinilah Sarcozy menjembatani politik menjadi sebuah pakta persekutuan sosial yang baru. Dalam melaksanakan kebijakannya, Sarkozy merangkul permasalahan dan memberikan nuansa hangat bagi liberalisme di Prancis."
Harian Inggris Guardian yang terbit di London mengungkapkan:
"Dalam putaran sekarang ini mungkin saja Nicolas Sarkozy menang, tetapi hanya karena reformasi pensiun karyawan kereta api didukung oleh masyarakat luas. Tetapi seperti yang diungkapkan seorang aktivis serikat kerja, ini barulah awalnya saja. Menu utama yang mencakup sektor kesehatan, gaji, dan pensiunan secara umum masih akan digarap oleh Sarkozy. Ke 5,2 juta pekerja dinas pelayanan umum memang punya pekerjaan seumur hidup, namun pendapatan mereka rendah. Masyarakat lebih dapat memahami tuntutan para pemogok di sektor umum daripada karyawan perkeretaapian. Sarkozy tak akan mampu memenuhi harapan para pekerja untuk memperbaiki standar hidup mereka, karena kas negara kosong. Semakin besar kesenjangan antara si kaya dan si miskin, akan semakin sulit untuk Sarkozy dan reformasinya yang akan dijalankannya."
Topik lainnya yang berkisar pada masalah penyidikan terhadap bekas presiden Prancis, Jacques Chirac, juga disoroti harian-harian Eropa. Dalam tajuk harian Belgia De Morgen yang terbit di Brussel dapat dibaca:
"Ini sebuah pertunjukan perdana dalam sejarah Republik Prancis. Setelah pemeriksaan selama tiga jam di kantor hakim Xavière Simèoni, Chirac kini menjadi tersangka. Tuduhan penyalahgunaan uang negara terhadap bekas presiden Prancis tersebut terkait dengan skandal ketika ia menjadi walikota Paris. Ketika itu banyak jabatan di sana yang diberikan kepada kalangan dekat Chirac dan partainya RPR yang kemudian berganti nama menjadi UMP, yaitu Partai Kanan Tengah dari Presiden Sarkozy."
Kasus tersebut hanyalah satu dari serangkaian skandal selama bertahun-tahun. Harian Katolik di Prancis La Croix yang terbit di Paris menulis komentar:
"Bagaimana hasil akhirnya, perkara ini telah menimbulkan kerugian yang menyangkut lebih dari sekedar pribadi Jacquès Chirac. Pengusutan terhadap bekas presiden Prancis itu menyuburkan keraguan tentang kejujuran para politisi. Walaupun bukan untuk memperkaya diri, praktek yang dilakukan merusak citra yang diperlukan oleh lembaga-lembaga resmi. Terutama dalam kondidi sosial yang tegang saat ini, di mana rakyat mempertanyakan hak-hak istimewa dalam politik. Para penanggung jawab politik dan ekonomi seharusnya tidak punya cela, saat menuntut pengorbanan dari masyarakat dengan memberlakukan reformasi yang diperlukan."