Berlin: Pemadaman Berakhir Usai Aksi Sabotase Ekstremis Kiri
8 Januari 2026
Suasana awal tahun di kawasan Steglitz-Zehlendorf terlalu sunyi untuk ukuran sebuah distrik elite di barat daya Berlin. Keheningan itu terasa seperti dari masa pandemi Covid-19, tapi dengan satu perbedaan mencolok: kali ini, lampu jalanan padam total. Selepas gelap, kawasan izu benar-benar tenggelam dalam kegelapan.
Steglitz-Zehlendorf bukan daerah sembarangan. Sekitar 310 ribu orang tinggal di distrik seluas Jakarta Pusat ini. Penduduk kelas menengah atas, lingkungan yang dipenuhi pepohonan, vila, serta sederet nama tokoh terkenal yang bermukim jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.
Danau Wannsee hanya berjarak beberapa kilometer. Free University Berlin juga berkantor pusat di sini. Hampir tak ada kantong kemiskinan seperti di kawasan Friedrichshain-Kreuzberg atau Neukölln. Restoran mewah pun bertebaran di setiap sudut kota.
Serangan kecil dengan dampak besar
Namun sejak Sabtu pagi, 3 Januari 2026, kemapanan itu runtuh seketika. Sekitar pukul 06.45, seorang saksi menelepon polisi: sebuah jembatan kabel yang menyalurkan listrik dari pembangkit listrik tenaga panas di atas Kanal Teltow terbakar. Kanal itu menghubungkan Sungai Havel dan Spree. Tapi, kendati api cepat dipadamkan, dampaknya jauh lebih luas.
Tiga wilayah Steglitz-Zehlendorf lumpuh total. Sekitar 100 ribu warga mendadak kehilangan aliran listrik. Rumah-rumah menjadi gelap. Rumah sakit dan panti jompo kehilangan daya. Supermarket tak bisa beroperasi. Sementara jalur kereta dalam kota yang menghubungkan Berlin dan Potsdam—terhenti. Jaringan telepon seluler mati. Internet senyap. Sebanyak 45 ribu rumah tangga dan 2.200 perusahaan terdampak.
Siapa dalangi pemadaman?
Polisi sontak menyebut insiden pemadaman sebagai sebuah serangan. Dugaan awal mengarah ke kelompok kiri ekstrem "Grup Vulkan”, yang sebelumnya mengklaim aksi sabotase terhadap infrastruktur dan fasilitas industri, termasuk pabrik Tesla di Brandenburg.
Spekulasi akhirnya bergerak lebih cepat dari penyelidikan. Di media sosial, tudingan lain mengemuka: Rusia. Sejumlah warganet menilai bahasa dalam surat klaim tanggung jawab seolah diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia. Tak lama kemudian, beredar pula surat-surat lain yang justru membantah keterlibatan aktor asing. Kekacauan informasi pun tak terhindarkan. Senat Berlin memperingatkan warga agar tak terpancing kabar palsu. Selasa malam, Kejaksaan Federal Jerman mengambil alih penyelidikan.
Wali Kota Berlin, Kai Wegner dari CDU, tampil dengan wajah tegang. "Kita mengalami serangan yang sangat, sangat serius terhadap infrastruktur kritis kita. Terhadap jaringan listrik. Dan ini bukan yang pertama,” ujarnya. Pemerintah federal sependapat. Juru bicara Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menyebut peningkatan serangan terhadap infrastruktur penting, terutama pembakaran yang menjadi metode khas kelompok kiri ekstrem. "Kualitas serangan meningkat, termasuk yang menyasar pasokan listrik," kata Sonja Kock.
Warga bantu warga
Dampak sosialnya segera terasa. Sabtu itu juga, otoritas kota membuka tempat penampungan darurat di sebuah pusat olahraga di Zehlendorf. Generator diesel dipasang, sementara ranjang lipat disusun berderet.
Kepada Reuters, seorang perempuan mengaku datang hanya untuk mengisi daya ponsel. Suaranya bergetar ketika berbicara. "Ini menakutkan secara eksistensial. Baru sekarang saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya bagi orang-orang Ukraina. Kalau sendirian, ini sangat berat."
Keesokan harinya, perempuan lain di tempat penampungan bercerita. "Awalnya kami diberi tahu listrik akan kembali malam itu. Tapi lalu disebutkan baru Kamis. Kabar ini sangat mengguncang. Untungnya apartemen kami masih cukup hangat."
Dia, seperti banyak lainnya, menerima tawaran mengungsi ke rumah teman di Brandenburg. Sebagian warga memilih bertahan di rumah gelap dan dingin, takut meninggalkan properti tanpa pengawasan. Kisah-kisahnya terdengar seperti laporan dari wilayah perang.
Ketegangan memuncak ketika Wegner mengunjungi tempat penampungan. Di sana ada seorang perempuan berusia 97 tahun yang dipindahkan dari panti jompo. Putranya duduk di samping, dengan amarah di wajah. "Bagaimana mungkin perempuan hampir seratus tahun, dengan tingkat perawatan empat, harus tidur di ranjang lipat?” katanya. Kutipan itu menyebar luas di media Berlin, memperkuat kesan bahwa negara gagal melindungi warganya di saat genting.
Baru pada hari Selasa (06/01), Senator Ekonomi Berlin Franziska Giffey mengumumkan pemerintah daerah akan menanggung biaya hotel bagi warga terdampak. Kritik pun muncul: mengapa keputusan itu tak diambil sejak hari pertama?
Pemulihan berjangka
Rabu (07/01) pagi, kabar baik akhirnya datang lebih cepat dari perkiraan. Jaringan listrik mulai dinyalakan kembali secara bertahap. Pekerjaan perbaikan di pembangkit dan jembatan kabel berlangsung tanpa henti sejak Sabtu. Pemerintah kota kembali berjanji memperkuat perlindungan infrastruktur.
Fakta penting baru terungkap belakangan: pembangkit listrik di Kanal Teltow tak memiliki jalur alternatif—yang seharusnya menjadi standar. Sebabnya satu titik serangan bisa memicu dampak yang begitu luas. Dan besar kemungkinan, para pelaku mengetahui celah tersebut.
Di tengah perdebatan politik, satu hal patut dicatat: polisi, layanan darurat, dan relawan mencegah situasi menjadi lebih buruk. Sebagian besar warga tertolong oleh keluarga dan teman. Sekitar 60 panti jompo sempat dievakuasi—detail yang luput dari perhatian publik, seperti juga fakta bahwa sebagian besar sudah kembali beroperasi pada Selasa.
Pemerintah menyebut peristiwa ini sebagai pemadaman listrik paling serius di Berlin sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Sebuah peringatan keras bahwa bahkan distrik paling mapan pun rapuh ketika infrastruktur kritis disentuh api.
Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid