1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

Keytruda: Ketika Obat Kanker yang Cuma Buat Orang Kaya?

14 Mei 2026

Sebuah investigasi lintas batas oleh DW dan ICIJ mengungkap bagaimana harga dan paten mengubah obat penyelamat nyawa jadi salah satu obat terlaris di dunia, sekaligus membuat banyak pasien kesulitan mengaksesnya.

https://p.dw.com/p/5C6Yh
Logo  perusahaan Merck.
Obat kanker yang dimaksud diproduksi oleh perusahaan Merck yang bermarkas di AS.Foto: Rafael Henrique/SOPA Images/Sipa USA/picture alliance

Investigasi internasional selama setahun terhadap salah satu obat kanker paling penting di dunia menunjukkan bagaimana sebuah terobosan medis di bidang kanker telah menjadi titik kritis dalam dunia  kesehatan. Sistem penetapan harga obat, perlindungan hak paten, dan kerangka regulasi menentukan siapa yang bisa mengakses obat penyelamat nyawa ini dan siapa yang tidak.

Proyek investigasi ini bertajuk  "The Cancer Calculus”. Dikoordinasikan oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) bersama Deutsche Welle dan 46 mitra media, proyek ini  mempertemukan 124 jurnalis di 37 negara, yang ambil bagian dalam investigasi.

Dengan memanfaatkan ratusan wawancara dengan dokter onkologi, pasien dan keluarga mereka, pengacara, regulator, apoteker, orang dalam industri farmasi, dan lainnya, serta data harga eksklusif dan analisis paten, proyek ini meneliti bagaimana obat kanker milik Merck, Keytruda, menjadi tonggak terapi sekaligus simbol ketimpangan akses.

Dalam penelitiannya, mitra media ICIJ juga memperoleh catatan kesehatan publik, notulen rapat, serta data harga dan penggantian biaya melalui sedikitnya 1.018 permintaan catatan publik di 27 negara.

Mitra seperti The Indian Express, De Tijd, El País, La Nación, dan DW Turki mendokumentasikan bagaimana dampak obat ini sangat bervariasi di berbagai wilayah—mulai dari rumah sakit yang terpaksa melakukan membatasi pengobatan, hingga pasien yang beralih ke jalur pengadilan atau penggalangan dana untuk berusaha bertahan hidup. 

Obat yang mengubah perawatan kanker

Keytruda (pembrolizumab), yang pertama kali disetujui penggunaannya pada tahun 2014, termasuk dalam kelas obat imunoterapi yang memungkinkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel kanker.

Kini obat itu disetujui untuk digunakan  sedikitnya 19 jenis tumor. Obat ini telah memperpanjang harapan hidup jutaan orang. Bahkan dalam beberapa kasus mengubah diagnosis yang sebelumnya berujung kematian menjadi kondisi yang dapat dikendalikan dalam jangka panjang.

Namun obat ini juga telah menjadi salah satu obat terlaris dalam sejarah industri farmasi. Keytruda menghasilkan angka penjualan sebesar 31,7 miliar dolar AS ganya pada tahun 2025. Jumlah ini hampir setengah dari total pendapatan Merck. Sementgara, total angka penjualannya secara global sejak peluncurannya mencapai sekitar 163 miliar dolar.

Sekitar 60% penjualan tersebut berasal dari Amerika Serikat. Sementara itu, perusahaan telah menyalurkan hampir 75 miliar dolar AS dalam bentuk dividen kepada pemegang saham dan 43 miliar dolar AS untuk pembelian kembali saham.

(Ed.: "Buyback” atau pembelian kembali saham adalah ketika sebuah perusahaan menggunakan uangnya untuk membeli kembali sahamnya sendiri dari pasar.)

Ekspansi global Keytruda meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dari tahun 2020 hingga 2024, penjualan naik 232% di Prancis menjadi 2,8 miliar dolar AS, 265% di Brasil menjadi 753,7 juta dolar AS, 491% di Meksiko menjadi 137,3 juta dolar AS, dan 584% di Turki menjadi hampir 100 juta dolar AS. Demikian menurut data eksklusif yang dibagikan kepada ICIJ oleh IQVIA Institute for Human Data Science.

Seiring harga obat yang terus meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan para eksekutif farmasi pada bulan Desember dan berjanji menurunkan biaya. Meskipun perusahaan-perusahaan memberi sinyal adanya pemotongan harga, Merck tidak secara publik berkomitmen untuk menurunkan harga Keytruda.

Pada saat yang bersamaan, biaya pengobatan memberikan tekanan yang semakin besar pada sistem kesehatan di seluruh dunia. Biaya pengobatan tahunan—sekitar 80.000 dolar AS di Jerman hingga 208.000 dolar AS di Amerika Serikat, 93.000 dolar AS di Lebanon hingga sekitar 130.000 dolar AS di Kolombia, serta dari sekitar 65.000 dolar AS di Afrika Selatan hingga 116.000 dolar AS di Kroasia—memberikan tekanan pada anggaran pemerintah, bahkan di negara makmur.

Di Inggris, penelitian menunjukkan bahwa National Health Service (NHS) dalam beberapa kasus telah membayar harga Keytruda terlalu mahal, dengan satu studi menemukan bahwa obat tersebut bisa berharga hingga lima kali lipat dari nilai yang dinilai untuk pasien kanker paru-paru tertentu.

Harga, paten, dan kekuasaan

Investigasi ini menemukan bahwa Merck mengandalkan kombinasi strategi hukum dan komersial untuk mempertahankan dominasinya.

Salah satu yang paling signifikan adalah penggunaan sistem paten secara luas. Para jurnalis mengidentifikasi sedikitnya 1.212 permohonan paten terkait Keytruda di 53 yurisdiksi (wilayah hukum/negara yang memiliki sistem patennya masing-masing).

Meskipun hak paten utama obat ini akan berakhir pada tahun 2028, paten lanjutan dapat memperpanjang eksklusivitas pasar hingga setidaknya  tahun 2042. Risikonya adalah penundaan hadirnya alternatif yang lebih murah selama lebih dari satu dekade.

Para kritikus menyebut kondisi ini sebagai "benteng paten” yang dirancang untuk menghambat persaingan. Merck menolak tuduhan tersebut, dengan menyatakan bahwa pengajuan patennya mencerminkan inovasi yang berkelanjutan, termasuk penggunaan baru, formulasi baru, dan kombinasi baru dari obat tersebut.

(Ed.: Istilah "Benteng paten" artinya strategi perusahaan membangun “lapisan-lapisan paten” untuk melindungi satu produk agar pesaing sulit masuk)

Investigasi ini juga menyoroti jalur regulasi dan upaya lobi yang membantu memperluas penggunaan obat tersebut, serta hubungan finansial dengan dokter dan kelompok pasien. Di Amerika Serikat saja, disinyalir ada catatan yang menunjukkan bahwa Merck melakukan pembayaran terkait Keytruda kepada tenaga kesehatan dengan total hampir 52 juta dolar AS antara tahun 2018 dan 2024.

Merck berkilah bahwa kerja sama tersebut membantu memberi informasi kepada komunitas medis dan meningkatkan perawatan pasien, serta bahwa dukungan kepada organisasi pasien tidak memengaruhi keputusan peresepan.

Skala biaya pengembangan Keytruda juga diperdebatkan. Dalam kesaksian di Kongres AS pada tahun 2024, CEO Merck Robert M. Davis mengatakan perusahaannya telah menginvestasikan 46 miliar dolar AS antara tahun 2011 dan 2023 untuk penelitian, pengembangan, dan produksi obat tersebut, dengan merujuk pada lebih dari 2.200 uji klinis serta rencana investasi tambahan 18 miliar dolar AS untuk studi masa depan.

Namun analisis oleh organisasi nirlaba Swiss Public Eye memperkirakan biaya riset dan pengembangan obat ini sekitar 1,9 miliar dolar AS, atau sekitar 1% dari pendapatan global sejak peluncuran. Bahkan ketika biaya dari uji coba yang gagal dimasukkan, estimasi tersebut hanya naik menjadi 4,8 miliar dolar AS, atau sekitar 3% dari total pendapatan.

Gambar simbol Pembrolizumab
Obat imunoterapi kankerFoto: SoniPhotography/Pond5 Images/IMAGO

Harga ekstrem, sistem yang tidak transparan

Harga resmi Keytruda sangat bervariasi, dari sekitar 850 dolar AS atau sekitar 14 juta Rupiah per vial (100 mg) di Indonesia hingga lebih dari 6.000 dolar AS  (Rp69 juta) di Amerika Serikat, mencerminkan sistem penetapan harga yang tidak transparan dan dibentuk oleh diskon rahasia serta negosiasi.

Bahkan ketika harga tampak lebih rendah, keterjangkauan obat sering kali tetap buruk. Di Amerika Serikat, seorang pasien dengan pendapatan menengah  hanya mampu membeli kurang dari lima dosis per tahun.

Sebaliknya di Afrika Selatan, seseorang dengan pendapatan menengah bahkan tidak mampu membeli satu dosis pun (200 mg) dalam setahun, yang menunjukkan bahwa perbedaan pendapatan, bukan hanya harga -- yang menentukan akses.

Menurut analisis ICIJ, orang dengan pendapatan menengah di Amerika Serikat hanya mampu membeli lebih sedikit dosis Keytruda dibandingkan mereka di beberapa negara Eropa Barat seperti Prancis dan Belgia. Sementara itu, keterjangkauannya bahkan lebih rendah lagi di negara-negara Eropa Timur berpendapatan lebih rendah seperti Bulgaria dan Hungaria.

Di India, di mana akses sangat bergantung pada pembayaran langsung dari pasien atau program bantuan terbatas. Biaya pengobatan dapat melebihi pendapatan tahunan pasien, sehingga secara efektif membatasi akses hanya pada sebagian kecil populasi.

Di Brasil, tingginya ongkos  obat kanker telah memicu lonjakan litigasi, dengan ribuan gugatan diajukan dalam beberapa tahun terakhir ketika pasien mencari akses melalui pengadilan. Pola serupa juga terjadi di seluruh Amerika Latin, di mana sistem hukum menjadi jalur penting untuk akses.

Investigasi ini juga mendokumentasikan kasus-kasus di mana keterbatasan pasokan memaksa dokter mengambil keputusan hidup dan mati. Di Guatemala, seorang onkolog menggambarkan dirinya terpaksa memilih pasien mana yang akan menerima pengobatan, dan mengatakan bahwa itu terasa seperti "berkuasa atas takdir ”.

Sejak Keytruda hadir di pasar pada tahun  2014, ICIJ menemukan sedikitnya 632 kasus di 51 negara di mana pasien menggunakan GoFundMe dan situs penggalangan dana lainnya untuk membiayai pengobatan Keytruda.

Dalam beberapa kasus, pasien beralih ke pasar gelap, sehingga terpapar obat palsu. Yang lain menggugat pemerintah dan dalam beberapa kasus meninggal dunia sebelum tuntutan mereka diselesaikan.

Di berbagai negara, satu pola umum muncul: kerahasiaan. Otoritas di beberapa negara menolak mengungkapkan pengeluaran publik atau jumlah pasien Keytruda, sering kali dengan alasan "rahasia dagang”, sehingga menyulitkan perbandingan harga atau penilaian keadilan antar sistem kesehatan.

Pembrolizumab bantu pasien kanker.
Obat pembrolizumab membantu pasien kanker.Foto: Julien Behal/PA Wire/empics/picture alliance

Turki: Kebijakan harga, celah penggantian biaya, dan litigasi

Dalam konteks global ini, Turki menunjukkan bagaimana kebijakan harga, aturan penggantian biaya, dan proses peradilan saling berinteraksi dalam akses terhadap obat kanker berbiaya tinggi.

Di Turki, harga obat dihitung berdasarkan nilai tukar euro tetap yang ditetapkan pemerintah, yang biasanya lebih rendah dari nilai pasar. Per 1 April 2026, kurs referensi dinaikkan menjadi 29,11 lira Turki, dan harga eceran naik menjadi 88.783,52 lira per vial (sekitar Rp380 ribu).

Obat ini diberikan dalam dua dosis setiap tiga minggu, sehingga biaya satu siklus pengobatan mencapai sekitar 177.567 lira (sekitar Rp85  juta). Ini setara dengan sekitar 6,5 kali upah minimum bersih bulanan di Turki, yang berada di angka 28.075,50 lira.

Selama bertahun-tahun, Keytruda tidak termasuk dalam sistem penggantian biaya Institusi Jaminan Sosial (SSI), sehingga pasien harus menempuh jalur pengadilan untuk mendapatkannya. Obat ini baru masuk skema penggantian biaya pada Juli 2025 untuk enam indikasi, tetapi pembatasan kelayakan dan penggunaan di luar indikasi resmi masih menimbulkan sengketa.

Analisis DW Turki terhadap 50 kasus hukum di Turki menunjukkan bagaimana proses hukum itu sendiri menjadi faktor penentu akses. Dalam 10 dari 34 kasus pengadilan hubungan kerja yang masih berjalan, pasien meninggal dunia saat proses masih berlangsung.

Hal ini menunjukkan masalah struktural: bahkan ketika hak hukum atas pengobatan ada, keterlambatan dalam proses peradilan dapat membuat hak tersebut tidak efektif, terutama dalam kondisi yang mengancam jiwa seperti kanker.

Pembrolizumab
Model molekuler 3D dari antibodi imunoterapi.Foto: Kon/YAY Images/IMAGO

Perdebatan dosis dan meningkatnya biaya

Investigasi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana obat ini diresepkan. Beberapa peneliti berpendapat bahwa Keytruda sering diberikan dalam dosis yang lebih tinggi daripada yang diperlukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa beralih ke dosis berbasis berat badan untuk pasien kanker paru-paru saja dapat menghemat sekitar lima miliar dolar AS secara global selama 15 tahun, berdasarkan skenario pemodelan.

Rumah sakit di beberapa negara telah mulai menguji pendekatan dosis lebih rendah, dengan temuan awal yang menunjukkan efektivitas serupa. Rumah sakit di Singapura, Malaysia, dan Taiwan mencapai kesimpulan yang sama, dan beberapa negara termasuk Belanda, Kanada, dan Israel mulai beralih ke dosis berbasis berat badan, di mana berat badan pasien menentukan jumlah obat yang digunakan, dengan hasil yang menjanjikan.

Merck menyatakan bahwa rekomendasi dosisnya didasarkan pada bukti klinis yang luas dan persetujuan pemangku kebijakan.

Obat Kanker Terbaru Dari RNA Pembawa Pesan

Merck: Harga mencerminkan nilai

Dalam tanggapan kepada ICIJ, Merck membela strategi penetapan harganya, dengan mengatakan bahwa harga Keytruda "mencerminkan nilainya bagi pasien dan sistem layanan kesehatan”.

Merck juga mengatakan bahwa akses terhadap obat bersifat "multifaktorial”, bergantung pada sistem layanan kesehatan, kebijakan penggantian biaya, dan infrastruktur, bukan hanya harga.

Perusahaan tersebut menyebut menggunakan penetapan harga diferensial di berbagai pasar dan menjalankan program bantuan pasien. Mereka menambahkan bahwa mereka secara aktif terlibat dalam program akses di negara berpendapatan rendah dan menengah untuk memperluas ketersediaan.

Di Amerika Serikat, perusahaan melaporkan telah menyediakan obat gratis senilai 1,7 miliar dolar AS di seluruh portofolionya pada 2024, serta sekitar 125 juta dolar AS dalam bantuan biaya tambahan (co-pay assistance).

Merck juga menyoroti faktor sistemik yang lebih luas, termasuk perusahaan asuransi dan perantara, sebagai pendorong utama tingginya biaya, terutama di AS.

Merck tidak secara publik merinci bagaimana mereka menghitung biaya riset dan pengembangan untuk masing-masing obat, tetapi secara konsisten berargumen bahwa harga mencerminkan investasi jangka panjang dan risiko di seluruh portofolio mereka.

Pada saat yang bersamaan, perusahaan mengakui adanya "tekanan politik dan bisnis yang meningkat” terkait harga dan akses, terutama di pasar berkembang, tetapi mengatakan bahwa mereka bekerja untuk membuat layanan kesehatan lebih "terjangkau, efisien, adil, dan berkelanjutan”.

Robot nano pembunuh sel tumor

Sistem global yang berada di bawah tekanan

Investigasi ini menyimpulkan bahwa praktik Merck bukanlah hal yang unik, melainkan mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam industri farmasi, di mana perlindungan paten, strategi penetapan harga, dan kerangka regulasi sering kali lebih menguntungkan produsen.

Namun bagi pasien, konsekuensinya bersifat langsung. Akses terhadap terapi yang dapat memperpanjang hidup sering kali tidak hanya bergantung pada kebutuhan medis, tetapi juga pada lokasi geografis, pendapatan, dan kemampuan untuk menavigasi sistem hukum serta keuangan yang kompleks.

Bagi Kepala Cabang Kesehatan Publik Asosiasi Medis Turki, Nasır Nesanır, ketimpangan ini menunjukkan pertanyaan struktural yang lebih dalam. Dalam wawancara dengan DW Turki, ia mengatakan bahwa isu ini melampaui layanan kesehatan itu sendiri.

“Apakah inovasi medis harus dianggap sebagai keuntungan bersama umat manusia?” tanya Nesanır. “Atau harus tetap menjadi aset komersial di bawah perlindungan paten yang memperdalam ketimpangan global?”

Hasilnya adalah kesenjangan global yang dalam, di mana sebuah obat terobosan bisa berarti kelangsungan hidup bagi sebagian orang, tetapi tetap tidak terjangkau bagi banyak orang lainnya.

 

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait