1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
BencanaJepang

Fukushima Tetap "Tidak Bersahabat" 13 Tahun Setelah Bencana

13 Maret 2024

Tiga belas tahun setelah bencana nuklir terbesar kedua di dunia, upaya Jepang membongkar PLTN Fukushima mengalami sejumlah hambatan. Tapi keterlambatan itu berdampak kecil terhadap rencana jangka panjang TEPCO.

https://p.dw.com/p/4dQvC
Fukushima Daiichi
Tangki air disiapkan untuk memindahkan limbah cair di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, Agustus 2023Foto: Kyodo via REUTERS

Pada hari Senin, (11/3), Jepang memperingati 13 tahun bencana gempa bumi dahsyat dan tsunami pada bulan Maret 2011 yang menghancurkan tiga dari enam reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi.

Gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter itu memicu gelombang tsunami yang menggenangi empat bangunan reaktor dan memicu reaksi berantai di tiga reaktor yang menyebabkan peleburan inti atom. Akibatnya, puluhan ribu penduduk di kota Okuma, Fukushima, terpaksa dievakuasi akibat bahaya radiasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya terbesar dikerahkan untuk mengumpulkan sisa bahan bakar nuklir yang tercecer di sekitar reaktor demi mencegah radiasi. Operator pembangkit Fukushima, Tokyo Electric Power Co. atau TEPCO, memperkirakan upaya menanggulangi ancaman radiasi akan memakan waktu antara 30 hingga 40 tahun. Namun begitu, sebagian besar laporan terkait kemajuan proyek mencatatkan kemandekan dan keterlambatan.

TEPCO tunda uji coba

Pada bulan Januari, TEPCO mengakui harus menunda rencana uji coba penggunaan robot untuk memindahkan elemen radioaktif dari reaktor nomer dua. Rencana tersebut sedianya diselenggarakan pada bulan Maret setelah tertunda sejak 2021 akibat gangguan teknis.

TEPCO kini berencana menguji peranti berpengendali jarak jauh miliknya pada bulan Oktober, meski artinya terlambat tiga tahun dari jadwal semula.

Awal bulan ini, wahana drone dan robot yang dikirimkan ke gedung reaktor nomer satu juga mengalami gangguan. Kedua wahana harus ditarik mundur sebelum bisa menuntaskan misi memetakan lelehan elemen bakar nuklir di sekitar reaktor.

TEPCO, bagaimanapun, tetap bersikeras mengkaim telah membukukan kemajuan yang stabil dan optimis bahwa target operasi dalam jangka waktu 30 hingga 40 tahun masih bisa dicapai.

"Kami melaju dengan aman dan mantap dalam setiap tugas yang diperlukan untuk mencapai tujuan utama”, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan kepada DW.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Progres berkelanjutan

Perusahaan merujuk pada pencapaiannya sejauh ini, termasuk pemindahan semua bahan bakar nuklir bekas dari reaktor ketiga dan keempat, serta mengurangi rembesan air ke bagian bawah reaktor. Selain itu, TEPCO juga mengklaim keberhasilan dalam pengolahan air radioaktif sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Energi Atom Internasional, IAEA, sebelum dilepaskan ke Samudera Pasifik.

Vincent Gorgues, kepala staf Komisaris Tinggi Energi Nuklir Prancis dan salah satu dari tiga penasehat khusus bencana nuklir Jepang, membenarkan kepada DW betapa TEPCO mencatatkan kemajuan positif, meskipun masih menghadapi banyak tantangan.

"Proyek nuklir adalah hal rumit,” katanya. "Dari semuanya, proyek pembongkaran reaktor bersifat sangat unik dan menawarkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, terutama karena tingginya tingkat ketidakpastian mengenai kondisi awal fasilitas dan kesulitan dalam mengelola seluruh limbah radioaktif secara aman.”

Kerumitannya berlipat ganda di Fukushima, timpalnya.

Solusi Pembangkit Nuklir yang Aman

Keterbatasan akses

"Bahkan saat ini, akses ke gedung reaktor masih sangat sulit dan memerlukan intervensi jarak jauh, sembari menyelidiki dan menghimpun informasi tentang apa yang harus dilakukan, sebelum mempertimbangkan cara melakukannya. Hal ini adalah tantangan yang sangat besar," kata Gorgues.

"Ini bukan perlombaan, tapi pendekatan terstruktur, hati-hati, bertahap, yang pada setiap fase mengharuskan Anda meluangkan waktu, menentukan strategi terbaik dan menjamin keselamatan jangka pendek dan jangka panjang,” kata Gorgues, seraya menambahkan betapa radiasi masih berada di level "yang sangat tidak bersahabat."

"Pengumuman jangka waktu 30 hingga 40 tahun oleh TEPCO memiliki dua tujuan komunikasi: yakni menyadarkan publik tentang rentang waktu yang panjang, tapi tetap membatasi masanya agar tidak ditanggung lintas generasi."

Menurutnya, tantangan unik di Fukushima memang memaksakan perubahan jadwal operasi. "Saya ingin menekankan, bagaimanapun juga penundaan ini masih berskala kecil dan sebagian besar rencana telah tercapai,” katanya. "Menurut saya, dalam kondisi seperti ini, apa yang telah dilakukan merupakan pencapaian yang luar biasa.”

rzn/as

Kontributor DW, Julian Ryall
Julian Ryall Jurnalis di Tokyo, dengan fokus pada isu-isu politik, ekonomi, dan sosial di Jepang dan Korea.