1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SeniJepang

Yayoi Kusama, 96 Tahun: Dari Halusinasi Jadi Seni Terkenal

13 Maret 2026

Yayoi Kusama, seniman kontemporer terkenal asal Jepang, akan segera berusia 97 tahun, tapi karyanya begitu relevan hingga kini. Sekarang, giliran Museum Ludwig di Köln yang menampilkan retrospektif seniman ini.

https://p.dw.com/p/5AIIS
Seniman Jepang Yayoi Kusama berpose di depan lukisannya yang berjudul ‘Love Arrives at the Earth Carrying with it a Tale of the Cosmos’ di Tate Modern, London
Rambut pendek merah adalah ciri khas Yayoi Kusama, seniman kontemporer yang karya-karya seninya dikenal karena penggunaan titik-titik (polka dots) dan pola berulangFoto: Kirsty Wigglesworth/AP Photo/picture alliance

Yayoi Kusama adalah salah satu seniman kontemporer terbesar Jepang. Di Instagram ia begitu dikenal dengan karyanya "Infinity Rooms”, yakni instalasi dalam ruang tertutup yang bisa dimasuki pengunjung. Seluruh ruangan tersebut dilapisi cermin dan titik-titik cahaya serta bola-bola polkadot besar.

Dibalik karya-karyanya yang ceria dan menyenangkan, tersimpan kisah seorang perempuan yang harus menghadapi banyak tantangan sosial dan kesehatan yang luar biasa.

Saat berusia sekitar sepuluh tahun, untuk pertama kalinya Yayoi Kusama mengalami halusinasi. Pola titik dan jaring muncul di matanya dan menutupi semua yang ia lihat.

Menurutnya, pemicu halusinasi itu adalah stres psikologis karena ibu yang tidak menyayanginya mencoba menghentikan Kusama untuk melukis dan memaksanya mengikuti perilaku tradisional.

Halusinasi itu tetap bersamanya hingga kini, tetapi Kusama belajar hidup dengan halusinasi itu dan mengubahnya menjadi seni. "Karya seni saya adalah ekspresi dari hidup saya, terutama dengan penyakit mental saya," kata Kusama kepada Bomb Magazine.

Setelah menempuh pendidikan di Kyoto School of Arts and Crafts, Kusama menggelar pameran pertamanya di Jepang. Ia tidak menyembunyikan gangguan mentalnya, yang pada masa itu merupakan hal yang sangat tabu.

"Luar biasa bagaimana Kusama terbuka akan hal ini," jelas Stephan Diederich, kurator retrospektif besar Kusama di Museum Ludwig, yang akan berlangsung mulai 14 Maret.

"Baginya, seni adalah strategi bertahan hidup dan terapi diri, yang selalu ia komunikasikan ke publik tanpa membuat (gangguan psikologis) tersebut sebagai fokus utama,” tambahnya.

Seorang anak kecil berfoto di ruangan yang diikelilingi motif polkadot, sebuah instalasi Yayoi Kusama berjudul “Dots Obsession” di Hong Kong (2023)
Ruangan diikelilingi polkadot, instalasi Yayoi Kusama “Dots Obsession” di Hong Kong (2023)Foto: Daniel Ceng Shou-Yi/ZUMA/picture alliance

Kenapa Kusama lari ke New York?

Di Jepang, kehidupan sang perempuan muda yang lahir di tahun 1929 itu begitu dibatasi.

''(Orang tua saya) terus-menerus mencoba memaksa saya menikah dengan pria yang belum pernah saya temui," kisah Kusama kepada penulis Andrew Solomon, sambil menggambarkan awal usia dua puluhannya sebagai "masa keruntuhan mental saya”.

Ia merasa semakin seperti "penjara, dikelilingi tirai penghilang kepribadian”. Akhirnya, ia melepaskan diri dari peran tradisional perempuan di Jepang pascaperang dan pada tahun 1958 pergi ke New York.

"Dia luar biasa percaya diri dan teguh dalam tekadnya untuk menapaki jalannya sendiri dan membangun karier," kata Diederich. Ibunya memberinya bantuan keuangan dengan syarat ia tidak kembali lagi ke Jepang.

Seniman Georgia O'Keeffe, yang sebelumnya menerima beberapa karya Kusama, membantunya menapaki karier sebagai seniman di benua baru. Kusama sering bekerja sepanjang hari, menciptakan banyak karya.

Tidak lama kemudian, ia menjadi bagian dari kelompok seniman dan intelektual eksklusif terdepan di New York lewat pola jaring monokrom "Infinity Nets” yang mencuri perhatian pada pameran pertamanya.

Dengan elemen yang sama ia terus menciptakan karya baru. Penggunaan eleven yang sama membuatnya memiliki kesamaan dengan Andy Warhol. Patung kainnya, sering berbentuk falus, mengingatkan pada karya Claes Oldenburg yang lahir di waktu yang bersamaan.

Seorang pengunjung sedang melihat karya Yayoi Kusama “Infinity Nets” dalam pameran di Tel Aviv pada tahun 2021
Karya Yayoi Kusama “Infinity Nets” dalam pameran di Tel Aviv pada tahun 2021Foto: Debbie Hill/UPI Photo/newscom/picture alliance


"Dia sangat sadar menciptakan ‘patokan' baru yang kemudian dijadikan rujukan oleh seniman laki-laki lainnya," jelas kurator Stephan Diederich. Namun, apakah Kusama yang pertama menciptakan ‘patokan' baru tersebut? Sulit dipastikan.

Dari segi komersial, seniman laki-laki lebih sukses daripada perempuan Asia muda ini. Hal itu menyebabkan Kusama melakukan percobaan bunuh diri, tapi keberuntunganlah yang menyelamatkannya.

Kusama pun mengekspresikan protes terhadap kesenjangan upah gender melalui patung Traveling Life (1964): sebuah tangga yang dipenuhi bentuk falus, di atasnya terdapat sepatu perempuan.

Falus adalah motif kerap yang digunakan Kusama untuk mengatasi "ketakutannya terhadap seks sebagai sesuatu yang kotor”, tulisnya dalam autobiografi 2002.

Seorang staf sedang melihat karya Yayoi Kusama “Infinity Mirrored Room” di Galerie Victoria Miro, London, tahun 2024
Yayoi Kusama “Infinity Mirrored Room” di London tahun 2024 Foto: Justin Ng/Avalon/Photoshot/picture alliance

Konsep utama: Kembali ke alam semesta dengan ‘penghapusan diri'

Saat Yayoi Kusuma pindah ke New York di saat bersamaan aksi protes terhadap Perang Vietnam dilakukan komunitas hippie. Aksi protes ini kerap diwarnai dengan pesta seks (yang tidak diikuti Yayoi Kusama).

"Mengapa orang-orang yang berbagi hasrat harus pergi berperang dan membunuh orang lain? Melalui seks bebas, harusnya dinding pemisah antara saya dan orang lain dapat dihancurkan,” tulis Kusama dalam otobiografinya.

Kusama pun sering melukis tubuh perempuan dan pria telanjang dengan titik-titik untuk membuat individualitas yang membatasi mereka menghilang. Konsep ini disebutnya sebagai Self-Obliteration (penghapusan diri - melensa identitas individu) dan ide inilah yang terlihat di seluruh karyanya: "Dengan 'menghapuskan' diri sendiri, kita kembali ke alam semesta yang tak terbatas," kata Kusama.

Kritik terhadap pasar seni ia tunjukkan pada 1966 dengan karya Narcissus Garden, ketika ia menempatkan 1.500 bola reflektif di halaman depan Biennale Venesia (tanpa diundang) dan menjualnya seharga dua dolar per bola hingga pejabat Biennale menghentikannya.

Instalasi Infinity Room Yayoi Kusama di Basel tahun 2026
Instalasi Infinity Room Yayoi Kusama di Basel tahun 2026 Foto: Stefan Boness/Ipon/picture alliance

''Saya ingin terkenal dan lebih terkenal lagi''

Pada tahun 1993, Kusama akhirnya diundang ke Biennale. "Itu adalah momen terbaik dalam hidup saya," kata Kusama kepada Financial Times. "Saya ingin menjadi terkenal dan lebih terkenal lagi," tambahnya. Sikap terbuka ini kemudian dikritik banyak orang.

Kini, ia sudah di puncak ketenaran dan tidak bisa lebih terkenal lagi. Tahun 2018 The Broad Museum di Los Angeles menjual 90.000 tiket pameran Kusama yang ludes dalam beberapa jam.

Tiket pameran Yayoi Kusama yang berlangsung selama satu tahun di Tate Modern, London, 2022 ludes dalam waktu singkat, Karya-karya Kusama pun berhasil dilelang hingga jutaan dolar.

Sejak 1973, Yayoi Kusama kembali tinggal di Jepang, di mana ia menjalani pengobatan untuk depresinya dan masuk ke klinik psikiatri tempat ia tinggal sekarang. Tentu, ia tetap produktif.

"Saya akan terus menciptakan karya seni selama gairah saya mendorong saya untuk melakukannya," kata Kusama kepada Bomb Magazine.

"Saya sangat terharu bahwa begitu banyak orang menjadi penggemar saya. (...) Saya percaya, saya baru akan mengetahui bagaimana orang menilai seni saya setelah saya meninggal. Saya menciptakan seni untuk menyembuhkan seluruh umat manusia.”

Museum Ludwig di Köln menampilkan retrospektif "Yayoi Kusama” dari 14 Maret hingga 2 Agustus 2026.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Prita Kusumaputri