Siapa Ali Larijani, Figur Kunci di Balik Kekuasaan Iran?
18 Maret 2026
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi kematian ketuanya, Ali Larijani, pada Selasa (17/3) malam. Israel sebelumnya menyatakan telah membunuh Larijani dalam sebuah serangan udara.
Larijani merupakan tokoh Iran paling senior yang tewas sejak Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, meninggal dalam serangan Israel pada 28 Februari.
Larijani dilaporkan sebagai salah satu dari sedikit orang yang dipercaya Khamenei untuk memastikan kelangsungan rezim jika sang Ayatullah wafat.
Sekitar 24 jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, Larijani muncul di televisi nasional dan media sosial untuk mengecam kedua negara tersebut karena telah “membakar jantung bangsa Iran.”
“Kami akan membakar hati mereka,” katanya. “Kami akan membuat para penjahat Zionis dan orang-orang Amerika yang tak tahu malu menyesali tindakan mereka.”
Meskipun pernyataan keras seperti itu bukan hal yang luar biasa bagi Larijani, ia juga membangun reputasi internasional sebagai seorang pragmatis.
Selama karier politiknya yang panjang, ia dikenal sebagai pengendali kekuasaan yang keras di dalam rezim sekaligus negosiator yang kompeten dalam berurusan dengan Rusia, Cina, bahkan Amerika Serikat.
“Keluarga Kennedy-nya Iran”
Segera setelah kematian Khamenei, posisi baru Larijani di puncak hierarki Iran (sebelum putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru) cukup mengejutkan, mengingat ia tidak memiliki peluang untuk secara formal menggantikan Khamenei.
Baik Khamenei maupun pendahulunya, Ruhollah Khomeini, adalah ulama senior dalam Islam Syiah yang diangkat sebagai pemimpin tertinggi dalam sistem teokrasi yang dibentuk setelah Revolusi Islam 1979.
Larijani, yang lahir di Irak, bukan seorang ulama. Namun, ia berasal dari keluarga dengan hubungan religius dan politik yang sangat kuat dalam rezim, yang pernah disebut majalah Time sebagai “Kennedy-nya Iran.”
Ayah Larijani adalah seorang 'grand' ayatullah. Saudaranya, Sadeq Ardeshir Larijani, juga mencapai tingkat ayatullah dan membangun karier politik, termasuk memimpin lembaga kehakiman Iran antara 2009 hingga 2019. Saudara lainnya, Mohammad-Javad Larijani, adalah tokoh kebijakan luar negeri senior yang pernah menjadi penasihat Ayatullah Khamenei. Bahkan sebelum kematian Khamenei, sempat beredar rumor bahwa keluarga Larijani berupaya menempatkan salah satu anggotanya sebagai pemimpin tertinggi berikutnya.
Mertua Ali Larijani, almarhum Morteza Motahhari, juga merupakan sahabat dekat Ruhollah Khomeini dan asistennya selama revolusi 1979.
Namun, Ali Larijani secara resmi mengamankan kekuasaannya melalui sistem politik Iran.
Lahir pada 1958, Larijani bergabung dengan Garda Revolusi Iran pada 1981 dan menjadi komandan pada tahun-tahun awal perang Iran-Irak. Ia sempat menempuh pendidikan di seminari agama, kemudian meraih gelar dalam ilmu komputer dan matematika, sebelum melanjutkan ke jenjang magister dan doktoral dalam filsafat Barat di Universitas Teheran. Fokus akademiknya, termasuk disertasi doktoralnya pada 1995, membahas filsuf Jerman Immanuel Kant.
Tersingkir oleh Ahmadinejad
Sambil menempuh pendidikan filsafat, Larijani juga memanfaatkan latar belakang militernya dan koneksi keluarga untuk membangun karier politik, hingga menjadi menteri kebudayaan di usia pertengahan 30-an. Pada 1994, Ayatullah Khamenei menunjuknya sebagai kepala penyiaran negara Iran, posisi yang dipegang selama satu dekade. Ia dikenal menggunakan lembaga tersebut sebagai alat propaganda pemerintah, termasuk melalui program seperti Hoviat (Identitas) yang secara terbuka melabeli intelektual antirezim sebagai pengkhianat yang didanai Barat.
Larijani pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005, namun hanya memperoleh kurang dari 6% suara pada putaran pertama dan gagal masuk putaran kedua. Pemilu tersebut dimenangkan oleh tokoh garis keras Mahmoud Ahmadinejad.
Larijani kemudian menjabat sebagai sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus kepala negosiator nuklir Iran. Ia mengundurkan diri dari posisi tersebut pada 2007 karena perbedaan pandangan dengan Ahmadinejad.
Menghadapi mitra dan lawan Iran
Konflik dengan kelompok garis keras terus memengaruhi karier politik Larijani. Meski demikian, ia berhasil menjadi ketua parlemen pada 2008 dan mempertahankan posisi itu selama 12 tahun.
Selama menjabat, ia memainkan peran penting dalam mendapatkan dukungan legislatif untuk kesepakatan nuklir JCPOA tahun 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia, termasuk AS, Cina, Rusia, Jerman, Inggris, dan Prancis, yang bertujuan membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi.
Kesepakatan tersebut dibatalkan oleh Donald Trump pada masa jabatan pertamanya pada 2018.
Pada 2020, Larijani ditugaskan mengawasi perjanjian kerja sama strategis 25 tahun dengan Cina, yang difinalisasi pada tahun berikutnya.
Dilarang maju dalam pemilu 2021 dan 2024
Setelah keberhasilan kesepakatan dengan Cina, yang diproyeksikan membawa investasi sebesar $400 miliar (sekitar Rp6,8 kuadriliun) ke sektor energi Iran, Larijani kembali mencoba mencalonkan diri sebagai presiden pada 2021.
Namun secara mengejutkan, ia didiskualifikasi oleh Dewan Garda. Badan tersebut, terdiri dari enam ulama yang ditunjuk oleh ayatullah dan enam ahli hukum yang disetujui parlemen, tidak memberikan alasan resmi. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Larijani didiskualifikasi karena putrinya tinggal di AS dan memiliki paspor Inggris, sementara yang lain menilai langkah ini untuk membuka jalan bagi kandidat pilihan rezim, Ebrahim Raisi.
Ayatullah Sadeq Larijani secara terbuka mengeluhkan bahwa saudaranya didiskualifikasi “berdasarkan informasi palsu dari dinas intelijen” dan bahwa “kebohongan” sengaja disebarkan kepada Dewan Garda.
Analis Iran, Ali Afshar, saat itu mengatakan kepada DW bahwa alasan utama diskualifikasi adalah karena Larijani “secara terbuka mengkritik Raisi dan anggota Garda Revolusi” serta tidak pernah menyerang tokoh oposisi Mehdi Karroubi dan Mir Hossein Mousavi yang ditempatkan dalam tahanan rumah sejak 2010.
Ebrahim Raisi kemudian menjadi presiden, namun masa jabatannya terhenti setelah ia meninggal dalam kecelakaan helikopter pada 2024.
Larijani kembali mencoba mencalonkan diri, namun kembali dilarang, dan pemilu akhirnya dimenangkan oleh tokoh moderat Masoud Pezeshkian.
Utusan Khamenei di Moskow
Pada Agustus 2025, Pezeshkian kembali menunjuk Larijani sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menjadikannya pejabat keamanan tertinggi Iran setelah perang 12 hari dengan Israel. Dalam bulan-bulan berikutnya, pengaruh dan akses Larijani ke Khamenei bahkan disebut melampaui Presiden Pezeshkian.
Larijani dianggap sebagai kekuatan di balik layar dalam mendorong kembali perundingan nuklir antara AS dan Iran. Ia juga beberapa kali melakukan perjalanan ke Rusia, bertindak layaknya utusan Khamenei kepada Vladimir Putin, diduga dengan bantuan Duta Besar Iran, Kazem Jalali, yang merupakan orang dekatnya.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera beberapa hari sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Larijani mengatakan bahwa negaranya telah menggunakan waktu beberapa bulan sebelumnya untuk “bersiap” menghadapi perang.
“Kami menemukan kelemahan kami dan memperbaikinya,” katanya. “Kami tidak mencari perang, dan kami tidak akan memulainya. Tetapi jika mereka memaksakan perang, kami akan merespons.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid