1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
OlahragaAmerika Serikat

Kemelut Visa Surutkan Gairah Piala Dunia di AS

17 Juni 2026

Usai tampil apik saat menahan imbang Spanyol, penjaga gawang Tanjung Verde menangisi absennya sang ibu karena terhadang visa. Di hari yang sama, pelatih Iran mengaku timnya mengalami "opresi" selama di AS.

https://p.dw.com/p/5FXKW
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah), Presiden FIFA Giani Infantino (kanan), serta awak media di Ruang Oval di Gedung Putih pada November 2025.
Piala Dunia di kantor Presiden AS Donald Trump (tengah), ketika dibawa oleh Presiden FIFA Giani Infantino (ka.) di Gedung Putih.Foto: Daniel Torok/Avalon/Photoshot/picture alliance

Dari kiper veteran yang nyaris tak dikenal menjadi sorotan dunia dalam 90 menit, sekaligus meraup tambahan enam juta pengikut media sosial, kisah Vozinha menjadi salah satu cerita yang membuat Piala Dunia selalu istimewa.

Penjaga gawang Cape Verde itu tampil gemilang ketika timnya menahan imbang juara Eropa, Spanyol, 0-0, pada Senin (15/6) lalu. Namun, air mata yang mengalir setelah pertandingan bukan semata karena kebahagiaan.

“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu,” ujar Vozinha kepada wartawan.

“Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa datang karena persoalan visa. Karena besarnya uang yang harus kami bayarkan untuk visa, kami tidak berhasil menyelesaikan prosesnya tepat waktu. Saya ingin ibu saya berada di sini, tetapi saya tetap sangat bahagia.”

Persoalan visa menjadi cerita yang terus mengikuti Piala Dunia, terutama yang digelar di Amerika Serikat. Awal tahun ini, Cape Verde masuk dalam daftar negara yang warganya diwajibkan menyerahkan jaminan perjalanan yang dapat dikembalikan hingga US$ 15 ribu atau sekitar Rp266 juta sebelum memasuki negara tersebut.

Penjaga Gawang Tanjung Verde Vozinha sedang mengibarkan bendera Tanjung Verde.
Penjaga Gawang Tanjung Verde VozinhaFoto: Jose Breton/Pics Action/NurPhoto/picture alliance

Pembatasan perjalanan bayangi Piala Dunia

Selain jaminan keuangan, warga Haiti, Pantai Gading, Iran, dan Senegal dilarang masuk ke Amerika Serikat. Di saat yang sama, muncul banyak laporan mengenai penolakan visa untuk suporter pemegang tiket pertandingan dari berbagai negara.

Sehari sebelum turnamen dimulai, salah seorang wasit terbaik FIFA asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk ke Amerika Serikat karena persoalan “pemeriksaan keamanan” yang membuatnya dianggap tidak memenuhi syarat masuk, menurut Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat. Dia dituduh pernah terkait jaringan terorisme.

Pada Desember lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut warga Somalia sebagai “sampah”, serta mengatakan para imigran dari negara Afrika itu sebaiknya “kembali ke tempat asal mereka” dan bahwa “ada alasan mengapa negara mereka tidak sedang baik-baik saja.”

Kondisi ini bertolak belakang dengan janji Presiden FIFA Gianni Infantino—yang tahun lalu menganugerahkan Penghargaan Perdamaian FIFA pertama kepada Trump—bahwa “penggemar dari seluruh dunia akan diterima” dalam turnamen tersebut.

Dalam pernyataannya pada Agustus 2025, Infantino juga mengatakan proses visa akan berjalan lancar dan memastikan negara-negara yang lolos dapat datang bersama para pendukung mereka.

Namun, kenyataannya tidak demikian bagi banyak suporter. Persoalan ini juga menyulitkan tim dan staf pendukung, terutama Iran.

Apakah Amerika Siap Menyambut Suporter Sepak Bola Dunia?

Iran merasa diperlakukan tidak adil

Meski kerangka kesepakatan dalam perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran telah tercapai, konflik tersebut membuat tim nasional Iran menghadapi situasi yang berbeda dibandingkan 47 tim lain di Piala Dunia.

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengatakan timnya mengalami “opresi” setelah adanya perubahan mendadak terhadap rencana perjalanan seusai bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada Senin.

Menjelang turnamen, tim Ghalenoei memindahkan kamp latihan utama dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Mereka juga harus meninggalkan wilayah Amerika Serikat setiap kali menyelesaikan pertandingan.

Ghalenoei mengatakan dirinya memperkirakan tim akan menginap setelah pertandingan di Los Angeles dan kembali keesokan siang. Namun, hal itu tidak diizinkan.

“Kami seharusnya tinggal di sini malam ini untuk pemulihan dan kembali besok siang, tetapi mereka tidak mengizinkan kami,” kata Ghalenoei. “Sejujurnya, saya tidak tahu alasannya. Saya pikir mungkin tim kami adalah tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia.”

Tidak jelas pihak mana yang dimaksud Ghalenoei sebagai pihak yang memaksa timnya pergi. Namun penyerang Mehdi Taremi mengatakan pembatasan yang dikenakan kepada tim Iran membuat mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan secara kompetitif.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait