Riset: Makanan Ultraproses, Nikmat di Lidah, Risiko di Tubuh
19 November 2025
Para penulis sebuah penelitian baru mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan terhadap meningkatnya konsumsi ultra-processed foods (UPF) atau makanan ultraproses, yang mereka sebut sebagai penyebab melonjaknya berbagai penyakit.
Makanan ultraproses dinilai menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik dan membutuhkan perhatian mendesak, menurut para pakar kesehatan global.
Lebih dari 40 pakar dari berbagai negara mempublikasikan penelitian mereka di jurnal medis terkemuka The Lancet, menuding UPF sebagai penyebab menurunnya kualitas pola makan global dan meningkatnya penyakit, mulai dari obesitas hingga kanker.
"Ini tentang bukti yang kita miliki saat ini terkait makanan ultraproses dan dampaknya pada kesehatan manusia," ujar Carlos Monteiro, peneliti utama dari Universitas Sao Paulo, dalam sebuah konferensi pers daring pada Selasa (18/11). "Apa yang kita ketahui sekarang sudah cukup untuk membenarkan tindakan publik berskala global."
(Ed: Makanan ultraproses (UPF) menurut badan kesehatan dunia WHO / International Agency for Research on Cancer-IARC adalah produk industri massal yang diformulasi dari bahan-bahan yang jarang (atau tidak) dipakai dalam masakan rumah, seperti pati termodifikasi, minyak terhidrogenasi, serta tambahan aditif seperti emulsi dan pemanis, dan biasanya berupa makanan siap saji.)
Peneliti menyalahkan industri pangan
Para peneliti menyebutkan bahwa UPF saat ini menyumbang lebih dari setengah total kalori yang dikonsumsi di Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Mereka menilai korporasi besar telah mengubah pola makan global dalam beberapa dekade terakhir melalui pemasaran agresif untuk menjual produk dengan bahan berkualitas rendah dan metode produksi artifisial.
Delapan perusahaan produsen UPF — Nestlé, PepsiCo, Unilever, Coca-Cola, Danone, Fomento Económico Mexicano, Mondelez, dan Kraft Heinz — menguasai 42% dari total aset sektor tersebut yang mencapai 1,5 triliun dolar AS pada tahun 2021, demikian menurut penelitian itu.
"Pendorong utama peningkatan konsumsi UPF secara global adalah kekuatan ekonomi dan politik industri UPF yang terus bertumbuh, serta restrukturisasi sistem pangan yang memprioritaskan keuntungan di atas segalanya,” tulis para peneliti. "Industri ini mencakup produsen UPF sebagai inti, tetapi juga jaringan luas aktor saling bergantung yang secara kolektif mendorong produksi, pemasaran, dan konsumsi UPF.”
Para penulis menyerukan agar negara-negara menerapkan label peringatan pada kemasan, membatasi pemasaran, dan mengenakan pajak pada jenis UPF tertentu.
Politik dalam sistem pangan
Istilah "makanan ultraproses” sering menuai kritik, dengan sebagian ilmuwan menilainya "terlalu menyederhanakan.” Perbedaan pandangan soal UPF di kalangan ilmiah telah memicu perdebatan intens.
Para penulis mengakui adanya kritik tersebut dalam seri publikasi The Lancet, dan menyebutkan bahwa lebih banyak bukti memang dibutuhkan. Namun, mereka menegaskan bahwa sinyal yang ada saat ini sudah cukup kuat bagi pemerintah untuk bergerak.
Para peneliti juga menanggapi kritik terhadap riset mereka dengan mengatakan bahwa upaya untuk "menciptakan keraguan ilmiah” terkait UPF mirip dengan taktik yang pernah digunakan industri tembakau.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid