Studi: Gen Punya Peran Penting untuk Umur Panjang
3 Februari 2026
Mereka ingin hidup panjang, biasanya disarankan untuk berolahraga lima kali seminggu, mengonsumsi sayuran setiap hari dengan warna yang berbeda seperti pelangi, dan punya banyak teman. Begitulah asumsi umum selama ini.
Namun sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Science meragukan resep umur panjang tersebut. Menurut studi tersebut, harapan hidup kita kemungkinan lebih dari 50 persen dipengaruhi oleh genetik daripada faktor eksternal.
Ilmuwan usia asal Denmark, Morten Scheibye-Knudsen, membuat kita kembali pada realita. Pesannya: "Seberapa tua kita hidup tergantung pada seberapa tua orang tua kita hidup,” kata Scheibye-Knudsen, yang tidak terlibat dalam studi ini.
Belakangan ini, kita terlalu sering beranggapan bahwa kita memegang kendali penuh atas harapan hidup kita melalui hal-hal yang kita lakukan atau hindari: makan sayuran, yoga, menjaga pertemanan dengan baik, tidak duduk terlalu lama, tidak menimbun lemak perut, tidak tinggal dekat pabrik atau cenderung menggunakan obat-obatan (buruk). Untuk hidup panjang, orang beranggapan, yang paling berpengaruh adalah lingkungan kita dan cara kita menjalani hidup.
Pengaruh gen terhadap harapan hidup sebelumnya diperkirakan sekitar 10 hingga 25 persen angka yang cukup rendah. Bahkan begitu rendah sehingga beberapa orang bertanya-tanya apakah gen kita sama sekali memengaruhi usia. "Kita sepertinya menutup mata terhadap pentingnya gen kita,” kata Scheibye-Knudsen. "Studi ini mungkin bukan perubahan total dalam pemikiran itu, tapi jelas sebuah koreksi arah yang signifikan.”
Faktor kematian eksternal selama ini diremehkan
Dalam penelitian tentang harapan hidup, ilmuwan sering mempelajari saudara kandung karena mereka memulai hidup dengan kondisi genetis yang serupa. Namun yang sering diabaikan: jika seorang saudara meninggal karena peristiwa yang tidak ada hubungannya dengan gen, misalnya kecelakaan atau infeksi penyakit.
Jika penyebab kematian eksternal ini diabaikan, Anda punya dua saudara dengan gen serupa tapi umur hidup sangat berbeda. Akibatnya, pengaruh gen terhadap harapan hidup akan diremehkan secara salah.
Namun, dalam studi harapan hidup dalam saudara kandung, penyebab kematian sering tidak diketahui. Data mereka sebagian berasal dari abad sebelumnya. Risiko meninggal karena faktor eksternal saat itu sekitar sepuluh kali lebih tinggi dibanding orang yang lahir seratus tahun kemudian, menurut dugaan peneliti.
Dalam studi terbaru, para ilmuwan memperbaiki kesalahan ini dengan menggunakan sekelompok saudara kandung dari Denmark, Swedia, dan Amerika Serikat, ditambah sedikit matematika. Hasilnya, pengaruh gen terhadap harapan hidup lebih dari 50 persen.
Bagi Ben Shenhar dan rekan-rekannya, penelitian ini terasa pahit. Pada Juni 2025, laboratorium mereka di Rehovot, Israel, hancur akibat roket Iran. Selama beberapa bulan, mereka tidak bisa menggunakan fasilitasnya. Peristiwa tersebut, kata Shenhar, malah membuatnya lebih memahami faktor "kematian ekstrinsik”.
Perlu dicatat, studi ini memiliki keterbatasan: tidak selalu mudah menentukan apakah kematian akibat faktor eksternal, seperti kecelakaan. Beberapa penyebab kematian tampak eksternal, tapi sebenarnya dipengaruhi faktor internal.
Contohnya, penyakit infeksi awalnya tidak terkait gen. Namun bagaimana tubuh kita melawannya memang dipengaruhi gen. "Ini menjadi abu-abu,” kata Scheibye-Knudsen. Tapi baginya, hal ini tidak mengubah pesan utama studi ini: gen memainkan peran lebih besar dari yang selama ini kita kira.
Gaya hidup tetap penting
Apa artinya ini bagi mereka yang menambahkan suplemen umur panjang ke sereal, mentransfusikan darah anak, atau mempertimbangkan transplantasi organ untuk memperpanjang hidup, apakah semua upaya ini nyata untuk memperpanjang hidup? Untuk saat ini, efeknya sama seperti sebelumnya, bahkan kebanyakan tidak.
Kita semua kemungkinan besar memulai hidup dengan harapan hidup tertentu. Jika leluhur kita hidup sekitar 70 atau 90 tahun, peluang kita mencapai usia serupa meningkat, kata Scheibye-Knudsen. "Tapi gaya hidup tetap berperan. Ia bisa memengaruhi umur hingga sekitar 20 tahun, terlepas dari gen kita.”
Jika kita merokok, umur kita bisa berkurang sekitar tujuh tahun. Pola makan tidak sehat bisa mengurangi hingga sepuluh tahun. Tidak berolahraga, tujuh tahun lagi.
Jadi studi ini bukanlah ‘lampu hijau' untuk makan gorengan dan minum bir sepuasnya. "Pada akhirnya, kita masih memegang hampir 50 persen kendali,” kata penulis utama studi, Ben Shenhar.
Dukungan baru bagi penelitian genetik
Bagi penelitian usia, studi ini berdampak besar. "Setengah dari orang yang mencapai usia seratus tahun tidak memiliki penyakit serius,” kata Ben Shenhar. "Ini gila! Harus ada gen yang melindungi mereka dan sekarang hal ini bisa diteliti lebih spesifik.” Terutama karena pengaruh faktor eksternal terhadap harapan hidup semakin berkurang.
Bidang lain, di mana faktor eksternal sebelumnya diabaikan, juga bisa ditinjau ulang. "Mungkin kita melihat banyak penyakit genetik dengan kacamata yang salah,” kata Scheibye-Knudsen. Menyingkirkan gangguan eksternal seperti kecelakaan, penyakit infeksi, atau kematian akibat kekerasan bisa membantu analisis gen lebih jelas. "Dan jika kita bisa mengidentifikasi gen untuk penyakit tertentu, kita bisa memanipulasinya.”
Pada akhirnya, pesannya tetap sama: yang ingin hidup panjang haruslah berolahraga teratur, makan sehat, dan menjaga pertemanan. Jika hidup panjang adalah harapan Anda.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh: Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid