1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

2025 Jadi Tahun Terpanas Ketiga yang Pernah Tercatat

14 Januari 2026

Data terbaru menunjukkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat. Temuan ini menandai bahwa dunia kian dekat melampaui batas aman pemanasan global.

https://p.dw.com/p/56mNF
Seorang petugas pemadam kebakaran memantau penyebaran kebakaran Auto di Oxnard, barat laut Los Angeles, California, pada 13 Januari 2025
Kebakaran hutan ekstrem di Amerika Serikat dan Australia kerap dikaitkan dengan kenaikan suhu yang dipicu pembakaran minyak, gas, dan batu baraFoto: ETIENNE LAURENT/AFP/Getty Images

Setelah melewati 2025 yang diwarnai kebakaran hutan yang melahap Los Angeles, siklon tak biasa di Asia Tenggara, serta kekeringan yang membuat Iran mempertimbangkan pemindahan ibu kota, data terbaru menunjukkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat.

Temuan dari program Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa itu mengungkap bahwa 2025 merupakan tahun ketiga, berturut-turut dari 2023 dan 2024, di mana suhu rata-rata global melampaui 1,5 derajat Celsius atau 2,7 derajat Fahrenheit di atas tingkat praindustri. Dengan kata lain, ini merupakan pertama kalinya rata-rata suhu global dalam periode tiga tahun melampaui ambang batas tersebut.

Mauro Facchini, yang membawahi observasi Bumi di Komisi Eropa, menyebut kondisi ini sebagai sebuah "tonggak yang tak seorang pun ingin capai”.

Para ilmuwan sejak lama memperingatkan tentang bahaya jika ambang batas suhu yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 terlampaui. Kenaikan suhu di atas batas ini dinilai akan memicu lebih banyak hari dengan panas ekstrem, meningkatkan risiko banjir mematikan, serta memperparah badai yang merusak.

Direktur layanan perubahan iklim Copernicus, Carlo Buontempo, menyebut dunia dalam jangka panjang berpotensi melampaui ambang batas itu.

"Pilihan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana mengelola sebaik mungkin kelebihan pemanasan yang tak terhindarkan ini dan dampaknya terhadap masyarakat serta sistem alam,” ujarnya dalam sebuah siaran pers.

Turbin angin di ladang angin Coopers Gap, pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 453 megawatt di wilayah Western Downs dan South Burnett, Queensland, Australia
Energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya menjadi alternatif yang lebih bersih dibandingkan bahan bakar fosilFoto: Lakeview Image Library/imageBROKER/picture alliance

Para ilmuwan sepakat bahwa diperlukan langkah simultan, yakni memangkas emisi gas rumah kaca melalui transisi ke energi bersih, sekaligus beradaptasi untuk hidup di planet yang semakin hangat.

Pada KTT iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu, negara-negara berjanji mengalokasikan dana sebesar US$120 miliar atau sekitar Rp2.011 triliun bagi negara rentan. Dana tersebut ditujukan untuk proyek adaptasi, seperti pembangunan tanggul laut, sistem peringatan dini, dan pengembangan tanaman tahan kekeringan. Namun sayangnya, janji pendanaan iklim tidak selalu berujung pada tindakan nyata.

El Nino ikut berperan dalam kenaikan suhu tiga tahun berturut-turut

Gas rumah kaca, yang menyerap dan menjebak panas di atmosfer, tetap menjadi penyebab utama meningkatnya suhu global. Gas ini dilepaskan saat manusia membakar minyak, batu bara, dan gas untuk menggerakkan kendaraan atau menghangatkan serta mendinginkan rumah. Emisi tersebut berkaitan langsung dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem yang merenggut nyawa di berbagai belahan dunia.

Masalah ini kemudian diperparah oleh rusaknya penyerap karbon alami, seperti hutan, yang seharusnya mampu menyerap karbon dioksida.

"Data atmosfer tahun 2025 memberi gambaran yang sangat jelas: aktivitas manusia masih menjadi pendorong utama suhu ekstrem yang kita amati,” kata Laurence Rouil, direktur layanan pemantauan atmosfer Copernicus. Ia menambahkan bahwa "konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat secara stabil selama 10 tahun terakhir”.

Namun, pada 2023 dan 2024, kondisi ini semakin diperburuk oleh fenomena El Nino yang sangat kuat. Pola iklim yang muncul setiap beberapa tahun ini mendorong panas dari samudra ke atmosfer.

Dampaknya terlihat di seluruh dunia. Copernicus mencatat bahwa luas es laut di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada 2025. Selain itu, Antarktika mengalami suhu tahunan terhangat yang pernah tercatat, sementara setengah dari daratan dunia mengalami lebih banyak hari dengan panas berbahaya dibandingkan biasanya.

"Atmosfer sedang mengirimkan pesan kepada kita, dan kita harus mendengarkannya,” ujar Rouil.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Prihardani Purba

Artikel ini telah diedit kembali untuk memperjelas bahwa pada periode 2023–2025, kenaikan suhu global rata-rata melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait