1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiSpanyol

Spanyol: Ketika Pariwisata Membawa Bencana

Stefanie Müller
15 Februari 2024

Saat Spanyol ingin mengurangi kebergantungan terhadap devisa pariwisata, tahun 2023 justru mencatatkan rekor kunjungan wisawatan mancanegara. Tapi masuknya investor ke pasar properti memicu langkanya hunian terjangkau

https://p.dw.com/p/4cQIN
Bandar udara Adolfo Suarez
Suasana di bandar udara Adolfo Suarez, Madrid, 2022Foto: Carlos Luján/EUROPA PRESS/dpa/picture alliance

Sudah sejak 26 tahun Oscar Villasante bermukim di ibu kota Spanyol, Madrid. Rumahnya berlokasi di bilangan Lavapies, sebuah kawasan seniman yang mayoritasnya dihuni migran dan kaum kreatif. Mereka tinggal di sana antara lain karena harga sewa yang murah.

Tapi mungkin kelak kawasan ini tidak lagi terjangkau harga sewanya. Sejak beberapa tahun terakhir, satu per satu rumah di Lavapies bertukar paras menjadi hunian mewah yang disewakan kepada wisatawan berkocek tebal.

Juru kamera berusia 62 tahun itu adalah pendukung Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang berideologi sosialis. Tapi kebijakan pemerintah dianggapnya gagal membatasi ekspansi pariwisata dan lonjakan harga sewa. "Sudah banyak yang dijanjikan, tapi pada akhirnya lebih banyak investor yang membeli rumah di kawasan Lavapies," kata Villasante.

Madrid menjadi cerminan bagi seluruh Spanyol. Tren bisnis di ibu kota, acap kali ditiru di daerah lain tanpa bisa diatur pemerintah pusat. Pusat kota Lavapies, misalnya, kini dikuasai investor ekuitas swasta dan pengusaha kaya yang merenovasi bangunan dan menyewakannya untuk harga  dua kali lipat.

Menahan Laju Gentrifikasi

Laba dan bala pariwisata

Bisnis pariwisata di Spanyol masih terus berekspansi. Di ibu kota Madrid saja, tahun 2023 tercatat kedatangan sebanyak 14 juta turis, sepertiga lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka tercatat membelanjakan uang senilai 15 miliar Euro.

Biro statistik Spanyol, INE, mencatat sekitar 85 juta wisatawan asing yang datang ke Spanyol pada 2023. Jumlah tersebut merupakan kenaikan sebesar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan 1,9 persen lebih ketimbang tahun 2019, yakni sebelum pandemi corona.

Kinerja sektor pariwisata ikut menyumbang pada pertumbuhan ekonomi Spanyol yang tahun lalu melampaui perkiraan ekonom, yakni sebesar 2,5 persen.

Namun Villasante mewanti-wanti, "Katalunya dan Andalusia mengalami darurat air sejak beberapa pekan karena kekeringan berkepanjangan. Petani berdemonstrasi karena mereka tidak lagi bisa mengairi kebunnya, tapi di sektor pariwisata tidak ada yang dibatasi."

Gerakan rakyat menentang pariwisata berlebihan menguat sejak beberapa tahun terakhir di Barcelona, Mallorca dan Ibiza. Aksi protes juga meningkat di Kepulauan Canaria, meski tergolong tidak ramai turis.

Fenomena ini dikritik sebagai "fobia pariwisata" oleh asosiasi pengusaha Spanyol, CEOE. Mereka mengklaim sektor pariwisata ikut menjamin kemakmuran di Spanyol dan mempekerjakan hampir tiga juta orang.

Menurut asosiasi pariwisata, Exceltur, tahun lalu sektor ini memberikan kontribusi sebesar 186 miliar Euro atau sekitar 12,8 persen dari produk domestik bruto, PDB, Spanyol. Tahun ini, Exceltur memperkirakan pertumbuhan sebesar 13,4 persen.

"Wisata Lambat" yang Istimewa tapi Mahal

Solusi pariwisata berkelanjutan

PM Sanchez sebenarnya telah berjanji ingin mengurangi kebergantungan terhadap sektor pariwisata. Pelajaran ini dipetik dari pengalaman selama pandemi Covid-19 yang melumpuhkan mobilitas manusia.

Francina Armengol, kepala daerah Kepulauan Balearik, misalnya, membatasi ruang gerak spekulan di pasar properti dan mengurangi kapal pesiar yang boleh berlabuh di ibu kota Palma de Mallorca. "Ini adalah strategi berkelanjutan," kata Matthias Meindel, pengusaha properti Jerman di Mallorca.

Prioritas serupa dimiliki Ada Colau yang menjabat walikota Barcelona hingga 2023 lalu. Selama delapan tahun berkuasa, dia berusaha membatasi  AirBnB dan jasa perantara rumah berlibur lainnya. Kendati demikian, pesona Barcelona tetap mampu menjaring 26 juta wisatawan pada tahun 2023.

Pariwisata sejak lama dikeluhkan di Barcelona, karena turut mengundang datangnya organisasi kriminal, seperti kelompok pencuri atau kawanan penjambret. Asosiasi penyewa rumah di Madrid, SIIM, mengkhawatirkan, situasi serupa akan pula menular ke ibu kota. Saat ini pun sebuah survey mencatat sebanyak 27 persen warga kota sudah menganggap keamanan sebagai masalah terbesar tahun 2023. "Pariwisata memang harus dikembangkan dalam takaran yang tepat," pungkas Oscar Villasant.

rzn/as