1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Wabah Flu Burung di Eropa

15 Oktober 2005

Wabah flu burung yang sudah melanda Eropa menimbulkan kepanikan yang tidak beralasan di kalangan masyarakat, serta penganugerahan hadiah Nobel kesusastraan kepada Harold Pinter, menjadi tema komentar yang cukup tajam dari harian internasional.

https://p.dw.com/p/CPMa
Flu burung mengancam Eropa
Flu burung mengancam EropaFoto: AP

Eropa bersiap menghadapi situasi terburuk. Memang amat gampang membuat skenario mengerikan yang menyangkut penyebaran wabah flu burung dari Asia ke Eropa. Harian Inggris The Times yang terbit di London menulis, ketakutan akan skenario seperti di film horror sebetulnya tidak beralasan. Lebih lanjut harian ini menulis :

"Memang tidak sulit, menarik semacam kesimpulan, bahwa dalam waktu dekat ini Eropa akan menjadi sebuah kawasan bencana besar, seperti pada saat pandemi tahun 1918, dimana 40 juta orang meninggal akibat wabah flu. Akan tetapi, kesimpulan akhir semacam itu sebetulnya tidak ada dasarnya. Sebab, virus flu burung belum mengalami mutasi, sehingga dapat menular langsung dari manusia ke manusia. Akan tetapi, wabah flu burung tetap akan menjadi ancaman serius bagi ekonomi dan bidang kedokteran hewan. Khususnya di Asia Tenggara, di saat wabahnya menyerang, hampir saja terjadi bencana."

Harian Austria Tiroler Zeitung yang terbit di Innsbruck berkomentar, memicu kepanikan dari wabah flu burung adalah tindakan tidak bertanggung jawab.

"Jika virusnya mengalami mutasi, sehingga dapat menular langsung dari manusia ke manusia, barulah muncul wabah mengerikan. Akan tetapi, para pakar virologi juga tidak dapat meramalkan, sebesar apa kemungkinan mutasinya. Apakah para pakar harus memperingatkan ancaman bencana, yang mungkin saja tidak akan terjadi? Memicu kepanikan sama sekali tidak bertanggung jawab. Kesenjangan antara diskusi publik, dengan kemungkinan kasus nyata amatlah besar. Akan tetapi, barang siapa yang ketakutan setengah mati, artinya mereka sudah mati."

Sementara harian Perancis Libération yang terbit di Paris berkomentar, bahwa dari matinya ternak ayam muncul skenario fiksi ilmiah.

"Virusnya menyerbu dari peternakan ayam. Tapi, berbeda dengan pandemi tahun 1918, yang menewaskan 40 juta orang, sekarang semua sudah siap siaga dan pemantauan dilakukan secara global. Dengan itu, diharapkan dapat dicegah terjadinya skenario horror, berupa warga yang memakai masker bekeliaran kebingungan di kota yang lumpuh, tentara menjaga apotek, para peternak ayam dikarantina di tengah bangkai jutaan ayam, dan kita terpaksa menjadi figuran yang juga akan mati."

Tema lainnya, yang juga disoroti secara tajam oleh harian-harian internasional, adalah penganugerahan hadiah Nobel kesusastraan kepada dramawan Inggris, Harold Pinter. Harian Swiss Tages Anzeiger yang terbit di Zürich menulis, pilihan komite Nobel amat mengherankan.

"Masa keemasan dramawan Inggris itu sudah lewat, dan dahulu ia juga tidak dapat disebutkan sebagai tokoh besar. Dalam sejarah teater, Pinter hanya menempati posisi, sebagai adik kecil yang tidak berbahaya dari Beckett, tokoh idolanya sekaligus juga pemenang hadiah Nobel pendahulunya. Tapi, keputusan yang aneh, dapat digugat atau mengherankan, memang semakin sering diambil oleh komite Nobel. Daftar dari kompromi besar semakin panjang. Hadiah Nobel sudah berumur lebih dari 100 tahun, bahkan akademi ilmu pengetahuan Swedia sudah 200 tahun. Sekarang keduanya harus memberi kejutan, dengan melakukan pembaruan diri."

Harian Jerman Rhein Zeitung yang terbit di Koblenz dalam komentarnya menulis, kelihatannya penghargaan Nobel bagi Harold Pinter sudah sangat terlambat.

"Karya Pinter sudah lama sekali tidak lagi menjadi bahan pelajaran. Akan tetapi, jika para mahasiswa jurusan sastra Inggris tidak lagi mempelajari karyanya, hal itu tidak mengubah pentingnya karya tsb. Juga jangan dilupakan, pasal dari wasiat Alfred Nobel, untuk memberikan hadiah, kepada mereka yang menunjukan prestasi besar bagi umat manusia, pada tahun yang sedang berjalan. Jika Harold Pinter yang terkenal sebagai pengritik pemerintahan George W. Bush serta perang Irak-nya, terpilih sebagai penerima hadiah Nobel kesusastraan tahun ini, keputusan dewan juri ini juga harus dapat dipahami."