1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Dunia DigitalJerman

Pingtok: Remaja Pecandu Narkoba di TikTok

Enno Hinz
10 Februari 2026

Lewat tagar #Pingtok, remaja mendokumentasikan momen mereka menggunakan narkoba, saling bertransaksi obat, dan menjangkau jutaan penonton di TikTok. Seberapa berbahayakah tren ini?

https://p.dw.com/p/58FKr
Ponsel pintar dengan logo TikTok
Di TikTok, tren di mana remaja merekam konsumsi narkoba mereka menyebar luas hampir tanpa pengawasan dan tidak diketahui orang tua.Foto: Joly Victor/abaca/picture alliance

Pupil mata melebar, berpose dalam keadaan mabuk di depan kamera, dan biasanya sendirian. Di TikTok, semakin banyak anak muda yang secara terbuka memperlihatkan pengalaman mabuk akibat narkoba. Video-video tersebut menjangkau jutaan penonton – seringkali dengan tagar #Pingtok.

Jika dulu konsumsi narkoba digunakan secara sembunyi-sembunyi, kini difilmkan, dibuat estetik dan dibagikan pada publik - dengan konsekuensi yang mengancam nyawa. Hal ini kerap tidak diketahui para orang tua.

"Sejak saya mulai mengedukasikan soal kecanduan  di TikTok, saya mendapat begitu banyak pesan. Dan yang sangat mengejutkan, banyak sekali anak di bawah umur”, jelas Sarah, seorang pemengaruh  sosial media dalam interview dengan DW.

Pada usia 15 tahun Sarah sudah kecanduan narkoba. Kini di usia 26 tahun ia gencar mengedukasi lewat TikTok soal ketergantungan dan pemulihannya.

Banyak pengikutnya yang lebih muda terjerumus ke narkoba lewat TikTok. "Dia tidak memiliki siapa-siapa untuk berbicara dan sebagian menulis pengalaman dan trauma mereka kepada saya,” jelas Sarah. 

‘Sekali klik' menuju narkoba

TikTok memperlihatkan betapa mudahnya bagi remaja untuk mengakses konten terkait narkoba. Cukup mencari dengan tagar #Pingtok, dan muncul deretan video remaja yang tengah di bawah pengaruh narkoba. Semakin lama menggulir, emakin banyak klip video yang ditampilkan algoritma.

Menanggapi pertanyaan DW mengapa TikTok tidak lebih tegas menindak penyebaran konten semacam ini, seorang juru bicara TikTok menjelaskan:

"Keamanan dan kesejahteraan komunitas kami adalah prioritas. Kami melarang tampilan, iklan atau penjualan narkoba atau zat adiktif lainnya dan menghapusnya dari platform - lebih dari 99 persen konten yang melanggar aturan ini dihapus sebelum dilaporkan."

Ada apa di balik Pingtok?

Namun Pingtok menunjukkan betapa mudahnya aturan ini diakali. Pengguna berbicara menggunakan kode tertentu. Mereka memakai emoji, suara, dan istilah baru untuk menghindari pengawasan. Mereka tidak menampilkan penggunaan narkoba secara langsung namun hanya menunjukkan pupil mata mereka yang membesar. Inilah juga asal istilah Pingtok. Kata "ping,” yang digunakan sebagai kode untuk konsumsi narkoba MDMA atau ectasy.

Bahasa algoritmis semacam ini disebut juga Algospeak, membuat konten sulit dikenali dan dihapus cepat. Bahkan jika istilah diblokir, pengguna cepat beradaptasi. Tagar #Pingtok kini telah diblokir TikTok, namun muncul varian lainnya seperti #Pingtokk atau #Pintok.

Perdagangan narkoba di TikTok

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, TikTok menjadi semacam pasar informal. "Kamu bahkan tidak perlu keluar rumah. Semua yang kamu mau bisa didapatkan langsung di kamarmu," ujar Sarah.

Komentar di video menunjukkan realitas ini. Pertanyaan seperti "Siapa yang jual?" atau "Butuh sesuatu di Berlin" mendapat jawaban langsung dari penjual. Penjual menggunakan simbol seperti colokan pengisi daya untuk menandakan kesedian mereka, lalu mengundang pengguna ke grup chat di Telegram.

Satu tablet MDMA atau ekstasi di atas tangan
Remaja mengonsumsi MDMA atau ekstasi dan menunjukkan pupil mata yang membesar atau rahang yang bergemeletuk dalam video yang mereka publikasikan di TikTok. Foto: Ennio Leanza/KEYSTONE/picture alliance

Publisitas mengubah cara mengonsumsi narkoba

Remaja selalu bereksperimen dengan narkoba. Namun publisitas mengubah segalanya, menurut Sarah. Dulu orang mengonsumsi secara sembunyi-sembunyi bersama temannya. Sekarang kamera dinyalakan dan banyak yang mengonsumsi narkoba sendirian semua demi mendapatkan klik di TikTok.

Data terbaru menunjukkan betapa berbahayanya penggunaan narkoba yang tidak terkontrol ini. Menurut Data Kepolisian Jerman (BKA), kematian akibat narkoba hampir dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2024, kematian di bawah usia 30 naik 14 persen.

Uni Eropa tak izinkan TikTok bayar pengguna untuk menonton?

Pemerintah pertimbangkan larangan media sosial

Tekanan politik terhadap media sosial meningkat di ranah global. Beberapa negara ingin melindungi remaja dari konten berbahaya.

Australia menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada Desember lalu.

Inggris, Denmark, dan baru-baru ini Prancis, berencana melakukan pembatasan serupa. Uni Eropa juga sedang menilai apakah platform sosmed sudah memenuhi kewajiban perlindungan anak, termasuk kemungkinan pembatasan akses.

Tetapi apakah larangan tersebut jadi solusi terbaik?

Sidney, Australia 2025 | Larangan sosmed untuk anak di bawah usia 16 tahun | akun yang terblokir
Sejak Desember 2025, Australia jadi negara pertama di dunia yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.Foto: Str/AFP/Getty Images

Mereka yang membutuhkan bantuan

"Ada sisi lain yang kerap diabaikan di tengah perdebatan konsumsi narkoba dan media sosial," kata peneliti Layla Bouzoubaa kepada DW. "Yakni orang yang menggunakan platform untuk mendapatkan bantuan dan mereka tidak sedang ‘memuliakan' narkoba."

Bouzoubaa dan timnya menganalisis ratusan video TikTok tentang penggunaan zat adiktif. Hasilnya: lebih dari separuh konten membahas pencegahan narkoba, pemulihan dari kecanduan, atau permintaan bantuan.

Menghapus semua konten atau melarang platform bisa berbahaya bagi kelompok ini, kata Bouzoubaa."Kami tidak ingin memutus jalur bantuan bagi mereka ini, ambil secara bersama memoderasi konten dengan sangat ketat. Jika platform ingin mengubah sesuatu, maka harus melibatkan mereka yang terdampak."

Pencegahan secara daring

Sarah kini tidak menggunakan TikTok untuk ‘mengiklankan' narkoba, tapi memperingatkan konsekuensi nyata dari kecanduan.

"Komisioner narkoba dan pekerja sosial harus menyadari bahwa sebagian besar kecanduan narkoba terjadi secara daring. Baik bagi mereka untuk mengampanyekan bahaya narkoba dengan turun ke jalan atau sekolah-sekolah, tapi jangan lupakan ranah daring - terutama karena banyak pengguna medsos masih di bawah umur."

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait