Politik AS di Irak; Rice di Timur Tengah; Sarkozy kandidat UMP
15 Januari 2007
Mengenai strategi baru AS di Irak, harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis:
"Dalam politik baru AS di Irak tercakup pula sikap yang lebih keras terhadap Suriah dan Iran. Yang mula-mula merasakannya adalah Teheran. Penahanan warga Iran di Irak hanya sedikit saja ada kaitannya dengan dukungan mereka terhadap kaum pemberontak. Aksi-aksi serupa itu terutama ditujukan untuk menggoyahkan perasaan 'tidak bisa diganggu gugat' yang sejak lama dibanggakan oleh golongan elit Iran. Sehubungan dengan sikap keras kepala Iran dalam sengketa atom, untuk politiknya itu, Washington dapat memperhitungkan dukungan diam-diam dari negara-negara Arab yang bertetangga dan sekaligus memperagakannya kepada Presiden Assad yang masih muda usia dan nampak belum terlalu mantap."
Perjalanan Menlu Condoleezza Rice ke Timur Tengah ditanggapi oleh seorang anggota parlemen Israel dengan rasa kasihan. Kurang lebih dikatakannya 'Condi yang malang datang untuk ke-15 kalinya ke Timur Tengah tanpa konsep baru dan langsung menghadapi lima gagasan perdamaian'. Sedangkan harian liberal kiri Denmark Information yang terbit di Kopenhagen mengemukakan:
"Menlu Condoleezza Rice ke Timur Tengah untuk memobilisasi apa yang disebut Presiden Bush sebagai kekuatan moderat di kawasan itu. Seminggu setelah membeberkan politiknya yang baru, Rice diutus untuk menjumpai para pemerintahan Sunni yang pastilah terkejut dengan semakin diperkuatnya kelompok Syiah di Irak. Politik AS bukan hanya menyinggung kesenjangan antara kedua aliran dalam agama Islam itu; melainkan juga hendak mengisolasi elemen-elemen radikal seperti Iran, Suriah dan kelompok Hamas. Ini membuat masalahnya semakin rumit. Rice mengharapkan berbagai perubahan di seluruh kawasan Timur Tengah, padahal pihak-pihak yang terlibat konflik tidak berminat bahwa perjalanannya untuk menghimpun kekuatan moderat itu adalah juga untuk menutupi kekeliruan-kekeliruan dari politik baru Bush."
Setelah melalui sikut-menyikut intern, partai konservatif Perancis UMP akhirnya mencalonkan Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy sebagai kandidat presiden. Menurut harian Jerman Badische Tageblatt yang terbit di Baden-Baden:
"Bagi Sarkozy, yang lebih penting dari sengketa intern adalah apakah ia dapat meyakinkan mayoritas warga Perancis, bahwa ia sudah berubah dari penganut garis keras menjadi tokoh integrasi, yang hendak mewakili semua kelompok masyarakat. Penampilannya justru meragukan."
Harian Inggris The Guardian yang terbit di London menulis:
"Tidak diragukan lagi, Sarkozy melambangkan pemutusan dengan berbagai aspek dari gaullisme dalam wujud Presiden Chirac. Sarkozy adalah penantang tanpa tabu. Pencalonannya berarti ditinggalkannya pola ekonomi dan sosial yang terpusat pada negara, hal mana mendominasi kedua sayap politik Perancis di Abad ke 20."
Sedangkan harian liberal kiri Perancis Liberation yang terbit di Paris menyebut Nicolas Sarkozy sebagai orang yang berbahaya, terutama bagi kelompok kiri. Selanjutnya dapat dibaca:
"Ia bukanlah Caesar dan juga bukan Napoleon, seperti anggapan yang kadang-kadang muncul. Setelah terpilih dalam sebuah plebisit dengan mayoritas besar dari kubunya sendiri, Sarkozy akan memegang kemudi konservatif modern. Energi, bakat dan organisasi telah membuatnya menang. Ini meresahkan."