Pakistan-Taliban Sepakati Gencatan Senjata Jelang Idul Fitri
19 Maret 2026
Pakistan dan pemerintah Taliban Afganistan pada Rabu (18/03) mengumumkan penghentian sementara serangan militer. Gencatan senjata ini disebut sebagai bentuk penghormatan untuk menandai berakhirnya bulan Ramadan.
Kedua pihak menyatakan, jeda untuk merayakan Idul Fitri ini diajukan oleh "negara-negara Islam sahabat," termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turki.
Jeda serangan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Rabu tengah malam hingga Senin tengah malam, menurut Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar.
Jeda sebagai "itikad baik"
"Pakistan melakukan langkah ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam,” tulis Tarar di X.
Namun ia memperingatkan bahwa "setiap serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden teror apa pun di dalam Pakistan" akan memicu dimulainya kembali operasi militer "dengan intensitas yang lebih tinggi."
Islamabad lebih dulu mengumumkan jeda ini. Juru bicara pemerintah Afganistan, Zabihullah Mujahid, kemudian menyampaikan pernyataan serupa pada hari yang sama, disertai peringatan bahwa "jika terjadi ancaman apa pun," pasukan Taliban akan merespons "secara tegas."
Dipicu serangan mematikan di Kabul
Pengumuman ini muncul setelah pejabat Afganistan menyatakan serangan udara Pakistan yang menghantam rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul pada Senin (16/03) telah menewaskan ratusan orang.
Pakistan membantah menargetkan Rumah Sakit Omid Addiction Treatment. Islamabad menyatakan bahwa serangan di Kabul dan wilayah timur Afganistan ditujukan ke lokasi militer, serta menyebut laporan korban sipil dalam jumlah besar sebagai propaganda.
Konflik memasuki pekan ketiga
Sejak akhir Februari, bentrokan kian memanas dengan tembakan lintas batas dan serangan udara yang menjangkau wilayah dalam Afganistan, termasuk ibu kota. Pakistan bahkan menyatakan berada dalam kondisi "perang terbuka" dengan Afganistan.
Pertempuran tersebut telah memicu kekhawatiran di kalangan komunitas internasional, terutama di wilayah perbatasan yang masih menjadi basis aktivitas kelompok militan seperti al-Qaeda, "Islamic State," dan kelompok lainnya yang berupaya bangkit kembali.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani dan Adelia Dinda Sani
Editor: Prihardani Tuah Purba