1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIndonesia

Prabowo Tawarkan Mediasi, Dubes Iran: Tak Ada Negosiasi

Felicia Salvina
4 Maret 2026

Meski mengapresiasi niat mediasi Indonesia, Dubes Iran untuk RI mengatakan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat. Sementara itu, pakar menilai Indonesia tak punya daya tawar dan berada dalam posisi dilematis.

https://p.dw.com/p/59fpD
Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi berbicara dalam konferensi pers terkait wafatnya Ali Khamenei
Duta Besar Iran untuk RI: Serangan AS-Israel adalah pelanggaran Piagam PBBFoto: DW Indonesia

"Kami tentu menyampaikan apresiasi atas pesan dan kesiapan (mediasi) yang telah disampaikan oleh Indonesia, tetapi bagi kami, tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan dengan kami, yaitu Amerika Serikat (AS)."

Pernyataan itu disampaikan oleh Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, saat menanggapi kesiapan Indonesia untuk memediasi perang AS-Israel dengan Iran.

Dalam konferensi pers yang digelar usai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam sebuah serangan yang dilancarkan AS-Israel pada Senin (02/03), ia menegaskan bahwa tidak ada jaminan Amerika Serikat "patuh terhadap sebuah kesepakatan". Menurutnya, saat ini mediasi sudah bukan lagi solusi.

Karangan bunga belasungkawa untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei di Kedutaan Besar Iran, Jakarta
Tawaran mediasi Indonesia dalam perang AS-Israel dengan Iran disampaikan via unggahan Kemlu RI di XFoto: DW Indonesia

Indonesia usul mediasi perang AS-Israel dengan Iran

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk bertolak ke Teheran bila dibutuhkan untuk memediasi Amerika Serikat dan Iran.

Melalui unggahan Kementerian Luar Negeri RI, pemerintah menyesalkan gagalnya perundingan AS-Iran yang berujung pada eskalasi militer. Dalam hal ini, Indonesia juga mendorong seluruh pihak untuk menempuh jalur damai melalui dialog dan diplomasi. 

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif," tulis @Kemlu_RI di platform X pada Sabtu (28/02).

Pakar: Indonesia tidak punya daya tawar apa pun

Menanggapi niat pemerintah Indonesia itu, sejumlah pakar dan tokoh menilai Indonesia tidak dalam posisi yang ideal untuk menjadi juru damai dalam perang ini.

"Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu," tegas Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ke-10 dan 12.

Pernyataan ini sejalan dengan ucapan M. Waffaa Kharisma dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

"Indonesia tidak punya daya tawar apa pun dalam konflik ini dan dinamikanya masih sangat panas dan eskalatif sehingga makin sulit juga untuk menyerukan ketenangan dan deeskalasi," ujarnya.

Menurut Waffaa, yang lebih penting bagi Indonesia saat ini bukan ikut terlibat dalam eskalasi, tetapi bersiap menghadapi dampak lanjutannya. Indonesia perlu fokus memperkuat daya tahan agar tidak mudah terpukul oleh efek berantai yang mungkin terjadi.

Senada dengan itu, Yusli Effendi, Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, menilai langkah paling realistis adalah memperkuat perlindungan kepentingan nasional. Salah satu yang krusial adalah mengantisipasi kenaikan harga minyak agar dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat bisa ditekan.

"Lonjakan harga minyak akibat konflik, terutama jika Selat Hormuz terganggu, akan langsung berdampak pada subsidi dan defisit anggaran," kata Effendi. 

Dilema menentukan sikap

Menurut Waffaa, apa pun sikap yang disuarakan Indonesia saat ini kemungkinan besar tidak sulit untuk bisa langsung meredakan konflik, terutama karena dinamika serangan masih terus berlangsung.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam perspektif internasional, Iran kerap mendapat sorotan terkait tata kelola domestiknya karena dianggap represif pada warganya. Kondisi ini membuat ruang gerak Indonesia menjadi terbatas, karena dukungan yang terlalu eksplisit berpotensi menimbulkan persepsi keberpihakan pada pihak yang salah. 

Meski demikian, Waffaa menekankan bahwa serangan yang menimbulkan korban sipil tetap tidak bisa dibenarkan. Karena itu, Indonesia dinilai tetap perlu menyampaikan kecaman terhadap tindakan yang melanggar prinsip kemanusiaan.

"Yang paling bisa dilakukan adalah mengutuk agresinya karena tidak beralasan dan dipicu oleh histeria," tegas Waffaa.

Sementara itu, Effendi melihat risiko lain jika Indonesia memilih bersikap netralitas pasif. Dalam pandangannya, di panggung global, persepsi memiliki bobot yang sama pentingnya dengan posisi formal suatu negara.

"Secara geopolitik, Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas. AS bisa melihat Indonesia kurang kooperatif, sementara Iran dan mitra BRICS+ bisa menganggap Indonesia terlalu tunduk pada tekanan Barat," tuturnya.

Karena itu, Effendi menilai Indonesia tetap perlu menunjukkan sikap yang terukur, terutama mengingat adanya dampak ekonomi yang nyata. Kejelasan posisi, menurutnya, dapat membantu Indonesia menjaga daya tawar, termasuk dalam mengamankan pasokan energi alternatif dan melindungi ekspor.

"Pada akhirnya, yang paling krusial adalah memastikan Indonesia tetap konsisten pada prinsip bebas aktif, menjaga stabilitas domestik, dan mengamankan kepentingan nasional di tengah pergeseran geopolitik global," tutupnya.

Apa yang terjadi di Iran?

Diketahui bahwa AS-Israel melancarkan serangan antisipasi pada Sabtu (28/02) ke Teheran, Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.  

Kematian pemimpin berusia 86 tahun yang telah berkuasa sejak 1989 itu dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran. Serangan tersebut turut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk anggota keluarga Khamenei dan petinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Teheran menyatakan melancarkan pembalasan terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. 

Serangan dilancarkan Iran ke pangkalan militer AS dan Tel Aviv. Serangan itu setidaknya menargetkan Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), dan pangkalan AS Kelima di Bahrain.

IRGC menyebut akan memulai “operasi ofensif paling dahsyat” dalam sejarah militer Iran. Sementara, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran akan lanjut "menghancurkan" musuh-musuh.

"Angkatan bersenjata Republik Islam Iran bertindak dengan kekuatan untuk menghancurkan basis-basis musuh, dan mereka akan terus mengambil tindakan serta mengecewakan para musuh, seperti yang selalu mereka lakukan," tegasnya.

Editor: Tezar Aditya dan Hani Anggraini

Felicia Salvina Jurnalis untuk Deutsche Welle Indonesia di Jakarta.