Nigeria Intip Peluang di Balik Perpecahan Kelompok Jihadis
28 November 2025
Pada bulan September lalu, faksi JAS (Jama'atu Ahlus Sunna Lidda'awati wal-Jihad)—inti dari Boko Haram—menyerang Desa Darul Jamal di Negara Bagian Borno, menewaskan puluhan warga yang baru dipulangkan dari kamp pengungsian dalam program repopulasi desa pemerintah di Nigeria. Serangan itu memicu gelombang bentrokan baru dengan faksi-faksi lain, terutama Islamic State West Africa Province (ISWAP).
ISWAP mengklaim serangan terjadi di wilayah kendalinya dan membalas dengan menyerang pasukan Boko Haram di bawah pimpinan Ali Ngule, yang disebut-sebut memimpin operasi Darul Jamal. Rangkaian serangan balik pun menyusul, menimbulkan korban di kedua kubu dan melemahkan masing-masing faksi.
Dari luar, kelompok-kelompok jihad sering tampak satu barisan menghadapi "musuh bersama”—Barat. Namun kenyataannya, perbedaan ideologis dan strategi membuat mereka kerap saling menumpahkan darah.
Perpecahan itu menimbulkan pertanyaan: apa sesungguhnya jurang yang memisahkan mereka, dan adakah peluang yang bisa dimanfaatkan pemerintah dari pertikaian internal ini?
Para pengamat sepakat, perebutan pengaruh di antara kelompok-kelompok Islamis bersenjata di Nigeria dapat berujung pada kemerosotan gerakan jihad di kawasan Sahel.
Saudara seiman, baku bunuh di medan perang
Sejak 2009, Boko Haram melancarkan pemberontakan bersenjata di timur laut Nigeria dan negara-negara sekitar. Sedikitnya 40 ribu orang tewas dan lebih dari dua juta lainnya terusir. Pada puncak kekuatannya pada 2015, kelompok itu menguasai wilayah luas di Borno dan menebar teror hingga kawasan Danau Chad.
Operasi besar-besaran pemerintah kemudian memaksa mereka mundur, menghasilkan kebuntuan rapuh selama hampir satu dekade. Dalam upaya mencari legitimasi global, pemimpin Boko Haram kala itu, Abubakar Shekau, membaiat kelompoknya kepada Islamic State, mengadopsi nama ISWAP. Bukan soal pendanaan—wilayah itu kaya sumber daya—melainkan gengsi, saat ISIS menjadi simbol teror internasional.
Namun titik itu pula yang mulai memecah barisan. Beberapa anggota menilai afiliasi dengan ISIS menjauhkan mereka dari ideologi awal, terutama dalam perlakuan terhadap warga sipil. Kelompok yang menolak tetap memakai nama ISWAP dan mengamankan dukungan ISIS, sedangkan kelompok Shekau terpaksa merestrukturisasi diri menjadi JAS.
Perang melawan "kafir”?
Perbedaan mendasar antara JAS dan ISWAP terletak pada definisi "orang tak beriman”. ISWAP membedakan antara Muslim dan non-Muslim, pendekatan yang membuat mereka lebih diterima sebagian komunitas Muslim di sekitar Danau Chad. Dengan menawarkan perlindungan dan "ketertiban” versi mereka, ISWAP berhasil menancapkan pengaruh kuat di kawasan itu.
Sebaliknya, JAS menganggap semua warga sipil yang tidak bergabung dalam jihad bersenjata sebagai kafir—musuh yang boleh dijarah dan dihukum.
Perbedaan tafsir ini terus memicu bentrok mematikan. Pada 2021, konflik memuncak ketika ISWAP menyerang basis Boko Haram di Hutan Sambisa, mengalahkan Shekau yang kemudian tewas dengan meledakkan diri.
Dua organisasi, satu musuh: Negara
Menurut Vincent Foucher, peneliti di National Centre for Scientific Research, sejak saat itu terjadi "serangkaian pertempuran, kehilangan, dan kekerasan” yang terus berulang. Upaya rekonsiliasi, katanya, berkali-kali gagal. Bagi kedua faksi yang sama-sama memahami medan, kerugian justru lebih besar saat saling bertempur dibanding menghadapi militer negara-negara kawasan Danau Chad.
Meski saling bantai, keduanya tetap ancaman serius. ISWAP kini lebih fokus menyerang instalasi militer, menguasai sedikitnya 15 pos dalam setahun terakhir di Nigeria dan Chad. JAS masih menargetkan komunitas lokal dan orang-orang yang dianggap kolaborator, serta giat melakukan penculikan untuk tebusan. Sesekali mereka juga menyerang pasukan pemerintah.
Malik Samuel, peneliti senior di Good Governance Africa, mengatakan kedua kelompok pada 2025 tetap menunjukkan kemampuan mengancam negara. JAS, ujarnya, masih mampu bertahan dari tekanan ISWAP dan bahkan sesekali melawannya sembari menyerang militer.
Mampukah pemerintah manfaatkan perpecahan?
Meski demikian, pengamat menilai pertikaian internal membuka jendela peluang bagi pemerintah untuk melancarkan ofensif besar—alih-alih menunggu kedua kelompok "saling memusnahkan”. Malik menekankan bahwa ISWAP beroperasi secara terdesentralisasi, memungkinkan rotasi cepat pasukan saat diserang.
"Tugas militer adalah memastikan rotasi itu tidak terjadi,” ujarnya. Salah satu caranya: memutus jalur penghubung menuju wilayah Danau Chad agar bala bantuan ISWAP tak dapat masuk. Strategi itu sebaiknya disertai kampanye informasi untuk menggerus moral petempur yang terisolasi—yang kerap tak memahami alasan kedua faksi jihad itu saling menyerang jika tujuan mereka sama.
Banyak di antara mereka, kata Malik, "tidak mendaftar untuk berperang melawan sesama kelompok.”
Vincent menambahkan bahwa merebut kembali komunitas-komunitas lokal yang terpaksa tunduk pada aturan para jihadis adalah kunci. "Mereka hidup dari wilayah itu—memajaki, menjarah, berdagang, dan merekrut. Maka rebut kembali kantong-kantong itu dan daerah pedesaan di sekitarnya.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid