Pemilih Venezuela Tolak Sosialisme Chavez
4 Desember 2007
Harian Italia Corriere della Sera menulis:
"Besar kemungkinan, Chavez tidak akan mengubur harapannya begitu saja. Ia memang menerima hasil referendum tersebut, namun ia juga menerangkan, hasil ini dipengaruhi oleh kampanye internasional dan -tentu saja- kampanye Amerika Serikat. Jadi masih akan ada adu kekuatan. Tapi Chavez memang tidak berani mempertanyakan hasil referendum itu, hal yang biasanya dilakukan oleh mereka yang mengalami kekalahan. Kegagalan perubahan konstitusi ini menunjukkan, bahwa masih ada kelompok oposisi di Venezuela, yang bisa mencegah rencana-rencana Sang Presiden.“
Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung berkomentar:
"Presiden Venezuela keliru memperkirakan situasi tentang reformasi konstitusi yang diusulkannya. Mayoritas pemilih dalam referendum hari Minggu (02/12) lalu menolak mengikuti rencana Chavez dan menunjukkan batas-batas kekuasaannya. Ini adalah kekalahan besar pertama bagi Sang Presiden populis sejak pemilihannya sembilan tahun lalu. Hasilnya memang tipis, tapi cukup jelas, sehingga Chavez mau tidak mau harus mengakui hasil tersebut. Dengan demikian, salah satu ambisinya untuk menjabat lagi sebagai presiden setelah dua masa legislatur, gagal terwujud. Artinya, tahun 2012 nanti, Chavez tidak bisa mencalonkan diri lagi sebagai presiden."
Mengenai kekalahan Hugo Chavez dalam referendum Venezuela, harian Inggris Telegraph menilai:
“Rakyat Venezuela tidak hanya menolak reformasi konstitusi sosialistis yang diajukan Hugo Chavez, melainkan juga orangnya sendiri. Chavez memang mencanangkan referendum ini sebagai pernyataan setuju atau tidak setuju terhadap kepemimpinannya. Tentu saja, Chavez tetap akan menjalankan pemerintahan dengan tangan besi, dan ia tetap punya kekuasaan untuk mengeluarkan undang-undang sesuai keinginannya. Ia juga tidak perlu menghadapi pemilu sampai tahun 2013 nanti. Sekalipun demikian, nilai simbolis kekalahan ini cukup besar. Tokoh yang ingin jadi pemimpin seluruh Amerika Selatan ini, dipermalukan oleh rakyatnya sendiri.”
Harian Jerman Tagesspiegel berkomentar:
“Dengan rencana peluasan kekuasaan eksekutif, Chavez sudah menuntut terlalu banyak. Sebab hal itu bisa membuka pintu lebar-lebar untuk kekuasaan diktatur. Para pemilih menyadari hal itu dan menolak rencana perubahan konstitusi. Ini menunjukkan, situasi demokrasi di Venezuela masih stabil. Chavez kehilangan pamor sebagai tokoh yang tak terkalahkan. Sekarang ia punya waktu sampai tahun 2013 untuk meyakinkan rakyat Venezuela tentang sosialisme yang ia inginkan, dengan kata-kata dan bukan melalui dekrit.”