Ogoh-Ogoh Plastik: Pesan Anak Muda di Tengah Krisis Alam
Setiap tahun menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali melakukan pawai ogoh-ogoh yang disimbolkan sebagai pengusiran energi negatif. Namun, apa jadinya jika ogoh-ogoh juga berisi kritik terhadap krisis alam?

Kemeriahan tahunan yang "berkonsep"
Ratusan komunitas adat banjar di Denpasar ikut serta dalam parade ogoh-ogoh menjelang Nyepi. Ribuan warga pun turun ke jalan, memenuhi sudut kota hingga malam hari. Dalam kepercayaan setempat, ogoh-ogoh diarak sebagai bagian dari ritual pembersihan untuk menetralisir energi negatif sebelum memasuki hari hening, yaitu saat seluruh aktivitas dihentikan di Hari Nyepi.
Ogoh-ogoh dan pesan kritik pada pemerintah
Tradisi ini juga menjadi ruang kolaborasi dan kreativitas generasi muda. Pemuda STT Tunas Muda menghadirkan ogoh-ogoh dengan pendekatan berbeda di tahun 2026 ini. Mereka membuat Ogoh-ogoh sebagai pesan kritik terhadap pemerintah yang dianggap gagal mengelola permasalahan sampah.
Simbol Bhuta Kala
Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala atau energi negatif dalam kehidupan. Patung ini diarak dengan bunyi-bunyian keras dan obor, sebagai simbol menetralisir kekuatan tersebut. Tak heran, setiap tahun ada beragam bentuk ogoh-ogoh yang ditampilkan, mulai dari sosok raksasa bermata melotot hingga figur bertema bencana dan eksploitasi alam.
Ruang ekspresi anak muda
Di balik pembuatan ogoh-ogoh, ada peran pemuda banjar yang terlibat sejak awal, mulai dari merancang konsep hingga proses pembuatan. Ketua Pemuda Tunas Muda, Dwik, mengatakan proses ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga ruang belajar bersama untuk membangun kepedulian dan menyusun pesan yang ingin disampaikan.
Ogoh-ogoh dari limbah plastik
Pemuda STT Tunas Muda memilih menggunakan limbah plastik dan kaleng yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Menurut mereka, keputusan ini bukan sekadar soal bahan, tetapi upaya menunjukkan bahwa sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan pesan.
Tradisi jadi ruang edukasi
Dosen Filsafat UI Saras Dewi melihatnya sebagai bentuk bagaimana tradisi bisa menjadi ruang refleksi. Dia menjelaskan, ritual tidak berhenti pada simbol, tetapi dapat menjadi cara untuk membangun kesadaran baru tentang hubungan manusia dengan alam, termasuk dalam melihat ulang cara kita memperlakukan lingkungan.
Bencana adalah sinyal alam
Saras Dewi menambahkan bahwa banjir yang terjadi pada September 2025 di Bali adalah "sinyal dari alam yang dapat dipercaya." Menurutnya, telah terjadi ketidakseimbangan yang membuat semua pihak menderita.