Pendidikan Tinggi bagi Kaum Ibu: Hak atau Privilese?
1 Desember 2025
Sorot mata Maulin Nastria tampak berbinar penuh antusiasme. Sore itu, di tengah kesibukannya bekerja sekaligus mengurus rumah tangga, ia menyempatkan diri bertemu dengan seorang rekan kerja dari kantor lama.
Dalam pertemuan itu, Maulin tampak bersemangat, membanjiri pertanyaan pada temannya yang akan melanjutkan studi pascasarjana ke Inggris. Antusiasme Maulin bukan tanpa alasan, beberapa tahun terakhir, ia memendam mimpi untuk melanjutkan studi pascasarjana.
“Sejak anakku berusia dua tahun, keinginan untuk melanjutkan pendidikan justru makin kuat. Aku percaya, Ibu yang terdidik dapat memberikan pola pengasuhan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Bahkan bukan hanya untuk anak, pendidikan seorang Ibu pasti berdampak besar bagi keluarga,” ujar Maulin.
Namun, mimpi itu kerap harus ia tunda.
“Ada beberapa pertimbangan: kuliah di dalam negeri atau mencoba beasiswa luar negeri. Tapi semuanya selalu kembali pada satu hal, bagaimana membagi waktu dengan anak? Saat ini, sebagai Ibu, aku merasa harus fokus pada tumbuh kembang anakku,” lanjutnya.
Meski mendapat dukungan dari suami dan keluarga, Maulin menyadari masih banyak hal yang harus dipertimbangkan, termasuk beban domestik yang melekat pada peran seorang Ibu. “Meski keluarga mendukung, aku masih sering bertanya-tanya. Kalau aku lanjut kuliah, bagaimana pembagian tugas di rumah? Ada stereotipe yang mengatakan perempuan seharusnya fokus pada urusan rumah tangga. Kadang aku berpikir, jika aku mengejar pendidikan, apakah aku egois?”
Peran perempuan dan beban domestik
Keinginan perempuan, terutama ibu, untuk melanjutkan studi sering terhambat oleh tanggung jawab domestik dan peran pengasuhan. Survei ILO–Katadata pada 2023 melaporkan bahwa 79,3% perempuan di Indonesia menanggung beban ganda, mulai dari beban pekerjaan berbayar dan urusan domestik. Temuan ini menunjukkan hambatan non-finansial yang signifikan bagi ibu untuk kembali atau lanjut studi.
Laporan itu juga menyebutkan beban ganda, bekerja sekaligus mengurus rumah tangga, masih menjadi hambatan utama bagi perempuan Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Hal senada diungkapkan konsultan gender, Lily Puspasari. Ia menilai bahwa beban perempuan terkait urusan domestik dan ekspektasi publik kerap membuat mereka mengandalkan “sensor” internal untuk mengambil keputusan.
“Pilihan yang perempuan ambil sering kali merupakan cerminan dari nilai, kebutuhan, dan tanggung jawab yang mereka pertimbangkan secara matang. Berbeda dengan laki-laki, yang cenderung tidak membutuhkan banyak pertimbangan reflektif; ketika ada tawaran atau kesempatan, mereka biasanya langsung mengambilnya tanpa banyak keraguan,” ujar Lily.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh struktur sosial yang patriarkal. Sudut pandang masyarakat cenderung mengutamakan laki-laki, di mana fungsi publik pada laki-laki dianggap lebih penting dan lebih diharapkan, sementara peran domestik perempuan sering kali kurang mendapat apresiasi, meski beban dan tanggung jawabnya sama beratnya.
Riset akademis yang dilakukan oleh Army Triasari dan Retno Hanggarani Ninin pada 2025 terhadap kaum Ibu yang melanjutkan studi ke luar negeri menemukan bahwa konflik peran antara tanggung jawab domestik dan tuntutan akademik sering membuat perempuan menunda hingga mengorbankan rencana studinya.
Dengan beban domestik yang tetap tinggi dan ekspektasi sosial yang menekan, perempuan sering harus menyeimbangkan ambisi pribadi dengan tanggung jawab keluarga. Tantangan ini menegaskan perlunya dukungan sistemik. Lily menjelaskan intervensi dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran publik pada isu gender dan beban domestik.
“Pemerintah sebenarnya sudah mengakui peran laki-laki dalam urusan domestik seperti proses persalinan, sehingga Ayah kini juga mendapatkan hak sebagai paternal leave. Beberapa perusahaan swasta bahkan lebih maju, dengan memberikan fasilitas yang setara bagi Ibu dan Ayah, menyediakan hak maternal dan paternal leave secara seimbang,” jelas Lily.
Meski begitu, hingga kini, di Indonesia belum ada aturan resmi yang mengatur hak suami untuk cuti mengurus anak setelah persalinan.
Mengejar asa dan melawan stigma
Norma kultural yang menekankan bahwa perempuan, terutama kaum Ibu, harus menempatkan keluarga di atas ambisi pribadi, masih menjadi penghalang signifikan bagi perempuan untuk mengejar pendidikan lebih tinggi.
Riset dari Indiana University dan Purdue University Indianapolis pada 2019 menunjukkan bahwa Ibu yang juga mahasiswa menghadapi konflik peran yang nyata. Mereka harus membagi waktu antara tanggung jawab domestik, perawatan anak, dan tuntutan akademik, yang kerap menimbulkan rasa bersalah, stres, dan tekanan psikologis.
“Konflik peran antara identitas sebagai ibu dan mahasiswa menjadi tantangan besar, terutama karena norma sosial yang menekankan bahwa ibu seharusnya selalu mengutamakan keluarga,” tulis peneliti dalam studinya.
Namun, hal ini justru coba dilawan oleh Luthfi Noorfitriyani, yang akrab disapa Defit. Di usianya yang menginjak 36 tahun, untuk kedua kalinya Defit menempuh pendidikan pascasarjana. Sejak September 2025, ia meninggalkan keluarga kecilnya di Jakarta untuk melanjutkan studi di Inggris.
“Omongan miring pasti ada, terutama dari orang-orang yang menilai aku memilih keinginan sendiri dan meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Padahal untuk rencana studi ini aku sudah mengomunikasikan semuanya dengan suami, dan ia sepenuhnya mendukung keputusanku. Bahkan kami sudah berdiskusi banyak mengenai pembagian peran,” ungkap Defit.
Sejak lama, Defit sudah menyiapkan berbagai hal sebelum keberangkatannya. Ia mengatur kemungkinan terkait pola asuh dan tumbuh kembang anak agar tetap terjaga selama ia menempuh studi di London.
“Selama kuliah di Inggris, salah satu opsinya adalah memanfaatkan day-care saat suami bekerja. Tentu, opsi ini menimbulkan konsekuensi, salah satunya biaya day-care yang harus disiasati. Itulah juga alasan aku kuliah sambil bekerja,” jelas Defit.
Meski demikian, Defit mengakui bahwa ia harus ekstra memperhatikan pola asuh anak di tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan. “Belakangan aku menyadari ada perubahan selama aku jauh dari anakku. Namun saat ini yang bisa aku lakukan adalah menciptakan komunikasi yang bermakna, sehingga anakku tidak merasa kehilangan sosok ibu selama setahun ke depan,” paparnya.
Defit juga menilai keputusannya untuk menempuh pendidikan tinggi bukanlah sebuah Keputusan egois. “Bagaimana pun pendidikan yang aku raih, pasti akan mempengaruhi kualitas hidup dan pola asuh untuk anakku.”
Ia meyakini pendidikan dan pemberdayaan perempuan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada keluarga. “Ini seperti yang Kartini sebut; Perempuan adalah pembawa peradaban,” pungkas Defit.
Editor: Yuniman Farid