Mengapa Tim Sepak Bola Putri Korea Utara Begitu Tangguh?
17 November 2025
Tim sepak bola putri Korea Utara berhasil mempertahankan gelar juara Piala Dunia U-17 setelah mengalahkan Belanda dengan skor 3–0 di Maroko. Kemenangan ini menjadi gelar keempat bagi Korea Utara dalam ajang tersebut.
Dengan keberhasilan tim U-20 mereka yang meraih gelar Piala Dunia ketiganya pada tahun 2024, Korea Utara semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan dominan dalam sepak bola putri kelompok umur.
Namun, apa faktor yang membuat negara yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa "tidak memiliki tandingan di dunia modern” ini mampu begitu unggul dalam sepak bola usia muda?
"Olahraga internasional adalah salah satu dari sedikit cara untuk menunjukkan kedaulatan, eksistensi, dan identitas kepada komunitas internasional, Karena itu, keberhasilan besar seperti ini, bagi mereka, merupakan momen penting untuk mengibarkan bendera nasional di hadapan dunia,” ujar Dr. Jung Woo Lee, dosen senior Kebijakan Olahraga dan Rekreasi di Universitas Edinburgh, kepada DW.
"Di sisi lain, di dalam negeri, Korea Utara sering menggunakan olahraga sebagai alat propaganda untuk mengagungkan para pemimpinnya serta menonjolkan kehebatan negaranya.”
Strategi yang jelas dan terancana
Meski sepak bola sangat populer di Korea Utara, para pemimpin Korea Utara menyadari bahwa "jurang" menuju level tertinggi sepak bola senior terlalu lebar untuk dijangkau dibandingkan sepak bola usia muda. Oleh karena itu, para pemimpin Korea Utara berfokus pada sepak bola putri usia muda, yang dianggap lebih memungkinkan untuk dicapai. Hal inilah yang juga menjelaskan mengapa kesuksesan di level ini tidak banyak berpengaruh terhadap performa tim senior selama bertahun-tahun. Strategi ini bukan tentang membangun jalur pengembangan pemain, melainkan tentang meraih kemenangan.
"Perbedaan antara klub mapan dan klub berkembang juga sangat besar, karena di banyak negara Eropa sudah ada liga profesional yang mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan,” ujar Lee.
"Dalam sepak bola usia muda, organisasi olahraga di Eropa lebih menekankan aspek rekreasi dalam bermain. Sementara itu, di Korea Utara anak berusia 13 atau 14 tahun bahkan sudah mengikuti program latihan yang sangat disiplin, sistematis, dan profesional. Itulah yang menyebabkan mereka bisa unggul sejak usia dini,” tambahnya.
Di Maroko, tim putri U-17 Korea Utara hanya kebobolan tiga gol sepanjang turnamen dan mencetak tiga gol atau lebih dalam empat penampilan. Capaian ini melanjutkan performa gemilang mereka pada tahun sebelumnya, ketika tim U-20 putri pada 2024 tidak hanya mengalahkan Argentina 6–2, tetapi juga meraih tiga kemenangan beruntun dengan skor 1–0 sejak perempat final hingga menjuarai turnamen.
Dengan dukungan Pyongyang International Football School, tempat para pemain muda dipilih, dibina, dan dididik melalui pendekatan yang disiplin serta ilmiah, Korea Utara mampu membaca peluang dan memanfaatkannya secara maksimal.
Kedudukan rezim dan imbalan yang mengubah hidup
Bagi Korea Utara, ini juga merupakan kejayaan bagi rezim komunis.
"Kita perlu mengingat bahwa Korea Utara masih mempertahankan sistem sosialis dan komunis yang sangat kuat,” jelas Lee. "Terutama di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, mereka berupaya membandingkan rezim kapitalis dan komunis, serta menonjolkan bahwa sistem komunis lebih unggul. Dalam sejumlah laporan media Korea Utara tentang prestasi tim mereka, sering ditegaskan bahwa karena berada di bawah rezim komunis, para pemain akan terus berjuang sekuat tenaga, bahkan ketika sudah sangat kelelahan secara fisik.”
"Kemudian mereka secara gamblang membandingkan mentalitas tersebut dengan negara-negara kapitalis. Dalam kapitalisme, ketika atlet kelelahan secara fisik dan cedera, mereka tidak bisa tampil. Mereka harus diganti oleh pelatih mereka. Namun, dalam sistem sosialis, kemauan mereka lebih penting daripada pendapat profesional dari pelatih atau staf medis. Jadi Korea Utara menggambarkan sistem itu sebagai sistem yang lebih unggul.”
Unsur psikologis tersebut tampaknya memberikan keunggulan bagi tim. Namun, di balik rasa patriotisme yang kuat dan tahun-tahun kerja disiplin, terdapat motivasi dari imbalan yang mengubah hidup.
"Meskipun kita sering melihat Korea Utara sebagai negara yang cukup terbelakang, sangat agraris, dan penduduknya mengalami kesulitan, mereka yang tinggal di Pyongyang cukup berbeda. Mereka agak istimewa,” jelas Lee.
Sebagai insentif, katanya, rezim dapat memberikan sertifikat tempat tinggal kepada pemain yang tinggal di luar ibu kota. Sertifikat ini diperlukan untuk masuk ke Pyongyang. Selain itu, banyak juga pemain yang diberi apartemen sebagai imbalan.
Motivasi semacam ini tidak bisa dianggap remeh. Kehidupan di pedesaan Korea Utara terkenal berat, di mana kekurangan pangan dan minimnya layanan kesehatan kerap terjadi. Hidup di kota besar seperti Pyongyang jelas menawarkan kenyamanan yang jauh berbeda.
"Ini adalah cara untuk mengubah hidup mereka. Ini seperti memenangkan lotere dalam arti tertentu,” kata Lee.
Bagaimana masa depan generasi berbakat?
Bagi para pemain bintang seperti Yu Jong-hyang, pencetak gol terbanyak di Piala Dunia U-17 2025, dan Choe Il-son, pemain kunci dalam kemenangan Korea Utara di Piala Dunia U-17 dan U-20 tahun 2024, reaksi yang muncul secara alami adalah pertanyaan: tim mana di liga sepak bola putri Inggris (WSL) atau liga sepak bola putri Amerika Serikat (NWSL) yang akan mencoba merekrut mereka? Namun, anggapan seperti itu melupakan konteks kehidupan dan lingkungan tempat mereka bermain.
"Saya tidak berpikir itu tidak mungkin, tapi tidak begitu mudah,” kata Lee tentang kemungkinan para bintang tersebut bermain di luar negeri.
"Pertama-tama, ada sanksi ekonomi yang saat ini diberlakukan terhadap Korea Utara,” ujarnya. "Selain itu, setiap kali pemain Korea Utara bergabung dengan liga Eropa, seperti yang terjadi beberapa kali di bola basket, gaji mereka tidak dikirim ke rekening pribadi pemain atau agen, melainkan masuk ke rekening pemerintah Korea Utara. Jadi, hal ini menjadi kendala tersendiri.”
Meskipun masih banyak hal tentang tim ini dan negaranya yang belum diketahui, jelas bahwa kesuksesan di level usia muda selalu menjadi bagian dari rencana Korea Utara.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Yuniman Farid