1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikFilipina

Manuver Berbahaya Cina di Scarborough Shoal

Sorta Caroline
18 Februari 2025

Angkatan Udara Cina melakukan manuver udara yang membahayakan pilot serta penumpang pesawat Cessna Filipina. Insiden itu terjadi di atas Scarborough Shoal, di Perairan Laut Cina Selatan, kata militer Filipina.

https://p.dw.com/p/4qg3d
Südchinesisches Meer Scarborough Shoal 2025 | Chinesischer Hubschrauber nahe Kollision mit philippinischem Flugzeug
Helikopter Cina yang hampir bertabrakan dengan pesawat Filipina diatas Perairan Laut Cina SelatanFoto: Philippine Coast Guard/Anadolu/picture alliance

Selasa 18 Februari 2025, Pesawat Caravan Turbo Prop Cessna, Pesawat Milik Dinas Perikanan dan Perairan Filipina, terbang dengan ketinggian 13 meter (700 kaki). Saat itu pesawat mengangkut para jurnalis dalam misi penerbangan maritime domaine awareness, untuk mengamati kapal-kapal Cina yang berada di perairan sekitar Scarborough Shoal, Laut Cina Selatan.

Namun selama 30 menit pilot dan para penumpang terpaksa harus menghadapi manuver udara berbahaya yang dilakukan helikopter Angkatan Udara Cina, The People's Liberation Army Navy (PLAN). PLAN terbang merapat pesawat Cessna dan menyisakan jarak tiga meter (10 kaki) diantaranya.

Mengutip infomasi yang dirilis AP, Pilot Cessna telah memperingatkan helikopter PLAN untuk mengacu pada jarak standar antara pesawat yang diwajibkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) AS dan the International Civil Aviation Organization (ICAO) untuk mencegah terjadinya bencana udara. "Anda terbang terlalu dekat, sangat berbahaya dan membahayakan nyawa kru dan penumpang kami,” ujar pilot Filipina kepada Angkatan Laut Tiongkok melalui jaringan radio. "Menjauhlah dan jauhkan pesawat Anda dari kami, Anda melanggar standar keselamatan yang ditetapkan oleh FAA dan ICAO.”

Juru bicara penjaga pantai, Komodor Jay Tarriela, mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pertama kalinya, dimana helikopter PLAN digunakan untuk melawan pesawat patroli Filipina dengan manuver sedekat itu, "Kurang dari 10 kaki dan sangat berbahaya, ini tentu dapat berdampak pada kestabilan pesawat,” telas Tarriela.

Senior Kolonel, Tian Junli, juru bicara Angkatan Udara China mengklaim bahwa dalam hal ini pesawat Filipina telah "secara ilegal memasuki ke wilayah udara Tiongkok di atas Pulau Huangyan,” Ia menggunakan nama lokal Huangyan mendeskripsikan Scarborough Shoal. Junli menegaskan bahwa tindakan AU Cina tesebut sudah, "sesuai hukum dan regulasi yang berlaku untuk menelusuri, memonitor, memperingatkan dan mengusir Filipina yang telah serius melanggar kedaulatan wilayah Tiongkok.”

Pulau terumbu sarat sengketa

Konfrontasi Scarborough Shoal di Laut Cina Selatan ini telah berlangsung sejak tahun 2012 antara Cina dan Filipina. Di tahun tersebut, Angkatan Laut Filipina mengidentifikasi tangkapan ilegal kapal-kapal cina di wilayah teritorialnya tersebut. Penangkapan kapal-kapal ilegal ini kerap dilindungi kapal-kapal Angkatan Laut Cina.

Klaim sepihak Cina atas Scarborough Shoal dalam kedaulatan wilayah perairannya, telah melanggar ketentuan nine dash dot UN Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). UNCLOS mendefinisikan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) suatu negara sejauh 200 mil laut dari daratan. ZEE memberikan hak kepada suatu negara atas sumber daya laut di wilayah tersebut. Scarborough Shoal, titik konfrontasi ini, berjarak lebih 460 mil laut (765 kilometer) dari pantai Cina terdekat, di Pulau Hainan, dan berada di dalam ZEE Filipina, 120 dari batas pantai Pulau Luzon.

Filipina melanjutkan perselisihan ini ke arbitrase internasional. Keputusan panel arbitrase di tahun 2016 membatalkan klaim sepihak Cina di Laut Cina Selatan tersebut. Cina, sebagai penandatangan UNCLOS layaknya Filipina, menolak untuk berpartisipasi dalam proses arbitrase dan menentang keputusan arbitrase tersebut.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menggunakan misi maritime domaine awareness dengan mengikutsertakan para jurnalis untuk mengekspos tindakan pelanggaran yang dilakukan Cina di wilayah perairan lautnya. Filipina juga  memperkuat aliansi keamanannya Amerika Serikat, Jepang, Australia, Prancis, Kanada, Uni Eropa dan negara-negara Barat lainnya.

AS mengatakan akan memihak Filipina, jika pasukan, kapal, dan pesawat terbang Filipina mendapat serangan bersenjata, termasuk di Laut Cina Selatan. Namun, Cina telah memperingatkan AS dan sekutunya untuk tidak ikut campur dalam apa yang dikatakan sebagai purely Asian dispute (ed. murni sengketa Asia).

slc/hp (AFP/AP/Reuters)