1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Sarat Ketidakpastian

Daniel Ameri
16 Juni 2026

Kesepakatan damai antara AS dan Iran dijadwalkan akan ditandatangani pada Jumat (19/06) pekan ini. Meski harapan akan perdamaian masih rapuh, tapi kabar itu memicu beragam respons dari berbagai pihak.

https://p.dw.com/p/5FUDJ
Warga melintas dengan sepeda motor di depan mural bergambar Khomeini dan Khamenei di Iran.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran masih diliputi banyak ketidakpastianFoto: Majid Asgaripour/WANA/REUTERS

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan terbang ke Swiss minggu ini dan menandatangani sebuah kerangka kerja kesepakatan yang mengesahkan “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front.”

Acara resmi itu dijadwalkan akan berlangsung pada hari Jumat (19/06).

Presiden AS Donald Trump juga menegaskan kembali penyataan PM Pakistan itu, dengan mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang telah tercapai. Di sisi lain, pejabat Iran juga memberikan sinyal dukungan atas kabar itu dengan hati-hati, meski tidak sepenuhnya menerima semua rincian yang dilaporkan.


Perlu dicatat, Trump juga sebelumnya berulang kali menyapaikan kabar penuh optimisme, tapi berakhir dengan kekecewaan. Begitu juga dengan proposal perdamaian terbaru ini yang masih berpotensi gagal bahkan sebelum mencapai tahap penandatanganan di Swiss.

Banyak poin kesepatakan yang dilaporkan masih belum jelas dan diperdebatkan secara politik, dan bahkan jika Teheran dan Washington memverifikasinya pada hari Jumat, kerangka tersebut dilaporkan masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan krusial. Misalnya, soal sengketa program nuklir Iran, yang baru akan dibahas dalam 60 hari setelah upacara penandatanganan.

Narasi yang saling bertentangan sejak awal

Sumber dari AS dan Iran menyampaikan narasi yang berbeda mengenai isi sebenarnya dari kesepakatan tersebut. Media semi-resmi Iran dan media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menyebarkan apa yang mereka sebut sebagai draf memorandum 14 poin, termasuk penghentian pertempuran di semua front, pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari, keringanan sanksi parsial, akses ke dana Iran yang dibekukan, serta dua bulan negosiasi lanjutan yang berfokus pada isu nuklir dan sanksi. Rincian ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Televisi pemerintah Iran menggambarkan pengumuman tersebut sebagai sebuah keberhasilan diplomatik. Namun, kelompok garis keras Iran dengan cepat menyerang kesepakatan itu, dan menilai bahwa kesepakatan tersebut memberikan terlalu banyak konsesi tanpa imbalan yang memadai.

Kritik dari kelompok ultrakonservatif melihatnya sebagai langkah mundur yang tidak dapat diterima, sementara pendukung pemerintah menegaskan bahwa kesepakatan ini tetap menjaga prinsip-prinsip dasar dan mencegah terjadinya krisis yang lebih besar.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi baru-baru ini juga meminta media untuk tidak berspekulasi tentang isi memorandum selama proses masih berlangsung. Trump membagikan ulang pesan Araqchi di media sosial dan menyebutnya “sangat positif.” Penyataan itu memperkuat kesan bahwa kedua pihak ingin menunjukkan momentum yang positif tanpa sepenuhnya mengungkapkan draft teks final kesepakatan secara penuh.

Apa yang ingin dicapai AS dan Iran?

Babak Dorbeiki, analis politik berbasis di London dan mantan pejabat di Strategic Research Center Iran, mengatakan bahwa kesepakatan ini tampaknya menawarkan masing-masing pihak keuntungan taktis jangka pendek sambil menunda isu-isu yang lebih sulit ke tahap berikutnya.

“Keuntungan utama bagi Iran adalah berakhirnya blokade angkatan laut AS, keringanan jangka pendek untuk penjualan minyak, dan pernyataan tertulis AS yang menghormati kedaulatan Iran,” katanya kepada DW.

Dorbeiki mengatakan Teheran juga dapat melihat kesepakatan ini sebagai cara bagi rezim untuk menjaga legitimasi domestik dengan menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah di bawah tekanan. Namun, ia juga menyoroti hal-hal yang merugikan bagi Iran.

Versi kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat tampaknya mengarah pada hasil yang jauh lebih ketat dalam isu nuklir, termasuk penghilangan material uranium yang diperkaya dan pengawasan jangka panjang. Sementara, narasi Iran menunjukkan bahwa pengayaan itu sendiri mungkin masih dapat dipertahankan dalam beberapa bentuk. Dorbeiki mengatakan kedua narasi ini tidak mudah dipadukan.

Menurutnya, keuntungan yang diperoleh Washington berbeda. Gencatan senjata ini akan mengakhiri operasi militer yang berbiaya mahal, mengurangi tekanan pada pasar energi global, dan berpotensi memperoleh hasil lebih besar dalam isu nuklir dibandingkan kerangka pengendalian senjata yang lebih terbatas.

Namun, ia juga memperingatkan bahwa AS masih menghadapi masalah verifikasi, perpecahan politik internal, dan resistensi dari pihak pro-Israel yang tidak puas dengan kesepakatan apa pun yang tidak menyentuh posisi regional Iran yang lebih luas.

Israel bukan pihak dalam kesepakatan, tapi bisa memengaruhi hasil

Salah satu batasan paling jelas dari kesepakatan ini adalah bahwa Israel tidak secara resmi menjadi pihak di dalamnya, meskipun sangat terdampak oleh kesepakatan tersebut. Hal ini penting karena beberapa konflik regional paling sensitif, terutama di Lebanon, sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil Israel.

Dorbeiki menyebut ini sebagai salah satu titik lemah struktural kesepakatan ini. Menurutnya, Washington mungkin bersedia menerima kerangka yang mengurangi risiko langsung dan memulihkan stabilitas maritim, sementara Israel dapat terus melakukan operasi sepihak di Gaza, Lebanon, atau Suriah, jika menilai kesepakatan itu tidak cukup menjawab kekhawatirannya.

Kemungkinan ini juga memicu kritik di Iran. The Guardian melaporkan bahwa kelompok garis keras Iran mengecam kesepakatan tersebut sebagai kompromi yang memalukan. Mereka menilai kesepakatan itu tidak memberikan jaminan kompensasi, keringanan sanksi menyeluruh, maupun keuntungan keamanan jangka panjang bagi Teheran.

Disambut baik di luar negeri, picu kemarahan di dalam negeri

Pengumuman tersebut mendapat reaksi positif dan dukungan dari para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Namun, pejabat tinggi Israel tidak antusias menyambut kabar itu. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menulis bahwa “kesepakatan Trump tidak mengikat kami” dan bahwa Israel tidak boleh berkompromi pada “apa pun yang kurang dari pelucutan Hizbullah” atau mundur dari “wilayah apa pun yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teror oleh pasukan kami.”

Masalah Aset Iran yang Dibekukan

Ketidakpuasan dari lingkaran pejabat senior Israel ini kemungkinan akan diperkuat oleh sekutu politik Israel di AS. Komentator pro-perang, seperti Mark Levin dan Ben Shapiro, mempertanyakan kesepakatan damai tersebut. Shapiro menyebut upacara penandatanganan di Swiss sebagai “ide buruk” dan “sekadar ajang foto besar-besaran” bagi rezim Iran.

Meski demikian, kritik mereka sedikit tertahan karena rincian kerangka kesepakatan tersebut masih belum terverifikasi. Mereka mendesak Gedung Putih merilis teks lengkap dari perjanjian itu.

Namun, sejumlah analis percaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak punya banyak pilihan selain mengikuti arah Washington.


“Apa pun yang Donald Trump inginkan dari seorang perdana menteri Israel, dia akan mendapatkannya,” kata Aaron David Miller dari Carnegie Endowment for International Peace kepada DW. Miller mencatat bahwa Netanyahu akan menghadapi pemilu pada musim gugur ini dan membutuhkan “dukungan aktif” dari Trump.

“Netanyahu akan melakukan apa pun yang Trump minta darinya,” katanya.

Sebuah kesepahaman yang terbatas

Reza Alijani, analis politik berbasis di Paris yang berasal dari Iran, memperingatkan bahwa kesepakatan ini sebaiknya dipahami sebagai memorandum yang terbatas, bukan penyelesaian menyeluruh.

“Ini adalah kesepakatan terbatas,” katanya kepada DW.

Alijani mengatakan Teheran tampaknya telah menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dan kembalinya kondisi pelayaran sebelum perang, setidaknya secara prinsip. Sementara, Amerika Serikat tampaknya siap melonggarkan blokade laut.

Menurutnya, itu adalah pertukaran nilai langsung yang menjadi inti kesepakatan tersebut. Sementara, hal-hal yang lebih ambisius pada dasarnya telah ditunda ke 60 hari berikutnya.

Alijani juga menyoroti isu Lebanon sebagai salah satu bagian paling penting dari kesepakatan ini. Menurutnya, Teheran tampak bereaksi secara lambat dan hati-hati terhadap serangan Israel yang berlanjut di Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa Iran mungkin sudah memutuskan untuk mengesampingkan sebagian konflik itu demi de-eskalasi yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa sejumlah tuntutan Iran yang lebih ambisius, termasuk kompensasi finansial, penarikan penuh militer AS dari kawasan, atau penerapan pungutan bagi kapal yang melewati Hormuz, kini tampaknya telah dikurangi atau bahkan dihapus dari kerangka kesepakatan.

Alijani menambahkan bahwa jaminan pelaksanaan kesepakatan tetap sangat penting, sementara jalur implementasi praktisnya masih jauh dari kata jelas.

Kesepakatan damai bersejarah, atau hanya jeda pertempuran?

Keuntungan paling penting dari kesepakatan ini mungkin terletak pada perubahan positif dalam kondisi politik. Bahasa gencatan senjata, rencana upacara penandatanganan, serta dukungan publik dari Pakistan dan Trump, semuanya menunjukkan adanya langkah besar ke depan.

Namun, narasi yang saling bertentangan mengenai sanksi, program nuklir Iran, Lebanon, Selat Hormuz, dan mekanisme penegakannya menunjukkan bahwa kesepakatan ini mungkin lebih mudah diumumkan daripada diimplementasikan.

Kesepakatan ini mungkin cukup efektif untuk menghentikan pertempuran untuk sementara. Namun, apakah kesepakatan ini memenuhi tuntutan inti dari semua pihak, atau hanya menunda babak konflik berikutnya, kemungkinan itu baru akan terlihat dalam 60 hari setelah pertemuan puncak pada hari Jumat (19/06) di Swiss.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Tezar Aditya

Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait