1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Trump: Jeda Pemberian Suaka tanpa 'Batas Waktu'

Shakeel Sobhan sumber: AFP, Reuters
1 Desember 2025

Departemen Keamanan Nasional Amerika Serikat telah diperintahkan untuk menolak atau membatalkan permohonan suaka dari semua negara di dunia. Menurut Presiden Donald Trump, jeda suaka akan berlangsung "sangat lama."

https://p.dw.com/p/54XId
Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald TrumpFoto: Daniel Torok/Avalon/Photoshot/picture alliance

Keputusan Gedung Putih menghentikan sementara seluruh proses pemberian suaka kian mengeras setelah seorang warga Afganistan diduga menembak dua anggota Garda Nasional di dekat Gedung Putih, menewaskan satu di antaranya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Minggu (30/11) waktu setempat, menegaskan jeda itu akan berlangsung "sangat lama.”

"Kami tidak menginginkan orang-orang itu,” ujar Trump. "Anda tahu alasannya? Karena banyak dari mereka bermasalah, dan seharusnya tidak berada di negara ini.”

Trump menambahkan, penghentian tersebut "tidak memiliki batas waktu.”

Penegasan itu datang tiga hari setelah insiden penembakan yang menewaskan seorang anggota Garda Nasional berusia 20 tahun dan membuat rekannya kritis.

Deportasi Ancam Warga Afghanistan di Pakistan

Diradikalisasi di AS

Pelaku, seorang laki-laki Afganistan berusia 29 tahun yang masuk ke Amerika Serikat pada September 2021, kini menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama.

Menteri Keamanan Nasional, Kristi Noem, menyatakan di program Meet the Press bahwa penyelidik menduga pelaku justru mengalami radikalisasi setelah tinggal di Amerika.

"Kami percaya dia mengalami radikalisasi setelah berada di negara ini,” kata Noem. Pemerintah kini menghimpun keterangan dari keluarga dan orang-orang terdekat sang tersangka.

Attack on National Guard soldiers 'act of terror'

Polemik vetting

Di tengah kritik Trump yang menuding pemerintahan Joe Biden lalai melakukan penyaringan (vetting) terhadap warga Afganistan, muncul fakta lain: tersangka disebut-sebut baru mendapatkan suaka pada April 2025, ketika Trump telah kembali berkuasa.

Sebelumnya, ia merupakan anggota unit "partner force” Afganistan yang didukung CIA dalam perang melawan Taliban.

Menurut mantan pemilik rumah yang dia sewa, Kristina Widman, pelaku tinggal di Bellingham, negara bagian Washington - sekitar 120 kilometer dari Seattle - bersama istri dan lima anaknya.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait