1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemulihan Jalur Transit, Cina-Korea Utara Kembali Mesra?

Don Huh
24 Maret 2026

Layanan penerbangan dan kereta penumpang antara Cina dan Korea Utara mulai dipulihkan, seiring dengan gejolak geopolitik yang mendorong Beijing dan Pyongyang untuk mempererat hubungan mereka.

https://p.dw.com/p/5AyXP
Kereta yang menghubungkan Cina dan Korea Utara di Dandong
Wisatawan yang bepergian dengan kereta api dari Beijing ke Pyongyang biasanya transit di Dandong, CinaFoto: Yang Qing/Xinhua News Agency/picture alliance

Layanan kereta penumpang rute Pyongyang–Beijing kembali beroperasi pada 13 Maret 2026, untuk pertama kalinya sejak lebih dari enam tahun. Hal ini berlangsung di tengah upaya Korea Utara (Korut) dan Cina memperluas kerja sama perdagangan dan hubungan diplomatik.

Korea Utara menutup perbatasannya pada awal pandemi Covid-19 pada Januari 2020. Meski kereta barang antara Korut dan Cina sudah kembali beroperasi sejak September 2022, layanan kereta penumpang dan penerbangan tetap terhenti.

Menurut China Tourism Group, rute Pyongyang–Beijing kini beroperasi empat kali seminggu. Sementara itu, jalur terpisah antara Pyongyang dan kota perbatasan Dandong di Cina beroperasi setiap hari.

Rute penerbangan juga akan diperluas. Maskapai penerbangan nasional Cina, Air China, dijadwalkan kembali mengoperasikan penerbangan mingguan antara Bandara Internasional Capital Beijing dan Bandara Internasional Sunan Pyongyang mulai 30 Maret 2026, berdasarkan sistem pemesanan maskapai tersebut.

Maskapai nasional Korea Utara, Air Koryo, sebenarnya sudah mengoperasikan layanan terbatas ke Cina sejak Agustus 2023, dengan jadwal dua kali seminggu untuk rute Pyongyang–Beijing dan Pyongyang–Shenyang, kota di wilayah timur laut Cina.

Dokumen perjalanan wisatawan, bertuliskan "Tourist Card Democratic People's Republic of Korea'
Saat meninggalkan Korea Utara, pemeriksaan dilakukan dengan ketatFoto: Privat

Cina dan Korea Utara mempererat hubungan

Mantan juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Jeong Joon Hee, mengatakan kepada DW bahwa hubungan kerja sama di level teknis antara Cina dan Korea Utara belakangan ini meningkat, dengan perdagangan bilateral tumbuh sekitar 20% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

"Dimulainya kembali layanan kereta menunjukkan bahwa pergerakan orang dan barang secara bertahap kembali normal," kata Jeong. "Langkah ini tampaknya juga menjadi pesan kepada komunitas internasional bahwa Cina dan Korea Utara sedang mempererat hubungan di tengah situasi global saat ini."

Ia menambahkan bahwa kepentingan utama kereta ini bukan pada perjalanan sipil, melainkan pada pertukaran resmi dan pengangkutan bahan-bahan strategis.

"Pada rute ini, mobilitas pejabat tinggi dan komoditas strategis seperti minyak mentah, pangan, dan pasokan sensitif lainnya, jauh lebih penting daripada lalu lintas penumpang biasa," ujarnya.

"Jika penerbangan Air China beroperasi secara rutin dan bukan hanya sementara, itu akan semakin mengindikasikan niat kedua negara untuk mempererat kerja sama."

Teknis perjalanan dengan kereta

Penumpang yang bepergian dengan kereta dari Beijing menuju Pyongyang biasanya transit di Dandong, Cina, lalu naik kereta milik Korut di kota perbatasan Korea Utara, Sinuiju, untuk memasuki wilayah Korea Utara.

Warga negara Korea Utara menempati gerbong terpisah dan tidak diizinkan memasuki area wisata. Sementara itu, wisatawan asing ditempatkan terpisah di gerbong bagian depan yang biasanya merupakan gerbong soft-sleeper (gerbong tidur kelas premium).

Meski pemeriksaan perbatasan dilakukan secara ketat, kondisi kereta pada umumnya bersih.

Setelah menyeberangi Sungai Yalu menuju Sinuiju, petugas naik ke kereta untuk menyita ponsel penumpang dan mencatat detail perangkat. Mereka memeriksa isinya untuk memastikan tidak ada materi yang dilarang, seperti film atau gambar dari Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Bagasi juga digeledah dan paspor didaftarkan ulang sebelum kereta melanjutkan perjalanan ke Pyongyang.

Saat keberangkatan dari Korea Utara, pemeriksaan dilakukan dengan tingkat ketelitian yang sama. Pihak berwenang dapat menghapus gambar-gambar yang tidak diizinkan dari ponsel penumpang, terutama foto-foto yang menampilkan tentara.

Upaya Korut keluar dari isolasi

Jeong juga berpendapat bahwa ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia dapat memengaruhi pertimbangan Pyongyang. Menurutnya, Cina dan Korea Utara kemungkinan melihat berbagai konflik global yang tengah berlangsung sebagai tanda pergeseran menuju tatanan multipolar, sekaligus sebagai peluang untuk melemahkan dampak sanksi internasional terhadap Korea Utara.

Chan Il Ahn, Kepala World Institute for North Korea Studies sekaligus mantan tentara Korea Utara yang membelot pada 1979, mengatakan kepada DW bahwa jalur kereta ini menyediakan jalur diplomatik dan ekonomi yang penting.

"Kereta ini pada dasarnya berfungsi sebagai saluran komunikasi antara kedua pemerintah, sekaligus sebagai sarana transportasi bagi pejabat perdagangan dan pekerja yang terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan mata uang asing," kata Ahn.

Setelah Kongres Partai Buruh ke-9 pada Februari 2026, Korea Utara merancang rencana pembangunan lima tahun baru yang membutuhkan dukungan Cina.

"Perluasan koneksi transportasi merupakan bagian dari upaya peningkatan perdagangan untuk mendukung agenda tersebut," ujar Ahn.

Kim Jong Un Sowan Lagi kepada Xi Jinping

Jadi daya tarik wisatawan Cina

Ahn juga mengatakan bahwa dimulainya kembali penerbangan Air Cina terkait dengan upaya Korea Utara untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata, terutama di kawasan resor pantai Wonsan dan kawasan Danau Samji di dekat Gunung Paektu. Keduanya terletak di wilayah timur laut Korea Utara dan Pyongyang telah mempromosikannya kepada wisatawan Cina.

Menurut data Institut Strategi Keamanan Nasional Korea Selatan pada November 2023, sekitar 300.000 wisatawan asing mengunjungi Korea Utara pada 2019. Sebelum pandemi, sekitar 90% di antaranya adalah warga negara Cina dan menghasilkan pendapatan antara 90 juta-150 juta dolar AS (sekitar Rp1,4 triliun-Rp2,4 triliun).

Sejumlah biro perjalanan Cina sudah mulai mempromosikan paket wisata Korea Utara secara daring dengan mematok harga mulai dari sekitar 3.300 yuan (sekitar Rp7,6 juta). Namun, baik Beijing maupun Pyongyang belum mengumumkan dimulainya kembali kegiatan pariwisata secara resmi.

Jurnalis Li Zhanpu dari media industri perjalanan Cina, TravelDaily, mengingatkan dalam laporannya bahwa wisata Korea Utara "sering menarik rasa penasaran, tetapi tanpa pengumuman resmi, pembukaan kembali jalur kereta tidak berarti pariwisata telah dibuka kembali secara otomatis."

Li menambahkan bahwa "seluruh pariwisata ke Korea Utara dikendalikan secara ketat oleh agen-agen yang dikelola negara, dan perusahaan perjalanan Cina memiliki akses langsung yang sangat terbatas kepada mereka… konsumen yang membeli paket semacam itu tanpa kehati-hatian berisiko menanggung sendiri konsekuensinya jika pengajuan pengembalian dana ditolak."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Muhammad Hanafi