Tajuk: Sarkozy Bukan Orang yang Tepat untuk Yakinkan Irlandia
22 Juli 2008
Kebekuan menyambut kedatangan Nicolas Sarkozy di Irlandia. Juga tidak ada penyelesaian untuk keluar dari krisis UE, seperti yang diharapkan.
Mungkin orang lain akan menemukan kata-kata yang tepat, dan sebelum keberangkatannya tidak akan mengatakan bahwa warga Irlandia harus memberikan suara untuk kedua kalinya. Seolah-olah referendum bisa terus diulang sampai hasilnya memuaskan para politisi. Mungkin orang lain akan dianggap lebih serius daripada presiden Prancis, yang beberapa tahun lalu juga menolak konstitusi UE. Dan untuk versi baru konstitusi yang kini disebut perjanjian reformasi, Prancis tidak menyelenggarakan lagi referendum melainkan hanya meminta persetujuan parlemen belaka.
Tetapi, jujur saja. Betapa pun kini Sarkozy dituduh telah salah sikap atau bukan orang yang tepat untuk ke Irlandia saat ini, orang lain pun tidak akan meraih lebih banyak. Sebab hanya dengan kata-kata yang mau mengatur dan alasan-alasan lainnya, Irlandia tidak dapat diubah sikapnya.
Bisa saja semua dianggap tidak terlalu buruk. Tetapi hasil referendum warga Irlandia merupakan pukulan sengaja bagi para politisi, di Irlandia sendiri dan terlebih lagi di tingkat UE. Sebab, apa yang tercantum dalam perjanjian reformasi itu sebenarnya adalah urusan kedua. Sebagian besar belum membaca isinya dan memang sebenarnya tidak mau tahu.
Penolakan itu lebih dimaksudkan untuk mengatakan: "Kalian di atas sudah jalan lebih jauh dengan UE, daripada yang diinginkan warga di bawah. Kami ingin mencegah yang lebih buruk lagi!". Ada pula sedikit perasaan senang, karena mereka ingin melihat, apa yang akan dilakukan para politisi untuk keluar dari kondisi yang tidak menyenangkan ini. Pemerintah Irlandia juga ikut bersalah. Sebab siapa yang menyelenggarakan referendum, juga harus memperhitungkan penolakan, dan langkah apa yang kemudian akan diambil. Sebab kalau tidak, referendum itu hanyalah kosmetik belaka dan bukan cerminan pendapat yang jujur. Jadi, kalau itu menggelitik orang untuk mengatakan 'tidak', hanyalah merupakan konsekuensi yang logis.
Sekarang tidak ada yang bisa mengubahnya lagi. Lalu apa yang harus dilakukan? Penolakan Irlandia memang harus dihormati, tetapi untuk menganggapnya sebagai hal yang tidak akan berubah lagi, tentu tidak membantu warga Irlandia sendiri maupun warga UE selebihnya. Belum lagi warga di negara-negara Eropa tenggara yang ingin menjadi anggota UE. Keinginan mereka nampak semakin jauh lagi. Apakah tenggang waktu, seperti yang diminta para politisi Irlandia, memang akan membawa dampak yang lebih baik? Pasti tidak.
Harus ada sinyal yang jelas. Sebaiknya dibuat protokol tambahan yang menyebutkan dengan jelas ketakutan yang dimiliki warga Irlandia dan menyingkirkannya. Misalnya dengan kesimpulan sederhana, bahwa dengan perjanjian reformasi itu, UE tidak akan menjadi uni kemiliteran. Baru kemudian dapat diselenggarakan referendum baru, mengenai perjanjian reformasi plus protokol tambahan. Untuk membicarakannya harus maju seseorang yang dapat dipercaya. Tampil tanpa sikap angkuh dan kesombongan - yang jelas, bukan Nicolas Sarkozy. (dgl)