1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiCina

Presiden Cina Xi Jamu Pebinsis AS di Balai Agung Beijing

27 Maret 2024

Jamuan dengan Presiden Xi Jinping digelar di Balai Agung Rakyat, Beijing, Rabu (27/3). Pertemuan tersebut dibayangi keraguan investor asing yang mengkhawatirkan regulasi baru akan meredam keleluasaan berbisinis di Cina.

https://p.dw.com/p/4eAUq
Presiden Cina Xi Jinping
Presiden Cina Xi JinpingFoto: Yao Dawei/Xinhua News Agency/picture alliance

Sebanyak 20 perusahaan hadir dalam pertemuan selama 90 menit dengan Presiden Xi Jinping di Balai Agung Rakyat, Beijing, Rabu (27/3), menurut dua narasumber anonim kepada kantor berita Reuters. Gambar yang disiarkan televisi pemerintah cuma menunjukkan sekelompok orang duduk mengitari karangan bunga raksasa berwarna merah, oranye dan hijau di Balai Timur.

Stephen Schwarzman, direktur utama Blackstone, perusahaan investasi terbesar di dunia, Raj Subramaniam, bos raksasa logistik FedEx dan Cristiano Amon, direktur utama Qualcomm, produsen semikonduktor, termasuk yang hadir dalam acara tersebut, klaim kedua narasumber.

"Perbedaan akan selalu ada," kata Xi Jinping seperti dilansir media nasional. "Karena manusia memang berbeda, dan bahkan anggota satu keluarga juga bisa saling berbeda," imbuhnya. "Tapi kami selalu berusaha mencari kesamaan dan membangun konsensus yang lebih besar. Hal ini berlaku baik untuk relasi antarbangsa atau di dalam keluarga."

Lebih lanjut Xi mengatakan; sejarah relasi Cina dan AS adalah sejarah pertukaran yang penuh persahabatan antara dua bangsa. "Semua orang di kedua negara selayaknya bisa melakukan lebih banyak pertukaran dan kerja sama."

Economy casts shadow over China's annual National People's Congress

Media-media pemerintah tidak membeberkan siapa yang hadir, kecuali bahwa Cina juga turut mengundang akademisi. Pertemuan itu sendiri digelar oleh Komite Nasional Relasi AS-Cina, Dewan Bisnis AS-Cina dan lembaga wadah pemikir Asia Society, hanya beberapa hari usai Forum Pengembangan Cina yang juga dihadiri ragam korporasi multinasional di dunia.

Pekan lalu, harian AS Wall Street Journal melaporkan, Cina berniat mewadahi pertemuan antara Xi dan kelompok lobi bisnis AS di Beijing. Sejauh ini belum jelas topik yang menjadi agenda pembahasan. Ketiga organisasi juga belum memberikan konfirmasi.

Ekonomi di persimpangan

Salah satu alasan yang kemungkinan menggerakkan pemerintah di Beijing untuk mengesampingkan konflik geopolitik dan memanjakan investor luar negeri adalah meredupnya denyut ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Cina selama dua tahun terakhir telah jauh melambat, terutama dibandingkan dengan era prapandemi ketika laju pertumbuhan selalu melampaui angka tujuh persen. Saat ini, proyeksi pertumbuhan yang diajukan pemerintah berkisar antara tiga hingga empat persen.

Decouple from China? Not quite yet

Salah satu isu utama adalah anjloknya investasi asing langsung, FDI, yang tahun 2023 lalu turun sebanyak delapan persen. Disebutkan, pelaku pasar mengkhawatirkan redupnya kebebasan ekonomi di Cina akibat disahkannya UU Anti Spionase, yang berdampak pada pencekalan dan penggeledahan terhadap korporasi asing.

Adalah Presiden Xi Jinping yang dinilai semakin memprioritaskan keamanan nasional di atas kepentingan ekonomi. Alhasil, perusahaan asing disergap ketidakpastian soal apa yang dianggap ilegal dan menghadapi risiko terciptanya pelanggaran tak disengaja. Kampanye pemerintah untuk mengundang investor asing diyakini belum akan mengusir keraguan tersebut.

Pertemuan di Balai Timur, Beijing, didahului insiden batalnya Perdana Menteri Li Qiang menghadiri pertemuan dengan investor luar negeri di Forum Pengembangan Cina, 24 Maret lalu. Absennya Li mencuatkan kritik tentang minimnya transparansi oleh pengelola perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Padahal, kesempatan bertukar pikiran dengan penguasa Cina sudah menjadi salah satu tradisi dan dianggap daya tarik utama forum bisnis di Beijing.

Presiden Xi sudah pernah melakukan pertemuan serupa dengan pelaku usaha di San Fransisco, di tengah lawatan ke Amerika Serikat, November 2023 lalu.

rzn/as (rtr,afp)