Kelahiran di Jerman Anjlok Tajam, Rekor Terendah Sejak PD II
29 April 2026
Angka kelahiran di Jerman pada tahun 2025 turun ke tingkat terendah sejak Perang Dunia II. Menurut angka sementara dari Badan Statistik Jerman (Destatis), jumlah bayi yang lahir hidup pada tahun 2025 sekitar 655.000, turun dari sekitar 680.000 kelahiran pada tahun 2024.
Tahun lalu, jumlah kematian di negara tersebut melampaui satu juta jiwa. Akibatnya, selisih antara jumlah kelahiran dan kematian mencapai sekitar 350.000, kembali mencetak rekor baru.
Penurunan angka kelahiran selama empat tahun berturut-turut di Jerman
Tahun lalu menandai tahun keempat berturut-turut penurunan angka kelahiran dan menjadi tingkat terendah sejak 1946.
Tingkat penggantian penduduk (replacement rate) Jerman saat ini berada di angka 1,35 anak per perempuan, yang merupakan rekor terendah dan jauh di bawah angka 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil.
Destatis menyebut tren ini terjadi karena generasi kelahiran 1990-an yang jumlahnya relatif kecil kini memasuki usia 30-an—masa paling subur untuk memiliki anak—ditambah penurunan tingkat kesuburan total sejak 2022.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah kelahiran pada 2025 turun lebih tajam di timur Jerman (-4,5%) dibandingkan di bagian barat (-3,2%) jika dibandingkan dengan 2024.
Berlawanan dengan tren tersebut, Hamburg menjadi satu-satunya negara bagian Jerman yang mengalami peningkatan angka kelahiran, naik sebesar 0,5% pada tahun 2025.
Proyeksi jangka panjang Destatis hingga tahun 2070 menunjukkan bahwa populasi dapat menyusut sekitar 10%. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa imigrasi tidak akan mampu menutupi penurunan ini.
Familienverband: Angka kelahiran rendah adalah "peringatan keras"
Asosiasi Keluarga Jerman (Familienverband) menggambarkan angka-angka ini sebagai "peringatan keras yang dramatis." Penurunan angka kelahiran bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari puluhan tahun diskriminasi struktural terhadap keluarga, ujar Direktur Eksekutif Federal Sebastian Heimann kepada Evangelical Press Service pada hari Selasa (28/04).
"Sistem jaminan sosial kita, khususnya pensiun wajib, secara efektif menghukum para orang tua karena membesarkan anak dengan membuat mereka tidak mendapatkan imbalan yang layak di usia tua—terutama para ibu," jelas Heimann.
Karena para pembuat kebijakan selama beberapa dekade gagal meningkatkan tunjangan untuk orang tua dan mengabaikan kebutuhan khusus keluarga dengan banyak anak, mereka seharusnya tidak terkejut dengan menurunnya angka kelahiran, tambahnya.
Ia mendesak adanya reformasi sistem jaminan sosial yang lebih ramah keluarga serta penerapan pensiun orang tua yang nyata, guna memperkuat kembali kontrak antargenerasi.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid