Pajak Gula Jerman: Kesehatan vs Campur Tangan Negara
11 Mei 2026
Keputusan pemerintah Jerman untuk memberlakukan pajak pada minuman manis dalam paket reformasi kesehatan memicu perdebatan baru mengenai sejauh mana pemerintah boleh ikut campur dalam pola makan masyarakat — meskipun banyak negara di dunia telah menerapkan kebijakan serupa.
Pajak tersebut baru akan diberlakukan pada awal tahun 2028 agar produsen memiliki waktu untuk bersiap. Menurut Kementerian Kesehatan Jerman, kebijakan ini diperkirakan akan menghasilkan pemasukan sebesar €450 juta per tahun. Dana itu tidak akan dimasukkan ke anggaran negara umum, melainkan khusus dialokasikan untuk investasi di sistem layanan kesehatan.
Meskipun rincian pasti pajak tersebut belum tercantum dalam rancangan undang-undang reformasi kesehatan kementerian, panel ahli yang merilis serangkaian usulan pada bulan Maret merekomendasikan skema pajak bertingkat sebagai berikut:
- Minuman dengan kandungan gula kurang dari 5 gram per 100 mililiter — bebas pajak.
- Minuman dengan 5–8 gram gula per 100 ml — dikenakan pajak 26 sen euro per liter.
- Minuman dengan lebih dari 8 gram gula per 100 ml — dikenakan pajak 32 sen euro per liter.
Menteri Kesehatan Jerman Nina Warken dari Partai Uni Demokrat Kristen (CDU) mengatakan bahwa ia mendukung langkah tersebut, meskipun mengakui bahwa pemerintah masih perlu membahas rinciannya — dan pada akhirnya kebijakan fiskal tetap menjadi kewenangan kementerian keuangan.
Beberapa anggota partainya sendiri telah menyuarakan kekhawatiran. Dalam konferensi CDU pada bulan Februari, terjadi perdebatan sengit mengenai isu ini, dengan banyak politisi khawatir pemerintah akan terlihat terlalu menggurui masyarakat.
Dokter dan ahli gizi mendukung
Namun bagi para dokter dan ahli gizi di Jerman, kebijakan ini dianggap cukup masuk akal. Peter Philipsborn, ketua bidang gizi kesehatan masyarakat di Universitas Bayreuth, mengatakan bahwa lebih dari 100 negara di dunia telah menerapkan pajak gula pada minuman, dan berbagai penelitian menunjukkan hasil yang positif.
"Secara keseluruhan, bukti ilmiahnya cukup jelas bahwa pajak semacam ini mengurangi konsumsi minuman manis,” katanya kepada DW. "Dan kita tahu dari banyak penelitian lain bahwa konsumsi rutin minuman berpemanis gula menyebabkan kenaikan berat badan serta meningkatkan risiko obesitas dan penyakit terkait seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.”
Penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat Jerman mengonsumsi gula dari minuman ringan lebih banyak dibanding penduduk di 10 negara berpenduduk terbesar di Eropa Barat. Menurut studi yang dirilis pada Februari oleh organisasi perlindungan konsumen Foodwatch, warga Jerman mengonsumsi hampir 26 gram gula per hari hanya dari minuman — lebih banyak daripada gula yang mereka konsumsi dari cokelat dan permen (20 gram).
Sebagai perbandingan, di Inggris, yang mulai menerapkan pajak gula bertingkat pada 2018, konsumsi gula dari minuman hanya sekitar 16 gram per hari per orang. Contoh Inggris juga menunjukkan bahwa perusahaan minuman merespons pajak tersebut bukan dengan menaikkan harga, melainkan dengan mengurangi kandungan gula dalam produk mereka. Pada 2019, jumlah gula dalam minuman ringan di Inggris turun sebesar 35%, demikian menurut Foodwatch.
Industri minuman tidak yakin
Namun industri makanan dan minuman tampaknya tidak terlalu yakin dengan angka-angka tersebut. Beberapa pihak menyoroti bahwa meskipun pajak gula sudah diterapkan, tingkat obesitas anak di Inggris tetap lebih tinggi dibanding Jerman.
Manon Struck-Pacyna, juru bicara Feferasi Makanan Jerman yang mewakili sekitar 250 perusahaan makanan dan minuman, mengatakan bahwa pajak gula di negara lain mungkin hanya menyebabkan masyarakat beralih mengonsumsi makanan manis lainnya.
"Inilah yang disebut efek substitusi,” katanya kepada DW. "Artinya kita menerapkan sesuatu atas nama pencegahan kesehatan, tetapi belum tentu benar-benar membawa perubahan karena tidak terbukti bahwa masyarakat menjadi lebih langsing dibanding negara lain.”
Namun belum jelas apakah efek substitusi itu benar-benar ada. Dalam pernyataan bulan April yang mendukung pajak gula, yang ditandatangani puluhan ilmuwan pangan dan organisasi kesehatan masyarakat Jerman termasuk Peter Philipsborn, disebutkan bahwa penelitian tidak menemukan bukti bahwa pajak gula menyebabkan peningkatan konsumsi makanan manis lainnya.
Beban bagi pelaku usaha?
Meski demikian, Struck-Pacyna berpendapat bahwa pajak gula pada akhirnya akan meningkatkan biaya bagi konsumen, setidaknya dalam jangka pendek.
"Selain pajak itu sendiri, ada juga tambahan biaya birokrasi bagi perusahaan,” katanya. "Mereka harus meninjau semua minuman dalam portofolio mereka, menghitung kandungan gula tiap produk, dan menentukan kategori pajaknya. Itu membutuhkan banyak jam kerja, dan biaya tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen.”
Menurutnya, hal ini terutama akan merugikan perusahaan kecil dan menengah "yang mungkin hanya memiliki satu produk andalan.” "Kalau rasa produknya tiba-tiba berubah, mereka bisa menghadapi masalah besar — bahkan bisa tersingkir dari pasar,” ujarnya.
Pajak yang membebani masyarakat miskin?
Kritik lain yang muncul minggu ini di Jerman adalah bahwa pajak gula akan berdampak lebih besar pada rumah tangga berpenghasilan rendah, karena mereka mengalokasikan proporsi pendapatan yang lebih besar untuk makanan dan cenderung membeli lebih banyak minuman manis.
Namun Philipsborn yakin manfaat kesehatannya jauh lebih besar daripada kekhawatiran tersebut. "Secara keseluruhan, beban pajak dari pajak gula sebenarnya cukup kecil: rata-rata hanya beberapa euro per rumah tangga per tahun. Tidak terlalu signifikan,” katanya. "Yang lebih penting ketika menilai dampak sosial dari pajak bukan hanya siapa yang membayar, tetapi siapa yang mendapatkan manfaat dari pendapatan pajak itu.”
Menurutnya, masyarakat berpenghasilan rendah justru akan paling diuntungkan. Walaupun mereka mungkin membayar sedikit lebih banyak, mereka juga paling mungkin memperoleh manfaat kesehatan karena kelompok inilah yang paling rentan terhadap penyakit akibat konsumsi gula berlebih. Dengan kata lain, menurutnya pajak gula justru dapat meningkatkan kesetaraan sosial.
Meski begitu, kedua pihak sepakat bahwa pajak gula saja tidak cukup. Seperti dikatakan Philipsborn, kebijakan kesehatan masyarakat yang efektif memerlukan serangkaian langkah terpadu untuk benar-benar menurunkan angka obesitas dalam jangka panjang. Langkah tersebut termasuk menyediakan makanan yang lebih sehat di sekolah dan taman kanak-kanak, melindungi anak-anak dari iklan junk food, meningkatkan kualitas makanan di kantin tempat kerja, serta menurunkan pajak untuk makanan sehat.
Saat ini, rancangan pajak gula di Jerman masih harus melewati parlemen — di mana perdebatan politik kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Puirwaningsih
Editor Yuniman Farid