Bahaya Plastik bagi Kesehatan Bisa Meningkat Dua Kali Lipat
28 Januari 2026
Plastik digunakan hampir di mana-mana, mulai dari kemasan, furnitur, pakaian, juga sebagai bahan bangunan, perangkat medis, dan ban mobil. Dampak dari konsumsi plastik kini kian terasa. Sampah plastik sering kali berakhir di alam, kemudian tertimbun masuk ke dalam tanah atau ke lautan. Plastik mengganggu ekosistem. Selain itu, plastik terurai menjadi partikel-partikel yang sangat kecil, yang disebut mikroplastik dan nanoplastik.
Saat ini, mikroplastik tidak hanya ditemukan di udara, di tanah, di laut dalam, atau di es Arktik, tetapi juga di dalam organisme hidup. Mikroplastik bahkan telah terdeteksi di dalam tubuh manusia - di dalam darah, paru-paru, otak, dan bahkan pada tinja pertama bayi yang baru lahir.
Konsumsi plastik global meningkat pesat
Kini para peneliti turut menelaah emisi yang dilepaskan sepanjang ‘siklus hidup' produk plastik mulai dari ekstraksi minyak bumi dan gas alam untuk bahan baku plastik, proses produksi, transportasi, daur ulang, hingga pembuangan plastik.
Dari semua siklus hidup tersebut dihasilkan gas rumah kaca, partikel halus, dan bahan kimia berbahaya yang dapat merugikan kesehatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dari dampak pemanasan global yang terus meningkat.
Menurut proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) konsumsi plastik global dapat meningkat hampir tiga kali lipat hingga tahun 2060, maka dari itu dampak negatifnya pun akan semakin besar.
Sebuah studi baru yang diterbitkan pada jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health membandingkan dampak-dampak negatif tersebut dalam enam skenario berbeda, tergantung pada bagaimana manusia menangani plastik di masa depan. Pada tiap skenario, para penulis meninjau kondisi pada tahun 2040.
Berapa banyak tahun kehidupan yang hilang akibat plastik
Untuk perhitungannya, para peneliti menggunakan satuan "Disability-Adjusted Life Years" (DALYs). Satu DALY berarti satu tahun kehidupan sehat yang hilang, baik karena kematian ataupun hidup dengan penyakit.
Mereka menghitung, pertama, berapa banyak plastik yang diperkirakan akan ada setiap tahunnya. Kedua, mereka memperkirakan berapa banyak tahun kehidupan manusia yang kemungkinan akan hilang pada tahun 2040, bergantung pada jumlah plastik yang ada.
Proyeksi ini menunjukkan berapa banyak emisi yang merusak kesehatan yang dihasilkan plastik dalam jumlah tertentu. Emisi mencakup pencemaran udara oleh partikel plastik halus yang muncul saat transportasi produk-produk plastik. Termasuk juga emisi CO₂ yang dihasilkan dari ekstraksi minyak dan gas atau dari produksi plastik. Selain itu, pelepasan bahan kimia beracun dari plastik yang terjadi saat produksi plastik atau dari limbah plastik turut diperhitungkan.
Tim peneliti menjadikan tahun 2016 sebagai titik awal. Pada tahun tersebut, sekitar 2,1 juta tahun kehidupan manusia hilang akibat jumlah plastik yang ada di seluruh dunia. Dalam skenario pertama, para peneliti mengasumsikan hingga tahun 2040 jika situasi berjalan seperti sekarang dimana produksi plastik baru tetap sama setiap tahun, jumlah plastik yang didaur ulang tidak berubah dan jumlah sampah plastik yang masuk ke lingkungan juga tetap sama.
Dalam kasus ini, jumlah tahun kehidupan yang hilang akan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2016: pada tahun 2040 akan ada sekitar 4,5 juta tahun kehidupan yang hilang, atau DALYs.
Dalam skenario paling optimistis di mana lebih sedikit plastik digunakan, lebih banyak plastik yang didaur ulang, dan pengelolaan limbah lebih baik daripada saat ini, jumlah tahun kehidupan yang hilang pada tahun 2040 mencapai 2,6 juta - setengah juta lebih banyak dibandingkan tahun 2016.
Plastik: salah satu penyebab utama pencemaran udara
"Perkiraan lebih dari empat juta tahun kehidupan sehat yang hilang pada tahun 2040 setara dengan sekitar lima jam kesehatan penuh yang hilang untuk setiap orang di Bumi," jelas Walter Leal dari Universitas Ilmu Terapan Hamburg (HAW Hamburg) untuk skenario "situasi berjalan seperti sekarang”. Sepanjang seluruh siklus hidupnya, plastik menyumbang sekitar 4,5 persen dari emisi gas rumah kaca buatan manusia, jelas Leal.
Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan emisi dari sektor energi atau pertanian. Beban kesehatan akibat plastik juga lebih rendah dibandingkan dampak pencemaran udara secara umum.
Namun demikian, plastik tetap merupakan "salah satu sumber utama partikel pencemar udara," kata Leal. Mengingat pertumbuhan jumlah plastik global, tindakan politik perlu segera diambil.
Emisi plastik hanya "puncak gunung es" dari ancaman kesehatan
Para penulis menekankan bahwa mereka tidak memasukkan potensi dampak negatif mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia dalam studi ini, karena belum memadainya data yang tersedia. Minimnya data juga membuat dampak bahan kimia beracun yang dilepaskan saat penggunaan produk plastik juga tidak diperhitungkan dalam studi ini.
Oleh karena itu, dampak negatif terhadap kesehatan manusia yang diperkirakan dalam studi ini tidak diragukan hanyalah puncak gunung es, menurut salah satu penulis studi, Megan Deeney, kepada DW. "Kami sudah memiliki cukup bukti, kita harus segera bertindak. Produksi plastik terus meningkat dengan cepat meskipun bukti kerusakannya sudah ada, dan pencemaran plastik meningkat pesat di seluruh dunia."
Hal ini terus terjadi meskipun telah diketahui bahwa pencemaran plastik berkaitan erat dengan masalah kesehatan planet dan manusia yang lebih luas. Studi-studi lain telah menunjukkan sejauh mana plastik memperparah risiko dan tantangan di semua batas ekologis bumi menjaga stabilitas lingkungan, tambah Deeney.
Mengapa produksi plastik perlu dikurangi? Namun, mengapa hal itu tidak terjadi?
Menurut tim peneliti bahaya kesehatan akibat plastik yang dijelaskan dalam studi ini dapat dikurangi secara efektif dengan mengurangi produksi plastik baru. Namun, plastik tidak dapat begitu saja digantikan dengan bahan lain.
Sebaliknya, konsumsi plastik secara keseluruhan harus dikurangi, kata Deeney misalnya dengan menghentikan produksi produk plastik yang tidak perlu dan melakukan daur ulang. Sebaiknya hanya produk plastik yang "tidak memiliki alternatif" yang digunakan, sembari secara bersamaan melarang bahan kimia berbahaya dari semua material.
Dalam skenario ideal, menurut Deeney, langkah-langkah ini dan pertukaran informasi akan "diselaraskan di ranah internasional melalui perjanjian plastik global yang kuat dan mengikat secara hukum, yang turut mengatur seluruh siklus hidup plastik serta bahan kimia berbahaya di dalamnya.
Namun, perjanjian plastik internasional semacam itu gagal tercapai tahun lalu. Meskipun semua negara peserta pada KTT Plastik PBB di Jenewa 2025 sepakat bahwa sesuatu harus dilakukan terhadap jumlah sampah plastik yang sangat besar, negara-negara penghasil minyak besar memblokir kesepakatan yang juga akan mengurangi produksi plastik baru.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh: Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid