1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Wabah Flu Burung Ancam Eropa

17 Februari 2006

Ditemukannya sejumlah unggas liar yang mati akibat serangan virus flu burung di beberapa negara Eropa, memicu ketakutan berlebihan di kalangan masyarakat.

https://p.dw.com/p/CPLF
Jerman mengkandangkan unggasnya untuk menghindari wabah flu burung
Jerman mengkandangkan unggasnya untuk menghindari wabah flu burungFoto: AP

Warga Eropa kini dihantui oleh ketakutan yang tidak rasional. Panik menyebar karena virus flu burung dari tipe H5N, yang juga mematikan bagi manusia, ditemukan di Eropa Barat. Demikian komentar harian Italia Il Messaggero yang terbit di Roma.

"Cara berpikir publik terhadap kenyataan yang muncul, ibaratnya seperti pisau dan daging ayam, yakni memotong-motongnya menjadi bagian kecil. Juga kelihatannya tidak ada alasan yang rasional, yang mampu menggiring kembali warga untuk berpikir lebih logis. Ketakutan terhadap virus flu burung, menyerang dan membunuh lebih hebat, ketimbang virusnya sendiri. Nyatanya, walaupun kini virusnya sudah berada di depan mata, namun nyaris tidak terjadi dampak negatif. Dalam persyaratan higiene yang bagus, kecil kemungkinan penularannya kepada manusia. Artinya, kemungkinan terjadinya pandemi juga sangat kecil."

Harian Swiss Tages-Anzeiger yang terbit di Zürich menulis komentar, Eropa sekarang dikepung virus influensa berbahaya dari dunia burung.

"Di tiga negara Eropa, sudah dipastikan serangan virus flu burung pada sejumlah angsa liar yang mati. Kini tinggal soal waktu, kapan kasus flu burung pertama di Swiss akan dilaporkan. Cepat atau lambat, virus flu burung akan muncul di seluruh Eropa. Tidak ada tembok tinggi atau pemeriksaan ketat di perbatasan, yang dapat mencegah penyebaran flu burung. Walaupun begitu, tidak ada alasan untuk panik. Virus H5N1 belum mampu melakukan mutasi, sehingga dapat menular langsung diantara manusia. Dan juga, belum satu orangpun di Eropa barat yang terinfeksi flu burung."

Harian Norwegia Aftenposten yang terbit di Oslo berkomentar, flu burung bukan merupakan alasan untuk munculnya ketakutan luar biasa.

"Memang jarang terjadi, dilontarkan peringatan lengkap dan terus menerus mengenai bahaya penyakit pada binatang, seperti pada kasus flu burung. Sejak munculnya virus flu burung di Asia tahun 2003 lalu, seluruh dunia ibaratnya siap siaga dan dengan cemas menunggu dampaknya. Sejauh ini Organisasi Kesehatan Dunia WHO, mencatat kurang dari 100 korban tewas akibat flu burung. Penularannya terjadi dari unggas yang sakit kepada manusia. Ketakutan akan terjadinya mutasi, hingga virus dapat menular diantara manusia, hingga kini belum menjadi kenyataan. Tapi, sikap mengamati dan siap siaga, saat ini merupakan reaksi yang paling tepat."

Selain ketakutan akan wabah flu burung yang kini merebak di Eropa, tema lain yang tetap menjadi sorotan harian Eropa adalah politik perang melawan teror dari AS. Terutama diamati dengan penuh kecemasan, meningkatnya aksi kekerasan di seluruh dunia, berkaitan dengan politik yang digagas AS tersebut.

Harian Austria Kurier yang terbit di Wina menulis komentar, kita tidak akan memenangkan perang melawan teror dengan cara Amerika.

"Amat mengerikan, jika kita menarik neraca dari situasi politik global, setelah politik perang melawan teror dilaksanakan selama enam tahun. Doktrin militer terbaru dari Amerika Serikat, hanya mengukuhkan apa yang sejak lama telah menjadi realitas. Yakni, perang melawan teror akan dilancarkan di seluruh dunia, sementara akhir dari perang, atau bahkan sebuah kemenangan samasekali tidak dapat diramalkan. Sebagai dampak dari permainan berbahaya ini adalah, serangan pembunuhan yang menjadi keseharian di Irak dan Afghanistan, penyiksaan para tahanan yang dicabut hak hukumnya, serangan teror di kota-kota besar di negara barat maupun di negara Islam, serta sengketa hukum menyangkut hak asasi manusia. Akan tetapi, satu hal nampak dengan jelas, perang hanya dengan cara militer, tidak akan dapat menang. Sebaliknya, perang ini akan semakin berdarah, semakin tidak dapat dikendalikan, dan ongkosnya jauh lebih besar, daripada kebohongan yang selama ini dilaporkan pemerintah."