1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Trump Mampu Ungguli Obama dalam Negosiasi dengan Iran?

16 April 2026

Kesepakatan 2015 berhasil membatasi proram nuklir Iran, sampai AS mundur dari perjanjian itu. Setelah diplomasi buntu dan 40 hari perang, keduanya kembali berunding. Trump klaim bisa lebih baik dari Obama.

https://p.dw.com/p/5CFtl
Iran, Teheran 2016, Mural anti-AS di depan bekas Kedutaan Besar Amerika Serikat
Perundingan antara kedua pihak kemungkinan akan segera dimulai kembaliFoto: Abedin Taherkenareh/dpa/picture alliance

Program nuklirIran telah menjadi sumber ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam itu selama lebih dari dua dekade. AS menilai Iran tengah mengembangkan senjata nuklir dan ingin mencegahnya dengan segala cara. Iran membantah ingin membuat bom, tetapi menegaskan haknya untuk mengembangkan program nuklir sipil.

Presiden AS Donald Trump menyebut upaya menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai alasan utama di balik keputusan AS, bersama Israel, menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Kini, gencatan senjata telah berlaku dan negosiasi antara kedua pihak diperkirakan segera dilanjutkan.

Pemimpin internasional dari kiri ke kanan: Cina, Prancis, Jerman, Uni Eropa, Iran, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat dalam Forum Rolex yang membahas kesepakatan Nuklir Iran, pada tahun 2015
Iran dan negara-negara besar dunia menegosiasikan kesepakatan nuklir di Wina pada 2015, yang kemudian dikenal sebagai JCPOAFoto: United States Department of State

Kembali ke negosiasi 2015

Lebih dari satu dekade lalu, AS dan Iran mencapai kompromi penting. Kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dirancang untuk membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pelonggaran sanksi. Namun, kesepakatan itu runtuh setelah AS menarik diri pada 2018.

Trump, yang menarik AS dari kesepakatan tersebut saat masa jabatan pertamanya, berulang kali menyatakan bisa mencapai kesepakatan yang "lebih baik" dibandingkan yang dinegosiasikan di era Barack Obama. Pertanyaannya, apakah kesepakatan baru bisa melangkah lebih jauh, atau justru kondisi saat ini jauh lebih sulit dibanding 2015.

Apa yang dicapai pada kesepakatan 2015?

Setelah 20 bulan negosiasi, Iran dan AS mencapai kesepakatan pada Juli 2015 bersama Rusia, Cina, dan Uni Eropa, yang dipimpin Prancis, Jerman, dan Inggris.

Kesepakatan ini secara signifikan memperlambat kemampuan Iran untuk memproduksi bahan fisil (bahan bakar nuklir) yang cukup untuk senjata nuklir, atau yang dikenal sebagai "breakout time". Waktu tersebut diperpanjang dari sekitar dua hingga tiga bulan menjadi sekitar satu tahun.

JCPOA juga memberikan akses luas bagi badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency, untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran. Sebagai imbalannya, sanksi ekonomi internasional terhadap Iran dicabut. Kesepakatan mulai berlaku pada Januari 2016 setelah IAEA memastikan Iran mematuhinya.

"IAEA memang mendapatkan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Oliver Meier, pakar perlucutan senjata nuklir di European Leadership Network. "Kesepakatan itu membatasi jumlah dan jenis sentrifugal yang digunakan Iran, serta mengurangi stok bahan fisil di dalam negeri."

Namun, Meier menambahkan, "semua ini bersifat terbatas waktu. Beberapa pembatasan seharusnya berakhir setelah 10 atau 15 tahun, dengan asumsi kepercayaan internasional sudah pulih saat itu."

Apa yang tidak diatur dalam kesepakatan?

JCPOA juga memiliki batasan jelas. Kesepakatan ini tidak membatasi program rudal balistik Iran, maupun peran Iran dalam konflik regional, termasuk dukungannya terhadap kelompok seperti Hizbullah diLebanon.

"Ada keputusan sadar saat itu untuk tidak memasukkan beberapa aspek yang, jika dilihat sekarang, mungkin sebaiknya juga dibahas," ujar Meier. "Ada harapan pada 2015 bahwa setelah isu nuklir selesai, akan lebih mudah menangani keamanan regional. Itu mungkin sebuah kesalahan."

Kekurangan ini memicu kritik di AS. Para penentang menilai kesepakatan tersebut hanya menunda, bukan menghilangkan ancaman nuklir, dan gagal membatasi ambisi strategis Iran secara lebih luas.

Saat Trump mulai menjabat pada Januari 2017, ia menyebut JCPOA sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan" dan menarik AS keluar setahun kemudian. Pemerintahannya kembali memberlakukan sanksi besar-besaran dengan harapan tekanan ekonomi akan memaksa Iran menerima kesepakatan yang lebih luas dan lebih ketat.

Citra satelit menunjukkan kerusakan fasilitas nuklir pascaserangan di Natanz, Iran, 2026
Pada awal Maret, fasilitas nuklir Natanz di Iran mengalami kerusakan akibat serangan udaraFoto: Satellite image ©2026 Vantor/AFP

Dari diplomasi gagal menuju perang

Iran awalnya tetap mematuhi kesepakatan, berharap negara-negara lain yang menandatangani bisa mengimbangi sanksi AS. Namun seiring waktu, Iran mulai mengurangi komitmennya.

Iran meningkatkan kadar pengayaan uranium, menggunakan teknologi yang lebih canggih untuk memprosesnya, serta mulai membatasi akses pengawas internasional ke fasilitas nuklirnya.

"Hasilnya, sayangnya, breakout time Iran menjadi jauh lebih singkat," kata Meier. Pada 2024, IAEA memperkirakan waktu tersebut menyusut menjadi hitungan minggu atau bahkan hari, meski tidak ada bukti jelas bahwa Iran telah memutuskan untuk membuat bom nuklir.

Upaya untuk menghidupkan kembali atau mengganti kesepakatan nuklir terus berlangsung selama bertahun-tahun, hingga kembali ke meja perundingan pada 2025 dan 2026. Namun pembicaraan itu runtuh setelah AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan Iran ke Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Setelah 40 hari pertempuran, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Dalam konteks inilah, pembicaraan antara kedua pihak kini dijadwalkan kembali berlangsung di Islamabad.

Wakil Presiden Vance: Tidak Ada kesepakatan antara AS dan Iran

Apa yang sedang dinegosiasikan sekarang?

Perbedaan utama saat ini terletak pada durasi. Amerika Serikat menginginkan penghentian program nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Iran hanya bersedia menerima pembatasan hingga lima tahun.

Selain itu, sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab. Siapa yang akan mengawasi fasilitas nuklir Iran? Apa yang akan dilakukan terhadap cadangan uranium yang sudah diperkaya? Dan berapa banyak teknologi pengayaan uranium yang masih boleh dimiliki Iran?

"Isu yang harus diselesaikan sekarang, tidak mengejutkan, adalah isu yang sama seperti dalam kesepakatan 2015," kata Oliver Meier. "Kesepakatan itu mencapai sekitar 150 halaman dengan lampiran yang sangat rinci."

Karena itu, Meier meragukan solusi bisa dicapai dalam hitungan hari, atau bahkan minggu.

Kenapa perundingan kali ini lebih sulit

Banyak pakar menilai kesepakatan JCPOA dulu bisa tercapai karena masih ada tingkat kepercayaan dasar antara para pihak. Kini, fondasi itu nyaris hilang.

Alan Eyre, yang pernah menjadi bagian dari tim negosiasi AS pada 2015 dan kini bekerja di Middle East Institute, mengatakan posisi kedua pihak kini semakin mengeras.

"Ada tingkat ketidakpercayaan dan kecurigaan yang sangat tinggi, baik dari pihak Amerika terhadap Iran maupun sebaliknya," ujarnya kepada DW.

Eyre juga menilai Iran kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Meski mengalami kerugian besar akibat perang, Iran masih mampu melakukan serangan balasan menggunakan rudal, roket, dan drone.

Selain itu, Iran juga bisa mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta mengandalkan kelompok sekutu di kawasan seperti Hizbullah atau Houthi. Ini adalah daya tawar yang tak dimiliki Iran pada 2015.

Eyre juga mengkritik pemerintahan AS saat ini yang dinilai kurang berpengalaman dalam diplomasi, yang membutuhkan waktu dan upaya berkelanjutan.

"Mereka tidak terbiasa dengan itu. Mereka terbiasa memberi perintah dan negara lain mengikuti. Jadi masih menjadi tanda tanya apakah JD Vance bisa bernegosiasi secara efektif dengan Iran, yang punya negosiator berpengalaman dan terampil," ujarnya.

Para mantan negosiator menilai pengalaman dan kepercayaan sama pentingnya dengan kekuatan tawar.

Mampukah Trump mencapai kesepakatan lebih baik dari Obama?

Dalam satu sisi, para ahli menilai jawabannya bisa saja iya.

"Akan lebih mudah mendapatkan kesepakatan yang lebih baik, dalam arti banyak fasilitas nuklir Iran sudah hancur," kata Meier. "Iran mungkin lebih bersedia menerima bahwa beberapa fasilitas itu tidak lagi bisa dinegosiasikan."

Namun secara politik, situasinya jauh lebih rumit dibanding satu dekade lalu.

"Kita berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk dibanding 2015," kata Meier. "Serangan yang terjadi tidak menyelesaikan masalah. Justru memperburuk keadaan, karena semakin banyak orang di Iran yang kini percaya bahwa senjata nuklir diperlukan untuk mencegah serangan AS di masa depan."

Kondisi ini membuat pembatasan jangka panjang semakin sulit dicapai.

Saat AS dan Iran mempertimbangkan upaya diplomasi baru, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kesepakatan yang lebih baik bisa dibuat, tetapi apakah kondisi yang memungkinkan kesepakatan 2015 itu tercapai masih bisa dihidupkan kembali.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu

Editor: Muhammad Hanafi