1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

GLP 1: Benarkah Satu Suntikan Bisa Atasi Banyak Penyakit?

16 Juni 2026

Hampir tiap dua bulan, peneliti temukan manfaat baru agonis GLP-1 seperti Mounjaro dan Ozempic, bahkan untuk mengatasi penyalahgunaan zat. Ini contoh alih fungsi obat yang menyelamatkan nyawa saat pandemi COVID-19.

https://p.dw.com/p/5FQkQ
Foto ilustrasi Mounjaro | Suntikan penurun berat badan
Para dokter memperingatkan tentang tren baru suntikan penurun berat badan yang tengah mengubah tekanan terhadap standar kecantikan bagi calon pengantinFoto: Niall Carson/empics/picture alliance

Daftar penggunaan obat agonis GLP 1 terus bertambah: Awalnya dimulai sebagai pengobatan untuk diabetes tipe 2, lalu menjadi populer sebagai suntikan penurun berat badan.

Ada juga bukti bahwa agonis GLP 1, seperti semaglutide dan tirzepatide yang dijual dengan nama Mounjaro, Ozempic, Wegovy, dan Zepbound,

  • menurunkan risiko penyakit kardiovaskular
  • melindungi ginjal dan hati,
  • mengurangi peradangan dan nyeri,
  • mencegah kecanduan dan penyalahgunaan zat,
  • membantu orang dengan artritis
  • dan mereka yang mengalami sleep apnea.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, Anda akan melihat sebuah contoh klasik dari apa yang dikenal dalam dunia medis sebagai drug repurposing atau alih fungsi obat. Itu adalah satu obat dengan banyak kegunaan.

Dari Tumbuhan Invasif Jadi Bahan Obat dan Kosmetika

Alih fungsi obat dalam krisis kesehatan

Apa yang bagi sebagian orang tampak seperti cara cerdik untuk meraup keuntungan dari obat yang sudah populer, bagi yang lain merupakan cara yang hemat biaya dan efisien waktu untuk menyelamatkan nyawa.

Pandemi COVID 19 adalah salah satu contohnya: pertimbangkan obat dexamethasone dan baricitinib.

Ketika COVID muncul, dexamethasone dan baricitinib sudah ada. Keduanya digunakan untuk mengobati peradangan atau pembengkakan.

Dexamethasone memiliki berbagai aplikasi. Obat ini dapat digunakan untuk artritis, asma, gangguan darah atau sumsum tulang, gangguan ginjal, kondisi kulit, dan kasus akut multiple sclerosis.

Baricitinib digunakan untuk mengobati artritis reumatoid sedang hingga berat, dermatitis atopik sedang hingga berat, dan alopecia areata berat, yaitu penyakit autoimun yang menyerang rambut sehingga menyebabkan kerontokan.

Kemudian dokter mencoba menggunakan obat obat ini untuk mengobati peradangan pada pasien COVID. Hal ini dilakukan sebelum dan pada tahap awal tersedianya vaksin COVID.

Pada tahun 2021, National Health Service Inggris melaporkan bahwa dexamethasone telah menyelamatkan 22.000 jiwa di Inggris dan diperkirakan satu juta jiwa di seluruh dunia.

Sementara itu, baricitinib mengendalikan peningkatan kadar sitokin dan peradangan. Selama COVID, dokter dan peneliti mengamati adanya “badai sitokin” pada pasien. Ini adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif dan pada akhirnya menyebabkan peradangan yang parah.

Berdasarkan pengalaman selama COVID tersebut, Komisi Eropa berencana meningkatkan dukungan terhadap drug repurposing untuk mencari pengobatan kanker.

Peringatan kesehatan terkait obat yang dialihfungsikan

Tidak ada bagian dari uraian di atas yang seharusnya dipahami sebagai saran, dan ini bukan rekomendasi DW, agar siapa pun menggunakan agonis GLP 1 atau obat lain untuk mengobati kondisi “off label” atau kondisi yang belum disetujui tanpa nasihat medis profesional yang bersifat pribadi. Ada risiko dalam penggunaan obat apa pun, dan seiring bertambahnya penggunaan GLP 1, misalnya, berbagai risiko yang kurang dikenal juga mulai muncul.

Tidak mengherankan pula jika agonis GLP 1 memiliki manfaat kesehatan yang begitu luas.

Jika obat ini dapat membantu Anda menurunkan berat badan atau mencegah kenaikan berat badan, serta mengurangi perilaku adiktif, maka obat ini juga akan menurunkan risiko diabetes tipe 2 yang sebagian besar disebabkan oleh “pilihan gaya hidup” seperti makan berlebihan. Hal itu pada gilirannya akan mengurangi beban kerja pada setiap organ tubuh.

Seolah olah para pengembang pertama agonis GLP 1 telah merencanakan serangkaian sekuelnya. Padahal mereka tidak menciptakan konsep drug repurposing.

Namun, seperti telah disebutkan di atas, drug repurposing biasanya terjadi secara tidak sengaja atau pada saat keputusasaan besar, seperti pada masa pandemi COVID 19.

Sejarah singkat alih fungsi obat

Daftar berikut ini sama sekali tidak bersifat lengkap. Mungkin paling tepat dibaca sebagai ilustrasi tentang keterhubungan tubuh manusia, bahwa kita adalah satu sistem, sehingga masuk akal jika satu obat dapat memiliki banyak kegunaan.

Dalam pengobatan kanker, ada dua contoh penting. Yang pertama adalah obat raloxifene. Raloxifene awalnya dikembangkan untuk mengobati osteoporosis.

Kemudian, sebuah penelitian besar di 25 negara menunjukkan potensinya untuk digunakan kembali pada orang dengan risiko tinggi terkena kanker payudara. Dalam penelitian tersebut, risiko kanker payudara invasif menurun sebesar 76 persen selama tiga tahun pengobatan pada perempuan pascamenopause dengan osteoporosis. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA yang dianggap sebagai standar dunia dalam persetujuan obat dan vaksin kemudian menyetujui raloxifene untuk pencegahan kanker payudara invasif.

Thalidomide, obat yang mungkin lebih dikenal karena sejarah kontroversialnya pada tahun 1950 an sebagai obat penenang bagi perempuan hamil yang mengalami mual di pagi hari dan kemudian ditarik dari peredaran setelah diketahui menyebabkan cacat bawaan berat pada kerangka tubuh, sekitar 60 tahun kemudian dialihfungsikan dan disetujui FDA untuk digunakan bersama dexamethasone pada pasien dengan diagnosis baru multiple myeloma. Multiple myeloma adalah kanker darah yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat diobati.

Belakangan ini, terdapat pula penelitian mengenai penggunaan kembali obat untuk penyakit Alzheimer, yaitu bentuk neurodegenerasi atau demensia. Prevalensi demensia meningkat dengan cepat.

Vaksin tuberkulosis berusia 100 tahun yang disebut Bacillus Calmette Guérin ditemukan dapat mengatur kadar gula darah dan dengan demikian mengurangi kebutuhan insulin pada penderita diabetes tipe 1.

Namun, mungkin kasus drug repurposing yang paling terkenal atau paling kontroversial adalah Viagra atau sildenafil.

Obat ini awalnya dikembangkan untuk mengobati kondisi kardiovaskular seperti nyeri dada atau angina. Kemudian ditemukan, singkat cerita, bahwa obat ini membantu pria dengan disfungsi ereksi. Setelah itu, obat ini dikenal sebagai “pil biru kecil”.

Peringatan lain, kali ini dari sejarah

Menulis di British Medical Journal pada tahun 1998, dokter umum Abi Berger menyatakan: “Pasti menjadi impian setiap perusahaan obat untuk memiliki produk yang begitu menggoda sehingga kebutuhan akan pemasaran dan hubungan masyarakat tersingkirkan oleh gelombang besar sensasi media.”

Seolah olah gembar gembor mengenai agonis GLP 1 merupakan contoh “sejarah yang terulang kembali”.

Jadi, mari kita akhiri dengan sebuah peringatan dari sejarah: Bukan hanya sensasi besar tersebut yang memberikan tekanan pada produksi sildenafil pada masanya, tetapi penelitian yang lebih baru juga menemukan bahwa obat itu dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang tidak normal.

Dan hal yang sama mungkin berlaku untuk agonis GLP 1: bukti mengenai penggunaan ulangnya, manfaat sebenarnya, serta kekurangan dan risikonya, mungkin baru dapat diamati secara utuh dalam bertahun tahun mendatang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid